Kamis, 13 Maret 2014
Art-Psi Perkembangan 2011 ( Orangtua Asyik
Rusa dan Berguru
Dulu bangeeett...jaman masih sekolah, saya sering mendapat tugas untuk mempelajari beberapa pepatah atau kata-kata bijak.
Salah satunya adalah ini :
"Berburu ke padang datar, mendapat rusa belang kaki.
Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi."
Entah karena tertarik pada 'rusa belang kaki', atau 'bunga kembang tak jadi', saya malah menjadikan pepatah ini sebagai motivasi untuk belajar atau berguru.
Ternyata memang benar, karena arti pepatah ini sangat dalam. Yaitu, kalau mau menimba ilmu, menggali ilmu, atau menuntut ilmu, lakukanlah sampai tuntas. Jangan setengah-setengah. Pelajari dengan benar, pahami, praktekkan, latih berulang-ulang sehingga kita menjadi mahir. Agar kita menjadi bunga yang mekar berkembang.
Atau kalau mau menjadi rusa juga boleh...
Namun jangan menjadi rusa belang kaki. Karena konon katanya rusa belang kaki ini adalah rusa yang cacat, tidak mampu bergerak cepat.
Jadilah rusa yang lincah, yang mampu berlari melintasi padang rumput. Mampu menempuh perjalanan yang sulit dan penuh tantangan di alam bebas. Dan baru berhenti pada saat harus istirahat. Itu pun tetap harus dalam keadaan waspada dan siaga.
Yang penting...apa pun yang kita lakukan, laksanakanlah dengan sepenuh hati. Jangan sekedarnya. Agar kita dapat mencapai hasil yang terbaik dari diri kita.
Kita tidak akan dapat memacu diri bersaing dengan orang lain, sebelum kita dapat mengalahkan kemalasan dan keengganan saat bersaing dengan diri sendiri.
Yeaaaa...selamat berguru kepada rusa...
Semoga berkenan.
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Sabtu, 20 Februari 2010
Rabbit Diary 2010 (K-2 Foto Keluarga
Sebetulnya catatan yang ini tidak akan dipublikasikan. Kenapa ? Ini adalah rahasia kami berdua. Saya dan Grey One...eh, Robi.
Saya sendiri sampai meneteskan airmata ketika membacanya. Robi begitu pandai menyimpan perasaan dan kerinduannya, sehingga saya terhanyut ketika mendengar ceritanya.
Tetapi karena saya sudah berjanji kepada teman dan sahabat semua untuk menuliskan apa pun yang diorat-oret oleh Robi, jadi dengan berat hati catatan ini pun saya masukkan ke dalam laman Note saya.
Saya berpesan satu hal : tolong jaga perasaan Grey One...ah, Robi...dan siapkan tissu atau sapu tangan...Mana tahu akan diperlukan...
Bintaro, 19 Februari 2010
Salam sayang,
Ietje S. Guntur – mewakili Grey One
Art-Book Rabbit Diary 2010 (K-2
Serial : Pet Psychology
Start : 15/02/2010 21:12:07
Finish : 16/02/2010 11:53:50
FOTO KELUARGA
Hari Minggu, 10 Januari 2010.
Aku tahu, hari ini adalah hari Minggu. Tanda-tandanya...rumah Budhe kedengaran ramai dan hiruk-pikuk. Aku mendengar suara Budhe yang ceria memecah keheningan pagi. Dan nyanyiannya yang membahana dari kamar mandi....hmm...alamat hari cerah nih...Budhe sedang bagus mood-nya...hehehe...
Satu lagi tanda-tanda hari Minggu. Ada Pakdhe di rumah. Suaranya bergantian dengan suara televisi...hihi...Kata Emak, Pakdhe nggak bisa lepas dari tivi dan remote control. Pagi-pagi sudah di depan tivi, dan malam hari, pasti Pakdhe nonton tivi dulu, sambil memencet-mencet remote control tanpa henti. Pantesan Pakdhe dipanggil Pangeran Remote Control oleh Budhe...hahahaha...
Emak kan sering ikutan nonton tivi bareng Pakdhe. Sambil berselonjor, Emak menikmati tayangan film yang kadang-kadang agak menyeramkan juga. Itulah hebatnya Emak, walaupun hanya seekor kelinci, tapi pengetahuan Emak banyak sekali. Dari Emak juga kami belajar banyak tentang kehidupan ini.
Kata Emak, Budhe juga hobby memotret. Semua yang ada di sekitar Budhe pasti dipotret. Emak sudah berkali-kali dipotret sama Budhe, dalam berbagai posisi. Eeeh...aku jadi kepengen dipotret juga nih..hihi...buat bikin KTK...Kartu Tanda Kelinci...wakakakaka...
♥
Horeeeeee.....akhirnya kami akan difoto bersama-sama.
Pagi-pagi, kami dikeluarkan dari kandang. Dan seperti saat kami turun tanah, kali ini pun kami dijejerkan bersama-sama di lantai...(uuuh, kenapa di lantai siih...? licin..). Kami berdelapan mengambil posisi...hmm..tepatnya diposisikan agar bisa berbaris rapi. Bang Fer , sahabat keluarga Budhe, memegangi kami, agar kami tidak berlarian ke luar barisan. Ini pasti pekerjaan yang sulit, karena kami selalu bergerak kian kemari.
Emak berdiri di sudut, memperhatikan kami yang merayap-rayap di lantai licin. Aku berdiri di tengah, dan Grey Three di sebelahku. Grey Five dan Grey Six merapatkan tubuhnya di lantai. Masih gugup dengan perubahan situasi. Dari tempat yang hangat dan terlindung, sekarang di ruang terbuka dan dingin. Grey Seven, seperti biasa sudah nyelonong ke sisi yang lain. Dia paling tidak betah diatur siapa pun. Termasuk tangan-tangan manusia yang besar. Sejak kecil dia memang sudah menunjukkan jati diri, bahwa kelinci adalah mahluk bebas yang bisa melarikan diri ke mana pun kami mau....Waaah, kalau ada LSM Kelinci, pasti dia bisa jadi salah satu aktivisnya...hmmm...
“Abu sini...Abu...,” aku dengar suara Budhe memanggil Abu. Tapi Emak diam saja. Cuek. Dia malah bangkit dari selonjorannya, dan masuk ke dalam rumah Budhe. Barangkali Emak tidak suka difoto dalam keadaan lusuh seperti sekarang. Bulu-bulunya yang dulu tampak lebat dan berkilau bersih, sekarang kelihatan lusuh dan agak kotor. Emak pasti tidak suka kalau citranya sebagai kelinci cantik akan luntur gara-gara foto yang tidak tepat waktunya.
“Yeee...si Abu ngambek. Ayo, Abu...foto keluarga dulu.” Sambung yang lain. Emak masih cuek. Dia tidak mau difoto bersama kami. Barangkali dia berpikir, biar anak-anak saja yang difoto. Emak tidak mau lagi berfoto tanpa ada Ayah di sisinya. Itu pernah dikatakan Emak kepadaku, beberapa waktu lalu.
Berdiri berjajar begini, aku jadi ingat Ayah. Betul juga kata Emak, kami tidak lengkap tanpa kehadiran Ayah.
Emak bilang, Ayah harus dikembalikan ke kampung halamannya di Bandung karena di sini selalu mengacaukan situasi. Yaah, naluri kelinci padang rumput di dalam diri Ayah memang sedang bergolak. Dan karena tidak ada padang rumput untuk tempat menggali lobang dan menggigit akar-akar pohon yang dapat dijadikan sarang, maka Ayah pun menggigiti kabel listrik dan membuat lobang di bawah kasur tempat tidur .
Kebiasaan Ayah yang suka memanjat dan menggigit juga dipraktekkannya di ruang keluarga rumah Budhe. Bila tidak ada orang di sana, maka Ayah akan memanjat semua lemari buku, dan naik ke atas pesawat tivi. Apa maksudnya coba ? Itu kan berbahaya. Tapi Ayah tidak kapok, walaupun Budhe sudah berkali-kali memarahinya. Dasar Ayah...
Kalau saja kami tinggal di padang rumput atau di hutan, Ayah pasti menjadi orangtua yang luar biasa. Dengan ketrampilannya itu beliau bisa membuatkan lobang yang besar dan hangat untuk kami, aku dan adik-adik, dan Emak. Apalagi aku lihat, Emak dan Ayah saling mencintai, dan saling mendukung. Sayang...Ayah tinggal di tempat yang kurang tepat, pada saat yang kurang tepat pula...
♥
Aku masih melihat kian kemari.
Sesi foto yang tadi berlangsung kacau semakin ramai karena sekarang adik-adikku mulai menjerit-jerit lirih dan mencakar-cakar. Budhe meletakkan wadah makanan berupa pelet berwarna hijau dan orange di hadapan kami. Kata Emak, itu adalah makanan yang enak dan bergizi. Dibuat dari sari sayuran yang dipres hingga mudah dimakan.
Kami belum pernah makan pelet sebelumnya, walaupun kadang-kadang Budhe meletakkan makanan itu di kandang kami, untuk Emak. Sekarang adalah waktunya kami mencoba. Tapi bagaimana caranya ?
Seperti biasa Grey Seven yang mendahului. Dia memanjat ke atas tempat makanan, dan tiarap di situ. Wajahnya disurukkan ke dalam tumpukan makanan, lalu dia mulai mengunyah. Kami melihatnya, dan ikut-ikutan memasukkan kepala ke dalam makanan itu. Agak sulit juga menggigitnya, karena pelet yang ada di dalam wadah bergerak mengikuti dorongan mulut kami.
Aku mencicipi....hmmhh...rasanya enak. Aku belum pernah makan apa pun, dan ini adalah makananku yang pertama. Kami semua mencoba, mencicipi dengan ujung lidah kami. Grey Four bergidik...rupanya dia masih geli dengan jenis makanan seperti ini. Grey Eight memisahkan diri, dan menjauh dari kami. Diikuti oleh Grey Five yang suka ngambek.
Sekilas aku melihat ada kilauan lampu..., yang kata Emak adalah lampu blitz kamera Budhe. Waaah...aku jadi tahu sekarang, bahwa semua aksi dan gaya kami difoto oleh Budhe. Aku mencoba bergaya, tapi disundul oleh Grey Six yang ingin mencoba makan pelet di wadah. Aku tergeser dan nyaris terguling. Tubuhku menimpa Grey Three yang sedang merayap naik. Kami lalu jatuh bergulingan...saling bertindihan...waaah, senaaaang sekali...Aku jadi lupa, bahwa kami sedang disorot kamera...Aaah...dasar anak kecil...
♥
Selesai sesi foto, kami dibiarkan sejenak bermain di lantai yang licin. Emak datang mendekati kami, lalu ikut naik ke dalam kandang yang baru. Rupanya Emak senang dengan acara pemotretan dan kesempatan kami untuk menjadi model.
Kata Emak, dia pernah melihat Budhe memasukkan foto-fotonya di laman Facebook...halaaaah...bisa terkenal dong kami nanti, ya ? Moga-moga Budhe puas dengan gaya kami yang natural...asli gaya kelinci...dan tak lama lagi kami pun akan dipajang seperti Emak dan Ayah yang sudah terkenal lebih dahulu...
Siang yang menyenangkan itu pun berlalu dengan cepat. Aku dan adik-adikku sudah dikembalikan ke dalam kandang. Kami berebutan masuk ke dalam kardus, mencari posisi yang enak di tubuh Emak. Untuk menyusu.
Setelah lelah dengan acara foto keluarga itu, aku merasa mengantuk. Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat foto-foto kami yang tadi diambil Budhe.
Aku melamun...seandainya Ayah ada di sini, maka foto keluarga kami akan menjadi foto keluarga kelinci yang paling lengkap...tapi ya, sudahlah... semoga masih ada kesempatan untuk berfoto keluarga lagi dengan keluarga besar kelinci di rumah Budhe...hiiiksss....
Tanpa terasa airmataku meleleh...aku memang jadi mellow kalau ingat Ayah...Aku hanya bisa berdoa, semoga Ayah tetap mengingat kami...Dan aku juga berjanji, kalau aku nanti sebesar Ayah , aku tidak akan menggigit-gigit kabel dan memanjat-manjat pesawat televisi....
Semogaaaaaaa......
♥
Jakarta, 16 Februari 2010
Salam sayang,
Grey One
Special note :
Terima kasih ya, Budhe...nanti foto kami dipajang di kandang yaa...hihi..
Rabu, 17 Februari 2010
Rabbit Diary 2010 (K-2 Buka Mata, Buka Telinga
Saya betul-betul nggak sangka, kalau si Grey One itu serius. Betul, dia lagi semangat-semangatnya menulis buku hariannya. Hampir setiap hari dia mencoret-coret, dengan tangannya...eeh, maksudnya kaki depannya, dan hasilnya...sebuah kisah tentang kehidupan yang dilihat dari kacamata kecilnya (walaupun dia nggak pakai kacamata...hehe...).
Saya jadi tidak tega untuk membiarkan tulisannya hanya tersimpan begitu saja. Di sela-sela waktu kerja saya, di sela-sela ngantuk yang mendera, akhirnya saya sempatkan juga untuk menyalin kembali coretan-coretannya.
Inilah dia, secarik kisah perkembangan hidupnya bersama saudara-saudara kembarnya...
Selamat menikmati....
Jakarta, 15 Februari 2010
Salam hangat dari kami berdua,
Ietje dan Grey One
NB : Saya hanya menuliskan idenya lho...semua asli dari Grey One sendiri....(ietje).
Art-Book Rabbit Diary 2010 (K-2
Serial : Pet Psychology
Start : 15/02/2010 11:17:18
Finish : 15/02/2010 12:04:04
BUKA MATA, BUNGA TELINGA...
Sekarang tanggal 1 Januari 2010. Itu menurut catatan Budhe dan Emak. Jadi kami sudah berumur kurang lebih 1 minggu. Kami masih tinggal di dalam kardus, dengan berselimut bulu-bulu Emak. Iya...berbeda dengan hewan lainnya, kami memang masih konvensional. Lahir berselimut bulu dari orangtua, yaitu Emak tercinta.
Kami juga rentan terhadap cahaya. Maklum, sejak lahir kami masih buta dan belum dapat membuka mata. Kami hanya mengandalkan naluri untuk bergerak ke sana ke mari. Bahkan , seperti kata Emak, ketika kami lahir, kami hampir tidak memiliki bulu. Hanya bulu halus yang menutupi tubuh kami, lalu kuping yang kecil mirip cantelan, dan mata yang kelihatan besar tapi tertutup. Kaki-kaki kami juga begitu kecil, tidak berdaya. Dan kuku-kuku jari kaki kami pun sangat kecil. Mirip sebuah titik di ujung jari-jari kami. Lucu dan menggemaskan...hmm...
Iya...kami memang lucu...semua bayi adalah mahluk yang lucu...terutama kelinci...hehehe... narsis ya ? Iya neeh...udah bakat dan naluri turunan barangkali...uuhh....
Liang kelinci, seperti cerita Emak – yang didengarnya secara turun-temurun dari nenek-nenek kami, memiliki lika-liku yang rumit. Selain untuk pertahanan terhadap angin, lika-liku itu juga menghalangi air dan gangguan lain yang akan memasuki tempat tinggal kami. Itu sebabnya, jarang sekali terdengar berita bahwa ada kelinci hanyut karena kehujanan. Kami dibekali naluri yang sangat tajam mengenai cuaca. Kamu tidak akan percaya...bahwa kami bisa meramalkan banjir dan bencana kebakaran hutan. Itu sebabnya hidung kami selalu bergerak-gerak... mendengus dan membaui udara...
Eeeh...sabar dulu...kan tadi aku mau cerita tentang kelahiran kami, ya ?
Kembali ke naluri asal. Bahaya yang mengintai anak-anak kelinci memang sangat banyak. Di alam bebas kami menjadi santapan empuk kucing hutan dan keluarganya, anjing hutan, harimau ( aaah...ini sih pemakan segala jenis hewan), juga ular, burung elang, dan banyak predator lain.
Ketika kami sudah tinggal di desa dan kota, maka predator kami tetap kucing (heran ya...kenapa kucing doyan sama anak kelinci ?) dan juga anjing. Oya, kadang-kadang anak manusia yang masih kecil juga menjadi predator. Mereka menjadikan kami mainan, padahal kami belum cukup kuat untuk diangkat-angkat dan dibanting seperti kelinci karet. Itu sebabnya, perlindungan dari lingkungan sangat diharapkan untuk kelangsungan hidup kami.
Sementara itu Emak masih mondar-mandir dari ruang isolasi dan ke luar. Kata Emak, ia bertemu dengan ayah. Yang masih setia menunggu di luar ruangan. Tepatnya, ia bukan menunggu, tapi dilarang masuk ke ruangan bayi ! Ini karena keyakinan beberapa orang, yang mengatakan bahwa bapak kelinci suka memakan anaknya. Huuh...itu salah besar. Bagaimana kejadiannya di alam bebas sana, kalau setiap bapak kelinci memakan anaknya ? Itu tidak mungkin. Kelangsungan hidup kelinci bisa punah, kalau semua bapak kelinci menyantap anak-anaknya.
Ehh...sekarang aku cerita lagi nih tentang perkembangan diri kami.
Dalam umur seminggu, kami memang masih sangat kecil dan tidak bisa apa-apa. Kami hanya bisa berguling kesana kemari, dan saling mendekatkan tubuh satu sama lain agar selalu hangat. Kami hanyalah sekumpulan anak kelinci, yang lemah dan tidak berdaya. Dan hanya bisa bertahan dengan kebersamaan. Kami belum punya identitas apa pun. Saat itu aku belum tahu, bahwa kelak aku akan diberi nama Grey One. Kami hanya disebut ‘ Anak si Abu – Bronis’. Yaitu nama orangtua kami.
Bukan tidak sopan, tapi memang begitulah cara kami memperoleh makanan. Berebutan untuk bertahan. Itu sebabnya, kelinci yang lemah dan cacat akan mati terinjak oleh saudaranya sendiri. Dan Alhamdulillah...kami semua adalah kelinci yang kuat dan sehat. Sehingga walau tiap saat kami terinjak dan harus berguling-guling, tapi kami tetap bertahan. Kata Emak, itu adalah cara belajar yang alamiah. Emak tidak mengajari kami berguling, tapi kami ternyata bisa melakukannya sendiri...
Ini adahal hari kesepuluh kelahiran kami.
Setelah berguling-guling selama berhari-hari, dan hanya mampu merayap sedikit dari satu ujung kardus ke ujung yang lain. Aku mencoba membuka mataku. Woooww...silau...
Kata Emak, mata kelinci memiliki ketajaman yang luar biasa. Kami bisa melihat jauh ke segala arah , bahkan elang di langit pun bisa kami lihat. Hanya saja, karena elang memiliki kecepatan terbang luar biasa, kadang-kadang kalau kami jauh dari liang di padang rumput, burung elang masih dapat menyambar anak-anak kelinci yang kurang waspada.
Aku berguling lagi...mencoba melihat cahaya yang masuk melalui celah-celah kardus. Dalam hati bertanya : Seperti apakah dunia di luar sana ?
♥
Salam sayang,
Grey One
Special note :
Terima kasih untuk Budhe...Yang sabar, ya Budhe...cerita aku masih banyak niiih...Jangan lupa tulis terus ya, Budhe Sayang...mwaaah...
Rabbit Diary 2010 (K-2 Buku Harian Grey-One
Mungkin agak aneh, ya...kenapa saya menurunkan tulisan ini di dalam laman Note Facebook saya. Tapi tidak apa-apa khan ? Saya menemukan catatan orat-oret ini...khas remaja...dan saya mengintipnya. Lalu, dengan seijin pemiliknya, si Grey, saya menyalinkannya untuk teman dan sahabat semua.
Percayalah...ini semua asli catatannya. Tidak ada rekayasa. Dan tidak ada maksud untuk menjadikannya seperti Rabbit-taintment.
Selamat membaca...semoga ada yang dapat kita pelajari dari catatan kecil si Grey One ini.
Jakarta, 14 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Art-Book Rabbit Diary 2010 (K-2
Serial : Pet Psychology
Start : 14/02/2010 22:29:16
Finish : 14/02/2010 22:59:16
BUKU HARIAN GREY-ONE...
Namaku Grey One. Aku seekor kelinci. Iya...aku kelinci. Dan aku mau menulis buku harian. Heran ? Kenapa heran ? Memangnya tidak boleh kelinci punya buku harian ?
Oke...kamu tidak percaya kalau aku mau menulis buku harian. Tidak apa-apa. Tapi percayalah, kamu akan suka cerita-cerita tentang pengalamanku.
Oya, sebelum menulis buku harian ini, aku akan memperkenalkan diri dulu. Aku adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Ibuku, kami memanggilnya Emak, karena terasa lebih mesra.
Ayahku, Bronis. Kami tidak mengenalnya. Tidak sempat bertemu dengannya. Tapi Emak yang menceritakannya. Kata Emak, ayahku adalah kelinci keturunan yang bagus sekali. Bulunya berwarna coklat keemasan, seperti kue bronis. Itu sebabnya ia diberi nama Bronis.
Bulu emak agak panjang, tapi tidak sampai menutupi matanya. Kupingnya tegak, tanda bahwa beliau selalu siaga. Tetapi kalau ia sedang bersantai, di bawah meja makan, maka kupingnya agak merunduk sedikit. Oya, perlu aku jelaskan, seperti kata Emak, beliau sangat bebas berkeliaran di seluruh rumah tempat tinggal kami. Tidak di dalam kandang seperti biasanya kelinci lain. Tetapi sejak kelahiran kami, beliau harus tinggal di dalam kandang, agar bisa menyusui dan mengawasi pertumbuhan kami. Hanya sekali-sekali beliau dikeluarkan dari kandang, untuk beristirahat dan melemaskan otot-ototnya agar tidak kaku.
Sekarang aku mau cerita tentang keluarga kami.
Aku dan tujuh saudaraku yang lain dilahirkan tanggal 25 Desember 2009. Tentu saja kami tidak lahir bersamaan. Kata Emak, beliau mulai melahirkan sejak lepas tengah hari, hingga malam hari. Barangkali begitulah proses kelahiran kelinci. Satu persatu selama beberapa jam. Kelahiran kami berdelapan disambut gembira oleh orang-orang di rumah tempat tinggal kami. Ada Budhe, kami menyebutnya demikian dan Pakdhe. Itu yang sangat repot dengan kelahiran kami.
Mungkin karena pengalaman sebelumnya, seperti kata Emak, kakak-kakak kami mati tak lama setelah dilahirkan. Saat itu Emak sangat takut karena belum berpengalaman. Emak bersembunyi di ruang kerja Pakdhe, dan membiarkan kakak-kakak kami kelaparan dan kedinginan. Emak sendiri juga merasa lapar, tapi ia takut makan. Perutnya sakit. Dan ia hanya bisa merintih pelan.
Tidak mau kejadian yang sama terulang lagi, seluruh keluarga besar kami bergotongroyong menyelamatkan kami. Kami dan Emak diberi tempat di dalam kardus yang besar dan hangat, dan ditempatkan di sebuah ruang khusus. Kata budhe, sampai anak-anak kelinci cukup besar untuk dipindahkan ke dalam kandang. Di dekat kardus itu ada makanan dan air minum untuk Emak, sehingga ia tidak perlu jauh-jauh meninggalkan kami kalau sedang lapar dan ingin makan.
Emak ini kelinci istimewa, ia tidak hanya makan sayuran. Ia penggemar segala makanan, termasuk kue-kue, roti, kerupuk, pelet khusus kelinci, kacang rebus, dan banyak lagi. Mungkin itu sebabnya bulu Emak sangat bagus dan terawat. Tapi...itu sebelum kelahiran kami...hehehehe...
Setelah kelahiran kami, Emak mendengar kehebohan tentang penyebutan nama. Karena kami semua berwarna sama, agak keabu-abuan, maka diusulkan untuk memberi nama panggilan Grey. Itu adalah usulan Kakak Cantik, anak Budhe dan Pakdhe. Entah kebetulan atau tidak, kelahiran kami tepat sehari sebelum kepulangan Kakak Cantik dari luar negeri. Dia bersekolah di Inggris, sehingga nama kami pun disebut seperti nama Inggris. Grey. Keren juga sih. Tapi kalau delapan ekor kelinci namanya sama, apa hebatnya ? Padahal aku sangat ingin nama yang agak macho. Robi atau Roni. Tapi manalah mungkin. Kalau Budhe dan Pakdhe sudah memanggil kami ‘Grey’...berarti kami semua harus datang.
Nanti aku ceritakan kebiasaan-kebiasaan kami masing-masing. Dan bagaimana kami tumbuh bersama, hingga tiba saatnya kami harus berpisah. Iyalah...kandang yang tadinya cukup untuk kami berdelapan ditambah Emak, semakin hari semakin sesak rasanya. Kami tidak bisa berlarian dan melompat-lompat lagi di dalamnya.
Aku akan menulis satu persatu cerita tentang keseharian kami. Kuharap, sejak ini kamu akan tahu cerita tentang keluarga kami. Dan keluarga kelinci lain yang tinggal bersama kami.
Salam sayang,
Grey One ( yang masih ingin dipanggil Robi si Kuping Panjang)
Special note :
Thanks untuk Budhe yang mau menyalinkan buku harian ini, dan menjadi sebuah catatan perjalanan yang menyenangkan.
Rabu, 30 September 2009
Perkawinan...
Suatu hari seorang sahabat saya bilang begini, “Tje, tulislah tentang perkawinan”. Hmm...perkawinan ? Tentang apanya ? Tentang sebuah perkawinan yang ideal ? Wooww...beraaat nih...
Kenapa ? Karena perkawinan itu memang bukan urusan mudah. Yang belum mengalaminya, kepengen buru-buru memasuki gerbangnya. Dan berharap seperti cerita putri-putri jaman dahulu kala, dengan kisah seperti ini ...”maka mereka pun hidup berbahagia selamanya...”.
Di sisi lain, orang yang sudah berada di dalam perkawinan, sering kali merasa bahwa perkawinan itu seperti bubu ikan, atau perangkap tikus...Mouse Trap. Dan mereka sekuat tenaga ingin lari atau melompat dari situ, dengan berbagai cara.
Namun apa pun kondisinya, perkawinan tetaplah sebuah misteri. Tidak ada perkawinan yang ideal, yang cocok untuk semua orang. Ibarat obat, semua harus sesuai dosis dan umur. Perkawinan adalah proses...sebuah perjalanan...dan tidak bisa instan. Tidak ada perkawinan ala kopi 3 in 1, yang cukup diseduh dengan air panas dan dinikmati rasanya. Perkawinan adalah sebuah adonan, yang tiap hari bisa berubah rasanya.
Hmmm...mumpung saat ini saya sedang berdebar-debar dan berbahagia...saya ingin sharing...berbagi pengalaman sedikit tentang perjalanan sebuah perkawinan...
Selamat menikmati...semoga berkenan....
Salam sayang,
Dari pojok Bintaro yang hening....
Ietje S. Guntur
Art-Living Sos 2009 (A-9
Rabu, 30 September 2009
Start : 30/09/2009 8:57:58
Finish : 30/09/2009 12:08:50
PERKAWINAN...
SEKOLAH YANG TAK PERNAH SELESAI
Besok, tanggal 1 Oktober adalah hari ulang tahun perkawinan saya. Dengan suami saya, yang saya sebut dengan panggilan sayang : Pangeran Remote Control. Ulang tahun ke 26. Hmm...Alhamdulillah...
Artinya....selama 26 tahun ini saya sudah hidup bersama dengan seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal. Seseorang yang memiliki begitu banyak perbedaan dengan saya. Namun, karena sebuah komitmen, jadinya kami dapat menjalankan kehidupan ini bersama-sama.
Berbeda ? Ya, iyalah...Coba lihat, betapa banyak perbedaan antara saya dan Pangeran.
Yang pertama, berbeda jenis kelamin...hehehehe...iya, ini penting. Kalau kelamin tidak berbeda, untuk apa saya menikah dan berumahtangga dengan dia ? Perbedaan ini juga yang kelak, di dalam perjalanan hidup bersama, membuat saya dan dia selalu tarik ulur. Selalu berusaha saling memahami, sekaligus bertanya-tanya : Apa sih yang salah dengan dia ? Kok dia tidak bisa memahami saya ? Apakah dia tidak tahu, kalau saya punya siklus hormonal yang mempengaruhi pemikiran saya, perasaan saya, dan nafsu-nafsu saya ? uuuhh....
Untunglah kami berbeda !
Yang lain adalah perbedaan bentuk fisik....Hmmm...Saya suka sama dia, dan dia suka sama saya, karena kami sama-sama berbeda. Saya perempuan, dengan segala lekuk tubuh kewanitaan yang berbeda dengan dia yang serba berotot di mana-mana. Saya lebih pendek beberapa sentimeter dari dia, dan ini menguntungkan saya. Jadi, untuk meraih barang yang ada di lemari, saya tinggal teriak, memanggil dia dan meminta tolong dengan wajah memelas. Saya juga lebih mungil dari dia. Jadi dalam keadaan terpaksa, saya bisa memanjat pagar atau menyelipkan tubuh di antara dahan pohon untuk membuka pintu dan mengambil sesuatu yang tersangkut di sana.
Ada lagi. Soal sifat dan karakter. Saya bawel dan cerewet seperti petasan banting. Sekali ngoceh, tidak bisa berhenti. Terus menerus mengalir seperti banjir. Dia (agak) pendiam. Jadi kalau saya mau mengoceh panjang lebar, dari urusan yang penting seperti urusan kenaikan harga-harga kebutuhan rumahtangga hingga urusan tidak penting tentang ‘siapa yang harus memberi makan burung dan kelinci ?”, maka dia akan menyediakan telinganya untuk mendengarkan. Sambil pura-pura budeg dan terus asyik dengan pencet-pencetan tombol remote control televisi...hehehe...
Masih ada. Soal selera makan. Hmmm...ini nih yang kadang sederhana, tapi bisa ribet urusannya. Pangeran Remote Control, doyan makan apa saja. Dari mulai buah-buahan, sayuran (terutama kuahnya), tempe, tahu hingga daging yang diproses segala macam. Kecuali ikan ! Saya nyaris sebaliknya. Tidak begitu doyan makan, tapi sangat suka ikan. Dari mulai ikan besar sekelas tuna dan cakalang, hingga ikan mini teri-teri sebesar jarum.
Urusan makanan ini akhirnya kami jadi saling bertoleransi. Saya yang semula sangat anti masuk dapur, mau tidak mau belajar untuk memasak dan menyediakan masakan yang disukai oleh Pangeran – dan belakangan ditambah anak semata wayang kami, si Cantik. Saya belajar memasak, dari yang sederhana seperti menggoreng telor mata sapi – yang pinggirnya kering keriting dan tengahnya basah setengah matang, hingga masak yang rumit seperti rendang, gulai otak sapi dan sambel goreng ati yang tidak boleh terlalu kering, dan membutuhkan bumbu dan teknik memasak yang khusus.
Saya yang semula sempat menjadi anti masakan daging apalagi jeroan, mau tidak mau terpaksa ikut mencicipi sekali-sekali. Bahkan paket opor bidadari dan lauk pauk hidangan lebaran yang komplit itupun bisa saya lakukan karena kesabaran Pangeran Remote Control mencicipi masakan saya. Mulai dari yang kurang asin, keasinan, kebanyakan bumbu dan kurang gurih sampai jadi seperti sekarang yang uenaksss dan mantaps...
Banyak lagi perbedaan di antara kami, yang membuat saya jadi menyadari, bahwa ternyata ada orang yang berbeda. Bahwa ada orang seaneh dan seunik dia. Bahwa ada orang yang bisa berpikir sangat berbeda, dan sering tidak masuk di akal saya. Bahwa ada orang yang bisa menyelesaikan masalah rumit dengan sekali jentik jari, tetapi kerepotan untuk membuka tutup kaleng atau mencari tempat yang tepat untuk menyimpan sendok dan garpu.
♥
Saya jadi termenung.
Kalau begitu banyak perbedaan, lalu apa persamaan yang membuat kami dapat bersatu dan hidup bersama selama puluhan tahun ? Yang jelas, kami punya satu persamaan mutlak, yaitu : sama-sama kepala batu !
Hahahaha...iyaaaa...Saya ini memang biangnya ngotot dan keras kepala. Suami saya juga tak kurang-kurangnya kepala batu, alias keras hati !
Tapi anehnya....dan syukurnya juga, bahwa sindrom kepala batu kami jarang kumat bersamaan. Pada saat saya ngotot, dia diam saja. Dan sebaliknya, pada saat dia ngotot, saya cuek saja...huehehehehehe....
Begitu juga, soal ide. Pada saat ide saya membanjir seperti air, dia Cuma diam. Tidak menanggapi, tidak bereaksi apa pun. Sementara kalau dia sedang berpidato panjang-panjang mengenai ide-idenya ( yang sering aneh dan out of topic), saya pun hanya diam dan mencatat. Menyimpannya di dalam hati, mana tahu besok-besok dia lupa dan menanyakannya lagi kepada saya.
Jadiiiii....kalau mau dihitung dan dijumlahkan, antara perbedaan dengan persamaan, kayaknya antara saya dan Pangeran Remote Control, memang lebih banyak perbedaannya. Sangaaat banyak ! Tapi justru itu yang menantang, itu yang mengasyikkan, itu yang tidak membosankan. Karena setiap hari selalu ada pertanyaan : Apakah besok dia masih seperti itu ?
Dan kalau ada pertanyaan : apakah kamu bosan dengan dia ? huuuuu...jelas ! Siapa yang tidak bosan hidup bersama dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, berpuluh tahun. Setiap hari ?
Justru di situ juga tantangan yang menarik ! Bagaimana saya, si Kepala Batu ini, si Manusia tidak sabaran dan petasan banting ini, bisa bertahan, bisa mengelola kebosanan menjadi keasyikan...hihihi...
Kalau dia menyenangkan setiap waktu. Kalau dia selalu menurut dan selalu seperti sebuah pola yang gampang terbaca. Maka dia bukan hanya membosankan, tetapi juga menyebalkan....hehehehe...Tapi untunglah...dia selalu berubah-ubah, sehingga ketika rasa bosan itu datang, maka saya tertantang lagi untuk menaklukkan perubahan dan keanehan yang unik itu. Barangkali, dia pun sama seperti saya. Karena saya tidak punya pola yang menetap, jadi biarpun cape...ya, dia terpaksa menerima si Kepala Batu yang suka ngeyel ini untuk menjadi mitranya...hmmmh...
♥
Perjalanan perkawinan saya pun akhirnya bergulir.
Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Tidak selalu mulus. Karena menyatukan dua orang yang sama saja pun sulit, apalagi menyatukan dua orang – plus dua keluarga besar dengan banyak budaya yang berbeda. Sulitnya lebih-lebih dari menuntut ilmu di bangku sekolah.
Kalau sekolah, kita punya tujuan dan target waktu tertentu. Kita punya prestasi yang diukur dengan nilai-nilai tertentu. Ada buku raport yang menunjukkan pencapaian yang telah kita peroleh selama menempuh pendidikan dan menuntut ilmu.
Sebuah perkawinan dan rumahtangga adalah sebuah hal yang berbeda.
Tidak ada perkawinan yang sama. Tidak ada kurikulum dan nilai yang menentukan, sebuah perkawinan sukses atau gagal. Raport merah di dalam sebuah perkawinan yang satu, barangkali masih raport hijau di perkawinan yang lain. Dan masing-masing harus menerima penilaian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bukan pihak ketiga atau keempat !
Saya menjalani sekolah perkawinan ini bersama Pangeran Remote Control. Membuat kurikulum dan target yang setiap saat berubah. Menentukan visi dan misi yang setiap saat bisa dievaluasi. Yang jelas, kami harus selalu siap menerima perubahan itu.
Itulah...sekolah perkawinan itu masih terus bergulir. Saya tidak tahu, kapan kami naik kelas, atau harus mengulang di kurikulum yang sama. Kami pun tidak tahu, kapan kami disebut sukses atau gagal. Semua adalah proses.
Perkawinan memang aneh dan unik. Itu adalah ibarat sebuah sekolah yang tak pernah selesai....Dan saya beruntung, masih berada di dalamnya bersama dengan Pangeran Remote Control, suami saya yang tercinta....
Jakarta, 30 September 2009
Untuk sebuah kebersamaan yang unik dan penuh tantangan..
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih tidak terhingga untuk Guntur, My Pangeran Remote Control yang masih sabar mendampingi dan belajar bersama-sama di Sekolah Perkawinan ini...Perkawinan kita memang tidak sempurna, tapi inilah yang cocok untuk kita....hehehe...Juga buat Dhani, si Cantik kesayangan kami, yang membuat Sekolah Perkawinan kami menjadi lebih semarak dan penuh warna. Juga semua keluarga besar, yang memberi warna-warni, nilai, budaya dan menjadikan kami orang yang semakin kaya dan (mudah-mudahan) tambah bijaksana...hmmm...Oya...untuk kelinci-kelinci kami yang manja dan inspiratif, tokek di pohon yang selalu memberi tanda, dan burung-burung yang menjadi cermin kehidupan kami sehari-hari...I love U allz....