Art-Psikologi Perkembangan 2011
Tuesday, September 06, 2011
Start : 9/6/2011 7:59:31 AM
Finish : 9/6/2011 9:29:14
AM
MENJADI ORANGTUA YANG ASYIK…
Suatu hari seorang sahabat,
yang usianya jauuuuuh di bawah saya, bertanya ,” Mbak, gimana sih caranya menjadi
orangtua yang asyik ?”
Haaa…??? Pikir saya, orangtua
asyik ? Asyik untuk siapa ? Untuk diri sendiri, atau untuk anaknya dan
keluarganya ?
Saya jadi berpikir-pikir, iya
juga ya…kita lahir dan dibesarkan oleh orangtua kita, dengan cara mereka.
Dengan pola asuh yang mereka pelajari dari orangtuanya lagi, alias nenek dan
kakek kita, yang belajar juga dari nenek-nenek dan kakek-kakek mereka. Begitu
turun temurun…Ada pola asuh anak…dari orangtua ke anak. Dari generasi ke
generasi. Naaah, tapi bagaimana supaya menjadi orangtua yang asyik ? ini
diaaaa….Saya pun sebenarnya kepingin menjadi orangtua yang asyik, mengasyikkan
bagi saya, dan mengasyikkan bagi anak dan keluarga saya. Tapi bagaimana caranya
? Mari kita simak bersama-sama.
BELAJAR
DARI PENGALAMAN
Coba kita amati. Kedua orangtua
kita, saat mereka mengasuh dan membesarkan kita. Apakah mereka pernah sekolah
untuk menjadi orangtua ? Tidak ! Mereka belajar dari pengalaman. Pengalaman
orangtua mereka, pengalaman dari teman-temannya. Mereka berusaha untuk mencocokkan
pengalaman orang lain dan menjadikannya pola asuh bagi anak-anaknya. Hasilnya,
seperti juga sebuah percobaan, pasti ada trial dan errornya…ada benar dan ada
salahnya.
Mereka, dengan pola lama, di
mana seluruh anggota keluarga berpartisipasi dalam mengasuh anak-anak di dalam
keluarga, maka beban orangtua dirasakan tidak terlalu berat. Ada ibu, ayah,
nenek, tante bahkan keponakan-keponakan yang cukup besar dapat diandalkan untuk
membantu mengasuh kita. Jadi tidak heran, bila satu keluarga memiliki tata
nilai dan tata krama yang sama. Hasil pendidikannya pun mirip-mirip, tidak jauh
berbeda satu dengan lainnya.
Ketika tiba giliran kita, saat
ini, apa yang kita lakukan ?
Menjadi orangtua adalah
pengalaman yang luar biasa. Ketika kita baru menikah, kita sudah membayangkan
akan melakukan ini-itu kepada anak-anak kita kelak. Namun ketika saat itu
datang, kita seringkali gelagapan dan gugup. Terutama ketika anak kita tidak
sesuai dengan gambaran yang ada di dalam benak kita. Tidak terbayangkan,
bagaimana caranya berkomunikasi dan mengasuh anak setiap hari tanpa henti. Lihat
saja : 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Nonstop ! Wooww…
Sejak anak lahir, di hari
pertama, kita sudah mengalami hal yang luar biasa. Terutama bagi ibu, yang
selama kurang lebih Sembilan bulan membawa bayinya kemana pun pergi, tiba-tiba
melihat wujud nyata di hadapannya. Pengalaman saya sendiri, ketika pertama kali
melihat putri cantik saya, saya bingung luar biasa. Bila ada orang yang
bertanya, “ Apakah kamu bahagia memiliki anak ?” Jawabannya saat itu adalah ,”
Bingung ! Takjub. Dan tidak tahu harus berbuat apa dengan mahluk kecil ini.”
Barangkali perasaan itu juga
dialami oleh banyak ibu yang lain, terutama pada kelahiran anak pertama mereka.
Walaupun sering dikatakan, bahwa setiap ibu yang melahirkan anak akan memiliki
naluri keibuan, tapi pada kenyataannya keheranan dan kebingungan di menit-menit
pertama dan hari-hari pertama ( bahkan mungkin seminggu dua minggu pertama)
tetap muncul dan menggelayut di hati kita. Pada saat inilah sebenarnya dukungan
dari keluarga, terutama suami – yang tentu saja sama bingungnya, walaupun
mereka suka jaga image…hehe – dan anggota keluarga lain sangat diperlukan.
ISTIRAHAT
dan DUKUNGAN SUAMI
Yang paling dibutuhkan oleh
seorang ibu yang baru melahirkan di menit-menit pertama dan hari-hari pertama
setelah melahirkan adalah beristirahat ! Betul. Otak dan perasaan seorang ibu
kadang belum terkoneksi dengan baik. Perubahan fisik maupun psikologis dari
masa kehamilan yang panjang, dan tiba-tiba mengalami kekosongan membutuhkan
waktu penyesuaian diri. Tidur yang pulas beberapa jam akan memulihkan kondisi
fisik, dan juga dapat menenangkan psikologis seorang ibu yang baru melahirkan.
Sikap suami, dalam mendukung
proses kelahiran dan juga penerimaan terhadap anak akan sangat membesarkan hati
seorang ibu. Ini sangat penting. Kadang-kadang di dalam masyarakat kita,
kelahiran anak laki-laki lebih diharapkan daripada kelahiran anak perempuan.
Sehingga seorang ibu yang melahirkan anak perempuan, kadang merasa kecil hati
dengan sikap dan penerimaan keluarga terhadap kelahiran anaknya. Dalam hal ini
kebijaksanaan dan dukungan suami sangat diperlukan. Suami, sebagai ayah baru,
harus satu hati dan satu kata dengan isteri. Apa pun jenis kelamin anaknya, bagaimana pun kondisi anaknya, harus diterima
dengan hati terbuka. Sikap inilah kelak yang akan menentukan perilaku ibu
terhadap anaknya, apakah dia merasa bahagia atau justru kecil hati karena
kecewa.
Ibu yang bahagia dan bangga
kepada anaknya, akan bersikap menerima anaknya apa adanya. Mereka dengan
gembira akan tumbuh bersama, menggali potensi yang dimiliki anaknya, dan
mengembangkannya bersama-sama pula. Ayah sebagai kepala keluarga akan menjadi
panutan bagi ibu-anak, dan pada akhirnya menjadi tim yang solid sebagai sebuah
keluarga. Nilai-nilai orangtua pun akan lebih mudah diserap dan diterapkan,
karena semua pihak merasa memiliki andil di dalam kebersamaan itu.
POLA
BANGUN dan TIDUR
Hal yang tidak terpikirkan oleh
pasangan orangtua baru adalah perubahan pola bangun dan tidur . Seorang anak
yang baru lahir biasanya akan tidur sepanjang hari, dan bangun beberapa saat
untuk minum dan lanjut tidur lagi. Beberapa anak memiliki pola bangun dan tidur
yang berbeda dengan kebiasaan orangtuanya. Sebagaian bayi suka melek tengah
malam, pada saat kedua orangtuanya sedang ngantuk dan enak tidur. Dan di
awal-awal kelahiran, ini menjadi problem bagi kedua orangtua.
Di sini sekali lagi, kerjasama
kedua orangtua sangat diperlukan. Bila ibu memiliki pola tidur malam, maka ayah
harus belajar berkorban untuk tidur lebih larut malam, atau mengatur waktu agar
dapat bangun tengah malam, khususnya untuk berjaga bila bayi pipis atau
menangis. Bayi membutuhkan orangtua yang siaga. Selain untuk menenangkannya,
juga untuk mengecek apakah kondisinya baik-baik saja.
Mengapa ibu yang harus lebih
banyak beristirahat ? Karena istirahat dan ketenangan batin ibu akan sangat
berpengaruh terhadap kualitas air susu ibu, dan akhirnya pada kesehatan bayi.
Ketenangan psikologis ibu juga akan berpengaruh terhadap ketenangan psikologis
bayi. Umumnya, bayi yang rewel dan sulit diatur disebabkan karena ibu gelisah
dan tidak tenang. Hubungan batin ibu-anak begitu dekat, sehingga apa yang
dirasakan oleh ibu akan dirasakan juga oleh anak.
Hubungan batin ini akan terus
berlanjut dalam masa-masa pertumbuhan anak. Itu sebabnya orangtua sering
mengatakan kepada seorang ibu , ‘”Kendalikan dulu dirimu, baru kendalikan
anakmu”. Termasuk di sini adalah mengendalikan emosi, membuat hati tenang dan
tenteram, sehingga anak pun dapat tumbuh dengan nyaman di dalam pelukan hangat
ibu , ayah dan keluarganya.
MAKANAN
BERGIZI dan KOMUNIKASI
Kesehatan bayi sangat
tergantung dari asupan makanan yang diperolehnya dari air susu ibu. Sebaiknya
hingga berusia 3-4 bulan bayi hanya meminum air susu ibu. Itu sebabnya ibu yang
baru melahirkan sangat penting menjaga kualitas makanannya.
Ibu yang baru melahirkan harus
mengendalikan sifat-sifatnya yang egois dan biasanya seenaknya sendiri. Bila
biasanya menyantap makanan non-gizi atau junk-food, kurangilah. Ganti dengan
makanan yang menyehatkan bayi. Ibu-ibu yang biasanya gaul dan suka merokok,
berhentilah ! Makanan dan pola makan akan sangat berpengaruh terhadap perilaku
anak di masa yang akan datang.
Saat menyusui atau memberi
makan bayi, ajaklah bayi bercakap-cakap sambil tersenyum. Bayi akan senang bila
ada suara yang menyenangkan dan menenangkan di sekitarnya. Jangan sekedar
memasukkan makanan atau susu ke dalam mulutnya. Karena bayi tidak hanya butuh
makanan dalam bentuk makanan atau minuman kasat mata, tetapi juga butuh makanan
batin. Keegoisan yang ditampilkan ibu akan diadopsi atau dimodel oleh seorang
bayi, sehingga kelak dia pun akan mengembangkan sifat-sifat egois, sulit
diatur, dan mau menang sendiri. Sebaliknya , bila seorang ibu dengan sabar berkomunikasi
dengan anaknya, maka mereka akan lebih dekat secara emosional, dan lebih
mengenal satu dengan lainnya. Pada saatnya nanti, anak akan lebih mudah diatur
dan memahami bahasa orangtuanya.
BERMAIN
dan MENGEMBANGKAN EMOSI
Bermain adalah saat yang menyenangkan
bagi anak. Dunia bayi dan anak adalah dunia bermain. Saling menatap mata,
tersenyum, mendecakkan lidah, saling menyentuh dan memeluk adalah cara bermain
yang disukai anak-anak. Jadikan saat bermain sebagai sarana untuk relaksasi
bagi ibu dan ayah. Seorang anak selalu ingin tahu dan mengeksplorasi
lingkungannya. Di sinilah orangtua harus siap dengan segala rasa ingin tahu
anak, baik secara verbal maupun fisik.
Mulailah permainan dengan
mengenalkan lingkungan kepada anak. Perlihatkan bagian-bagian tubuhnya, seperti
tangan, kaki, kepala , telinga sebagai sarana bermain yang menyenangkan. Jangan terlalu sering memberi barang
permainan yang harus dibeli khusus. Buatlah permainan dari sesuatu yang ada di
sekitar anak. Anak akan mengikuti orangtua. Bermain akan mencerdaskan anak, dan
mengembangkan emosinya juga. Bila anak kebetulan sendirian dan tidak ada yang
menemani, dia tidak akan bosan bila telah dapat mengenal dan mampu bermain
dengan dirinya sendiri dan alat-alat di sekitarnya. Beri penjelasan juga, mana
yang berbahaya dan aman bagi anak.
Bermain suara atau mendongeng,
merupakan cara berkomunikasi sekaligus mengembangkan emosi anak. Bacakan cerita
pendek dari sebuah buku, dan tirulah karakter suara tokoh-tokohnya. Anak akan
belajar mengenal karakter dari suara. Dan mereka sangat menyukainya. Atau, bila
tidak ada buku, ambillah boneka atau benda apa saja, perlakukan sebagai tokoh
cerita, dan bermainlah seperti sebuah cerita sandiwara. Ini akan melatih anak
berimajinasi dan mengembangan kreativitasnya.
MUSIK
dan PERKEMBANGAN MOTORIK
Perkembangan motorik anak
sangat luar biasa. Hari-hari pertama kelahiran bayi, kita dengan takjub akan
melihat kemampuan bayi yang tumbuh setiap hari. Ajaklah bayi beraktivitas
sambil mengeksplorasi kemampuannya. Lakukan secara alamiah, jangan memaksakan
diri. Jangan juga membandingkan ketrampilan anak kita dengan anak orang lain,
karena setiap anak adalah unik dan memiliki ketrampilan masing-masing. Lakukan
dengan gembira dalam kurun waktu berselang-seling.
Bisa juga saat bermain atau
melakukan aktivitas diiringi dengan musik yang dapat merangsang perkembangan
otak dan emosi bayi. Lagu-lagu yang menenangkan seperti lagu klasik dan
beberapa musik tradisional dapat menggugah emosi anak. Ia akan mengikuti nada
sambil menggerakkan anggota tubuhnya. Ini juga melatih kepekaan pendengaran
anak, sekaligus mengelola ritme tubuhnya.
Musik pun dapat diperdengarkan
menjelang tidur atau saat bangun tidur. Buat pola-pola tertentu dan pilih
beberapa lagu yang disukainya. Jangan terlalu banyak jenis musik dan lagunya ,
agar ia dapat mengasosiasikan musik dengan aktivitas tertentu. Misalnya musik
yang gembira pada saat bangun tidur, dan musik tenang pada saat akan tidur. Dan
musik tertentu untuk permainan tertentu. Dengan demikian, bila kita
perdengarkan musik atau lagu itu, ia dapat menebak permainan atau aktivitas
yang akan dilakukan.
Musik juga tidak sekedar
hiburan. Musik sangat erat hubungannya dengan emosi dan perkembangan bahasa.
Anak-anak akan lebih mudah belajar membuat susunan kata-kata dengan musik yang
didengarnya. Dengan irama musik yang sesuai dengan gembira, anak-anak akan
belajar dengan gembira. Sedangkan dengan musik yang melankolis anak juga
belajar untuk mengekspresikan perasaannya yang sedih atau kecewa. Musik juga
dapat menyebarkan semangat. Dan dari musik ini mereka dapat mengenal
jenis-jenis emosi di dalam dirinya, serta bagaimana mengelola perasaannya
bersama musik.
ANAK
MANDIRI atau ANAK MANJA
Sekarang…setelah kita menikmati
hari-hari pertama kehadiran anak di dalam kehidupan kita, muncullah pertanyaan
berikutnya : Kita mau anak kita menjadi seperti apa ? Mau anak yang mandiri,
atau anak yang manja ?
Bila kita mau anak kita menjadi
anak yang mandiri, kenalilah potensinya, kesukaannya, caranya berkomunikasi
dengan kita, kelebihan dan kekurangannya. Lalu kembangkan dirinya, beri
motivasi agar dia dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
Misalnya, ia ingin minum dengan gelas. Maka kita berikan gelasnya, beri tahu
cara memegang gelas yang benar dan aman. Lalu biarkan dia menikmati minumannya.
Awalnya barangkali akan tumpah atau tercecer . Jangan memarahi anak dengan
kasar, tetapi beri contoh lagi, bagaimana melakukan aktivitas tersebut dengan
benar. Beri pujian lebih baik daripada menghardik. Karena mereka akan belajar
bagaimana mengatasi masalahnya sendiri sesuai dengan perkembangan
ketrampilannya.
Bila kita ingin anak yang manja
dan tergantung, itu gampang. Jangan beri kesempatan anak untuk melakukan
apa-apa sendiri. Bila dia ingin minum, pegangi gelasnya. Bila ingin makan,
suapi sampai selesai. Bila ingin bermain, pegangi mainannya. Bila ingin memakai
pakaian, pakaikan sampai beres. Apa yang diinginkannya penuhi segera. Dan
lakukan, seakan-akan dia tidak bisa melakukan apa pun dengan kemampuannya.
Membuat anak menjadi manja dan
tidak percaya diri lebih mudah daripada membuat anak percaya diri . Anak yang
manja jarang menghargai orang lain, karena dia berpusat kepada dirinya sendiri.
Semua orang akan menjadi pelayannya. Sedangkan anak yang mandiri akan menghargai
potensi dirinya, mau melatih ketrampilannya, dan pada akhirnya akan lebih
menghargai usaha orang lain.
MAU
MENJADI APA ?
Orangtua bilang, bahwa apa yang
kita tanam hari ini akan kita panen kemudian. Bagitu juga apa yang kita
perlakukan terhadap anak kita hari ini akan berpengaruh terhadap anak kita di
kemudian hari.
Banyak pilihan untuk menjadi
orangtua. Mau belajar dari pengalaman sendiri ? Belajarlah mengenal diri kita,
diri pasangan kita, agar kita juga mau belajar dari anak kita. Seringkali kita
egois dan keras kepala, ingin menjadikan anak kita seperti seseorang. Tapi
ingat…kemampuan anak kita, kemampuan kita , apakah sesuai dengan harapan kita ?
Jangan sampai terjadi, kita memaksakan kehendak kita kepada anak, dan ketika
dia tidak dapat mencapainya, kita menjadi kecewa. Anak pun akan kecewa, karena
ia merasa tidak berharga dan ditolak oleh orangtuanya.
Anak kita lahir untuk belajar.
Kita sebagai orangtua juga harus belajar. Kita juga harus belajar kepada anak,
tidak hanya belajar dari pengalaman orangtua kita terdahulu. Kebutuhan anak
sekarang lebih penting, karena yang akan kita asuh adalah mereka, bukan orang
lain. Anak itu seperti buku, yang harus kita baca setiap hari.
Memiliki anak berarti memiliki
tanggung jawab bersama. Tidak ada ibu yang hebat tanpa dukungan ayah yang
hebat. Tidak ada ayah yang luar biasa tanpa ibu yang luar biasa. Dan tidak ada
orangtua yang hebat, kalau mereka tidak mau belajar dari anaknya yang hebat.
Ingat juga bahwa anak adalah pribadi yang unik, yang tersendiri. Bukan fotokopi
orangtuanya ! Jadi, terimalah mereka apa adanya, seperti kita menerima diri
kita apa adanya.
Anak lahir dan tumbuh bersama
dengan orangtua. Kita , sebagai orangtua, harus menikmati kehadiran mereka.
Menikmati setiap detik dan menit yang kita miliki bersama. Menikmati berarti
memiliki saat-saat berkualitas. Sungguh suatu aktivitas yang mengasyikkan. Kita
asyik, anak kita juga dapat menikmati kehadiran kita. Saling mengisi. Saling
menikmati. Itulah mengasyikkan.
Saya sendiri, hingga saat ini
masih belajar dari kehadiran anak saya. Tidak pernah ada anak yang hilang dari
hati orangtuanya. Seorang anak, tetaplah seorang anak bagi orangtuanya.
Sepanjang apa pun umurnya, setua apa pun usianya. Dan setiap detik bersamanya
adalah proses belajar yang tidak ada hentinya.
Semoga…seperti pertanyaan
sahabat saya, bagaimana menjadi orang tua yang asyik ? Jawabannya ternyata
sederhana : Marilah kita belajar bersama…dan menikmati bersama-sama. Itu saja !
Jakarta, 6 September 2011
Salam hangat,
Ietje
S. Guntur
- Psikolog, pemerhati
pendidikan anak dan remaja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar