Kamis, 13 Maret 2014

Art-Psi Perkembangan 2011 ( Orangtua Asyik



Art-Psikologi Perkembangan 2011
Tuesday, September 06, 2011
Start : 9/6/2011 7:59:31 AM
Finish : 9/6/2011 9:29:14 AM


MENJADI  ORANGTUA  YANG  ASYIK…

Suatu hari seorang sahabat, yang usianya jauuuuuh di bawah saya, bertanya ,” Mbak, gimana sih caranya menjadi orangtua yang asyik ?”
Haaa…??? Pikir saya, orangtua asyik ? Asyik untuk siapa ? Untuk diri sendiri, atau untuk anaknya dan keluarganya ?
Saya jadi berpikir-pikir, iya juga ya…kita lahir dan dibesarkan oleh orangtua kita, dengan cara mereka. Dengan pola asuh yang mereka pelajari dari orangtuanya lagi, alias nenek dan kakek kita, yang belajar juga dari nenek-nenek dan kakek-kakek mereka. Begitu turun temurun…Ada pola asuh anak…dari orangtua ke anak. Dari generasi ke generasi. Naaah, tapi bagaimana supaya menjadi orangtua yang asyik ? ini diaaaa….Saya pun sebenarnya kepingin menjadi orangtua yang asyik, mengasyikkan bagi saya, dan mengasyikkan bagi anak dan keluarga saya. Tapi bagaimana caranya ? Mari kita simak bersama-sama.

BELAJAR DARI PENGALAMAN
Coba kita amati. Kedua orangtua kita, saat mereka mengasuh dan membesarkan kita. Apakah mereka pernah sekolah untuk menjadi orangtua ? Tidak ! Mereka belajar dari pengalaman. Pengalaman orangtua mereka, pengalaman dari teman-temannya. Mereka berusaha untuk mencocokkan pengalaman orang lain dan menjadikannya pola asuh bagi anak-anaknya. Hasilnya, seperti juga sebuah percobaan, pasti ada trial dan errornya…ada benar dan ada salahnya.
Mereka, dengan pola lama, di mana seluruh anggota keluarga berpartisipasi dalam mengasuh anak-anak di dalam keluarga, maka beban orangtua dirasakan tidak terlalu berat. Ada ibu, ayah, nenek, tante bahkan keponakan-keponakan yang cukup besar dapat diandalkan untuk membantu mengasuh kita. Jadi tidak heran, bila satu keluarga memiliki tata nilai dan tata krama yang sama. Hasil pendidikannya pun mirip-mirip, tidak jauh berbeda satu dengan lainnya.
Ketika tiba giliran kita, saat ini, apa yang kita lakukan ?
Menjadi orangtua adalah pengalaman yang luar biasa. Ketika kita baru menikah, kita sudah membayangkan akan melakukan ini-itu kepada anak-anak kita kelak. Namun ketika saat itu datang, kita seringkali gelagapan dan gugup. Terutama ketika anak kita tidak sesuai dengan gambaran yang ada di dalam benak kita. Tidak terbayangkan, bagaimana caranya berkomunikasi dan mengasuh anak setiap hari tanpa henti. Lihat saja : 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Nonstop ! Wooww…
Sejak anak lahir, di hari pertama, kita sudah mengalami hal yang luar biasa. Terutama bagi ibu, yang selama kurang lebih Sembilan bulan membawa bayinya kemana pun pergi, tiba-tiba melihat wujud nyata di hadapannya. Pengalaman saya sendiri, ketika pertama kali melihat putri cantik saya, saya bingung luar biasa. Bila ada orang yang bertanya, “ Apakah kamu bahagia memiliki anak ?” Jawabannya saat itu adalah ,” Bingung ! Takjub. Dan tidak tahu harus berbuat apa dengan mahluk kecil ini.”
Barangkali perasaan itu juga dialami oleh banyak ibu yang lain, terutama pada kelahiran anak pertama mereka. Walaupun sering dikatakan, bahwa setiap ibu yang melahirkan anak akan memiliki naluri keibuan, tapi pada kenyataannya keheranan dan kebingungan di menit-menit pertama dan hari-hari pertama ( bahkan mungkin seminggu dua minggu pertama) tetap muncul dan menggelayut di hati kita. Pada saat inilah sebenarnya dukungan dari keluarga, terutama suami – yang tentu saja sama bingungnya, walaupun mereka suka jaga image…hehe – dan anggota keluarga lain sangat diperlukan.

ISTIRAHAT dan DUKUNGAN SUAMI
Yang paling dibutuhkan oleh seorang ibu yang baru melahirkan di menit-menit pertama dan hari-hari pertama setelah melahirkan adalah beristirahat ! Betul. Otak dan perasaan seorang ibu kadang belum terkoneksi dengan baik. Perubahan fisik maupun psikologis dari masa kehamilan yang panjang, dan tiba-tiba mengalami kekosongan membutuhkan waktu penyesuaian diri. Tidur yang pulas beberapa jam akan memulihkan kondisi fisik, dan juga dapat menenangkan psikologis seorang ibu yang baru melahirkan.
Sikap suami, dalam mendukung proses kelahiran dan juga penerimaan terhadap anak akan sangat membesarkan hati seorang ibu. Ini sangat penting. Kadang-kadang di dalam masyarakat kita, kelahiran anak laki-laki lebih diharapkan daripada kelahiran anak perempuan. Sehingga seorang ibu yang melahirkan anak perempuan, kadang merasa kecil hati dengan sikap dan penerimaan keluarga terhadap kelahiran anaknya. Dalam hal ini kebijaksanaan dan dukungan suami sangat diperlukan. Suami, sebagai ayah baru, harus satu hati dan satu kata dengan isteri. Apa pun jenis kelamin anaknya,  bagaimana pun kondisi anaknya, harus diterima dengan hati terbuka. Sikap inilah kelak yang akan menentukan perilaku ibu terhadap anaknya, apakah dia merasa bahagia atau justru kecil hati karena kecewa.
Ibu yang bahagia dan bangga kepada anaknya, akan bersikap menerima anaknya apa adanya. Mereka dengan gembira akan tumbuh bersama, menggali potensi yang dimiliki anaknya, dan mengembangkannya bersama-sama pula. Ayah sebagai kepala keluarga akan menjadi panutan bagi ibu-anak, dan pada akhirnya menjadi tim yang solid sebagai sebuah keluarga. Nilai-nilai orangtua pun akan lebih mudah diserap dan diterapkan, karena semua pihak merasa memiliki andil di dalam kebersamaan itu.

POLA BANGUN dan TIDUR
Hal yang tidak terpikirkan oleh pasangan orangtua baru adalah perubahan pola bangun dan tidur . Seorang anak yang baru lahir biasanya akan tidur sepanjang hari, dan bangun beberapa saat untuk minum dan lanjut tidur lagi. Beberapa anak memiliki pola bangun dan tidur yang berbeda dengan kebiasaan orangtuanya. Sebagaian bayi suka melek tengah malam, pada saat kedua orangtuanya sedang ngantuk dan enak tidur. Dan di awal-awal kelahiran, ini menjadi problem bagi kedua orangtua.
Di sini sekali lagi, kerjasama kedua orangtua sangat diperlukan. Bila ibu memiliki pola tidur malam, maka ayah harus belajar berkorban untuk tidur lebih larut malam, atau mengatur waktu agar dapat bangun tengah malam, khususnya untuk berjaga bila bayi pipis atau menangis. Bayi membutuhkan orangtua yang siaga. Selain untuk menenangkannya, juga untuk mengecek apakah kondisinya baik-baik saja.
Mengapa ibu yang harus lebih banyak beristirahat ? Karena istirahat dan ketenangan batin ibu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas air susu ibu, dan akhirnya pada kesehatan bayi. Ketenangan psikologis ibu juga akan berpengaruh terhadap ketenangan psikologis bayi. Umumnya, bayi yang rewel dan sulit diatur disebabkan karena ibu gelisah dan tidak tenang. Hubungan batin ibu-anak begitu dekat, sehingga apa yang dirasakan oleh ibu akan dirasakan juga oleh anak.
Hubungan batin ini akan terus berlanjut dalam masa-masa pertumbuhan anak. Itu sebabnya orangtua sering mengatakan kepada seorang ibu , ‘”Kendalikan dulu dirimu, baru kendalikan anakmu”. Termasuk di sini adalah mengendalikan emosi, membuat hati tenang dan tenteram, sehingga anak pun dapat tumbuh dengan nyaman di dalam pelukan hangat ibu , ayah dan keluarganya.

MAKANAN BERGIZI dan KOMUNIKASI
Kesehatan bayi sangat tergantung dari asupan makanan yang diperolehnya dari air susu ibu. Sebaiknya hingga berusia 3-4 bulan bayi hanya meminum air susu ibu. Itu sebabnya ibu yang baru melahirkan sangat penting menjaga kualitas makanannya.
Ibu yang baru melahirkan harus mengendalikan sifat-sifatnya yang egois dan biasanya seenaknya sendiri. Bila biasanya menyantap makanan non-gizi atau junk-food, kurangilah. Ganti dengan makanan yang menyehatkan bayi. Ibu-ibu yang biasanya gaul dan suka merokok, berhentilah ! Makanan dan pola makan akan sangat berpengaruh terhadap perilaku anak di masa yang akan datang.
Saat menyusui atau memberi makan bayi, ajaklah bayi bercakap-cakap sambil tersenyum. Bayi akan senang bila ada suara yang menyenangkan dan menenangkan di sekitarnya. Jangan sekedar memasukkan makanan atau susu ke dalam mulutnya. Karena bayi tidak hanya butuh makanan dalam bentuk makanan atau minuman kasat mata, tetapi juga butuh makanan batin. Keegoisan yang ditampilkan ibu akan diadopsi atau dimodel oleh seorang bayi, sehingga kelak dia pun akan mengembangkan sifat-sifat egois, sulit diatur, dan mau menang sendiri. Sebaliknya , bila seorang ibu dengan sabar berkomunikasi dengan anaknya, maka mereka akan lebih dekat secara emosional, dan lebih mengenal satu dengan lainnya. Pada saatnya nanti, anak akan lebih mudah diatur dan memahami bahasa orangtuanya.

BERMAIN dan MENGEMBANGKAN EMOSI
Bermain adalah saat yang menyenangkan bagi anak. Dunia bayi dan anak adalah dunia bermain. Saling menatap mata, tersenyum, mendecakkan lidah, saling menyentuh dan memeluk adalah cara bermain yang disukai anak-anak. Jadikan saat bermain sebagai sarana untuk relaksasi bagi ibu dan ayah. Seorang anak selalu ingin tahu dan mengeksplorasi lingkungannya. Di sinilah orangtua harus siap dengan segala rasa ingin tahu anak,  baik secara verbal maupun fisik.
Mulailah permainan dengan mengenalkan lingkungan kepada anak. Perlihatkan bagian-bagian tubuhnya, seperti tangan, kaki, kepala , telinga sebagai sarana bermain yang menyenangkan.  Jangan terlalu sering memberi barang permainan yang harus dibeli khusus. Buatlah permainan dari sesuatu yang ada di sekitar anak. Anak akan mengikuti orangtua. Bermain akan mencerdaskan anak, dan mengembangkan emosinya juga. Bila anak kebetulan sendirian dan tidak ada yang menemani, dia tidak akan bosan bila telah dapat mengenal dan mampu bermain dengan dirinya sendiri dan alat-alat di sekitarnya. Beri penjelasan juga, mana yang berbahaya dan aman bagi anak.
Bermain suara atau mendongeng, merupakan cara berkomunikasi sekaligus mengembangkan emosi anak. Bacakan cerita pendek dari sebuah buku, dan tirulah karakter suara tokoh-tokohnya. Anak akan belajar mengenal karakter dari suara. Dan mereka sangat menyukainya. Atau, bila tidak ada buku, ambillah boneka atau benda apa saja, perlakukan sebagai tokoh cerita, dan bermainlah seperti sebuah cerita sandiwara. Ini akan melatih anak berimajinasi dan mengembangan kreativitasnya.

MUSIK dan PERKEMBANGAN MOTORIK
Perkembangan motorik anak sangat luar biasa. Hari-hari pertama kelahiran bayi, kita dengan takjub akan melihat kemampuan bayi yang tumbuh setiap hari. Ajaklah bayi beraktivitas sambil mengeksplorasi kemampuannya. Lakukan secara alamiah, jangan memaksakan diri. Jangan juga membandingkan ketrampilan anak kita dengan anak orang lain, karena setiap anak adalah unik dan memiliki ketrampilan masing-masing. Lakukan dengan gembira dalam kurun waktu berselang-seling.
Bisa juga saat bermain atau melakukan aktivitas diiringi dengan musik yang dapat merangsang perkembangan otak dan emosi bayi. Lagu-lagu yang menenangkan seperti lagu klasik dan beberapa musik tradisional dapat menggugah emosi anak. Ia akan mengikuti nada sambil menggerakkan anggota tubuhnya. Ini juga melatih kepekaan pendengaran anak, sekaligus mengelola ritme tubuhnya.
Musik pun dapat diperdengarkan menjelang tidur atau saat bangun tidur. Buat pola-pola tertentu dan pilih beberapa lagu yang disukainya. Jangan terlalu banyak jenis musik dan lagunya , agar ia dapat mengasosiasikan musik dengan aktivitas tertentu. Misalnya musik yang gembira pada saat bangun tidur, dan musik tenang pada saat akan tidur. Dan musik tertentu untuk permainan tertentu. Dengan demikian, bila kita perdengarkan musik atau lagu itu, ia dapat menebak permainan atau aktivitas yang akan dilakukan.
Musik juga tidak sekedar hiburan. Musik sangat erat hubungannya dengan emosi dan perkembangan bahasa. Anak-anak akan lebih mudah belajar membuat susunan kata-kata dengan musik yang didengarnya. Dengan irama musik yang sesuai dengan gembira, anak-anak akan belajar dengan gembira. Sedangkan dengan musik yang melankolis anak juga belajar untuk mengekspresikan perasaannya yang sedih atau kecewa. Musik juga dapat menyebarkan semangat. Dan dari musik ini mereka dapat mengenal jenis-jenis emosi di dalam dirinya, serta bagaimana mengelola perasaannya bersama musik.

ANAK MANDIRI atau ANAK MANJA
Sekarang…setelah kita menikmati hari-hari pertama kehadiran anak di dalam kehidupan kita, muncullah pertanyaan berikutnya : Kita mau anak kita menjadi seperti apa ? Mau anak yang mandiri, atau anak yang manja ?
Bila kita mau anak kita menjadi anak yang mandiri, kenalilah potensinya, kesukaannya, caranya berkomunikasi dengan kita, kelebihan dan kekurangannya. Lalu kembangkan dirinya, beri motivasi agar dia dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuannya. Misalnya, ia ingin minum dengan gelas. Maka kita berikan gelasnya, beri tahu cara memegang gelas yang benar dan aman. Lalu biarkan dia menikmati minumannya. Awalnya barangkali akan tumpah atau tercecer . Jangan memarahi anak dengan kasar, tetapi beri contoh lagi, bagaimana melakukan aktivitas tersebut dengan benar. Beri pujian lebih baik daripada menghardik. Karena mereka akan belajar bagaimana mengatasi masalahnya sendiri sesuai dengan perkembangan ketrampilannya.
Bila kita ingin anak yang manja dan tergantung, itu gampang. Jangan beri kesempatan anak untuk melakukan apa-apa sendiri. Bila dia ingin minum, pegangi gelasnya. Bila ingin makan, suapi sampai selesai. Bila ingin bermain, pegangi mainannya. Bila ingin memakai pakaian, pakaikan sampai beres. Apa yang diinginkannya penuhi segera. Dan lakukan, seakan-akan dia tidak bisa melakukan apa pun dengan kemampuannya.
Membuat anak menjadi manja dan tidak percaya diri lebih mudah daripada membuat anak percaya diri . Anak yang manja jarang menghargai orang lain, karena dia berpusat kepada dirinya sendiri. Semua orang akan menjadi pelayannya. Sedangkan anak yang mandiri akan menghargai potensi dirinya, mau melatih ketrampilannya, dan pada akhirnya akan lebih menghargai usaha orang lain.

MAU MENJADI APA ?
Orangtua bilang, bahwa apa yang kita tanam hari ini akan kita panen kemudian. Bagitu juga apa yang kita perlakukan terhadap anak kita hari ini akan berpengaruh terhadap anak kita di kemudian hari.
Banyak pilihan untuk menjadi orangtua. Mau belajar dari pengalaman sendiri ? Belajarlah mengenal diri kita, diri pasangan kita, agar kita juga mau belajar dari anak kita. Seringkali kita egois dan keras kepala, ingin menjadikan anak kita seperti seseorang. Tapi ingat…kemampuan anak kita, kemampuan kita , apakah sesuai dengan harapan kita ? Jangan sampai terjadi, kita memaksakan kehendak kita kepada anak, dan ketika dia tidak dapat mencapainya, kita menjadi kecewa. Anak pun akan kecewa, karena ia merasa tidak berharga dan ditolak oleh orangtuanya.
Anak kita lahir untuk belajar. Kita sebagai orangtua juga harus belajar. Kita juga harus belajar kepada anak, tidak hanya belajar dari pengalaman orangtua kita terdahulu. Kebutuhan anak sekarang lebih penting, karena yang akan kita asuh adalah mereka, bukan orang lain. Anak itu seperti buku, yang harus kita baca setiap hari.
Memiliki anak berarti memiliki tanggung jawab bersama. Tidak ada ibu yang hebat tanpa dukungan ayah yang hebat. Tidak ada ayah yang luar biasa tanpa ibu yang luar biasa. Dan tidak ada orangtua yang hebat, kalau mereka tidak mau belajar dari anaknya yang hebat. Ingat juga bahwa anak adalah pribadi yang unik, yang tersendiri. Bukan fotokopi orangtuanya ! Jadi, terimalah mereka apa adanya, seperti kita menerima diri kita apa adanya.
Anak lahir dan tumbuh bersama dengan orangtua. Kita , sebagai orangtua, harus menikmati kehadiran mereka. Menikmati setiap detik dan menit yang kita miliki bersama. Menikmati berarti memiliki saat-saat berkualitas. Sungguh suatu aktivitas yang mengasyikkan. Kita asyik, anak kita juga dapat menikmati kehadiran kita. Saling mengisi. Saling menikmati. Itulah mengasyikkan.
Saya sendiri, hingga saat ini masih belajar dari kehadiran anak saya. Tidak pernah ada anak yang hilang dari hati orangtuanya. Seorang anak, tetaplah seorang anak bagi orangtuanya. Sepanjang apa pun umurnya, setua apa pun usianya. Dan setiap detik bersamanya adalah proses belajar yang tidak ada hentinya.
Semoga…seperti pertanyaan sahabat saya, bagaimana menjadi orang tua yang asyik ? Jawabannya ternyata sederhana : Marilah kita belajar bersama…dan menikmati bersama-sama. Itu saja !

Jakarta, 6 September 2011
Salam hangat,

Ietje S. Guntur
-      Psikolog, pemerhati pendidikan anak dan remaja

Tidak ada komentar: