Rabu, 30 September 2009

Perkawinan...

Dear Allz...

Suatu hari seorang sahabat saya bilang begini, “Tje, tulislah tentang perkawinan”. Hmm...perkawinan ? Tentang apanya ? Tentang sebuah perkawinan yang ideal ? Wooww...beraaat nih...

Kenapa ? Karena perkawinan itu memang bukan urusan mudah. Yang belum mengalaminya, kepengen buru-buru memasuki gerbangnya. Dan berharap seperti cerita putri-putri jaman dahulu kala, dengan kisah seperti ini ...”maka mereka pun hidup berbahagia selamanya...”.

Di sisi lain, orang yang sudah berada di dalam perkawinan, sering kali merasa bahwa perkawinan itu seperti bubu ikan, atau perangkap tikus...Mouse Trap. Dan mereka sekuat tenaga ingin lari atau melompat dari situ, dengan berbagai cara.

Namun apa pun kondisinya, perkawinan tetaplah sebuah misteri. Tidak ada perkawinan yang ideal, yang cocok untuk semua orang. Ibarat obat, semua harus sesuai dosis dan umur. Perkawinan adalah proses...sebuah perjalanan...dan tidak bisa instan. Tidak ada perkawinan ala kopi 3 in 1, yang cukup diseduh dengan air panas dan dinikmati rasanya. Perkawinan adalah sebuah adonan, yang tiap hari bisa berubah rasanya.

Hmmm...mumpung saat ini saya sedang berdebar-debar dan berbahagia...saya ingin sharing...berbagi pengalaman sedikit tentang perjalanan sebuah perkawinan...

Selamat menikmati...semoga berkenan....


Salam sayang,
Dari pojok Bintaro yang hening....


Ietje S. Guntur



Art-Living Sos 2009 (A-9
Rabu, 30 September 2009
Start : 30/09/2009 8:57:58
Finish : 30/09/2009 12:08:50



PERKAWINAN...
SEKOLAH YANG TAK PERNAH SELESAI


Besok, tanggal 1 Oktober adalah hari ulang tahun perkawinan saya. Dengan suami saya, yang saya sebut dengan panggilan sayang : Pangeran Remote Control. Ulang tahun ke 26. Hmm...Alhamdulillah...

Artinya....selama 26 tahun ini saya sudah hidup bersama dengan seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal. Seseorang yang memiliki begitu banyak perbedaan dengan saya. Namun, karena sebuah komitmen, jadinya kami dapat menjalankan kehidupan ini bersama-sama.

Berbeda ? Ya, iyalah...Coba lihat, betapa banyak perbedaan antara saya dan Pangeran.

Yang pertama, berbeda jenis kelamin...hehehehe...iya, ini penting. Kalau kelamin tidak berbeda, untuk apa saya menikah dan berumahtangga dengan dia ? Perbedaan ini juga yang kelak, di dalam perjalanan hidup bersama, membuat saya dan dia selalu tarik ulur. Selalu berusaha saling memahami, sekaligus bertanya-tanya : Apa sih yang salah dengan dia ? Kok dia tidak bisa memahami saya ? Apakah dia tidak tahu, kalau saya punya siklus hormonal yang mempengaruhi pemikiran saya, perasaan saya, dan nafsu-nafsu saya ? uuuhh....

Untunglah kami berbeda !

Yang lain adalah perbedaan bentuk fisik....Hmmm...Saya suka sama dia, dan dia suka sama saya, karena kami sama-sama berbeda. Saya perempuan, dengan segala lekuk tubuh kewanitaan yang berbeda dengan dia yang serba berotot di mana-mana. Saya lebih pendek beberapa sentimeter dari dia, dan ini menguntungkan saya. Jadi, untuk meraih barang yang ada di lemari, saya tinggal teriak, memanggil dia dan meminta tolong dengan wajah memelas. Saya juga lebih mungil dari dia. Jadi dalam keadaan terpaksa, saya bisa memanjat pagar atau menyelipkan tubuh di antara dahan pohon untuk membuka pintu dan mengambil sesuatu yang tersangkut di sana.

Ada lagi. Soal sifat dan karakter. Saya bawel dan cerewet seperti petasan banting. Sekali ngoceh, tidak bisa berhenti. Terus menerus mengalir seperti banjir. Dia (agak) pendiam. Jadi kalau saya mau mengoceh panjang lebar, dari urusan yang penting seperti urusan kenaikan harga-harga kebutuhan rumahtangga hingga urusan tidak penting tentang ‘siapa yang harus memberi makan burung dan kelinci ?”, maka dia akan menyediakan telinganya untuk mendengarkan. Sambil pura-pura budeg dan terus asyik dengan pencet-pencetan tombol remote control televisi...hehehe...

Masih ada. Soal selera makan. Hmmm...ini nih yang kadang sederhana, tapi bisa ribet urusannya. Pangeran Remote Control, doyan makan apa saja. Dari mulai buah-buahan, sayuran (terutama kuahnya), tempe, tahu hingga daging yang diproses segala macam. Kecuali ikan ! Saya nyaris sebaliknya. Tidak begitu doyan makan, tapi sangat suka ikan. Dari mulai ikan besar sekelas tuna dan cakalang, hingga ikan mini teri-teri sebesar jarum.

Urusan makanan ini akhirnya kami jadi saling bertoleransi. Saya yang semula sangat anti masuk dapur, mau tidak mau belajar untuk memasak dan menyediakan masakan yang disukai oleh Pangeran – dan belakangan ditambah anak semata wayang kami, si Cantik. Saya belajar memasak, dari yang sederhana seperti menggoreng telor mata sapi – yang pinggirnya kering keriting dan tengahnya basah setengah matang, hingga masak yang rumit seperti rendang, gulai otak sapi dan sambel goreng ati yang tidak boleh terlalu kering, dan membutuhkan bumbu dan teknik memasak yang khusus.

Saya yang semula sempat menjadi anti masakan daging apalagi jeroan, mau tidak mau terpaksa ikut mencicipi sekali-sekali. Bahkan paket opor bidadari dan lauk pauk hidangan lebaran yang komplit itupun bisa saya lakukan karena kesabaran Pangeran Remote Control mencicipi masakan saya. Mulai dari yang kurang asin, keasinan, kebanyakan bumbu dan kurang gurih sampai jadi seperti sekarang yang uenaksss dan mantaps...

Banyak lagi perbedaan di antara kami, yang membuat saya jadi menyadari, bahwa ternyata ada orang yang berbeda. Bahwa ada orang seaneh dan seunik dia. Bahwa ada orang yang bisa berpikir sangat berbeda, dan sering tidak masuk di akal saya. Bahwa ada orang yang bisa menyelesaikan masalah rumit dengan sekali jentik jari, tetapi kerepotan untuk membuka tutup kaleng atau mencari tempat yang tepat untuk menyimpan sendok dan garpu.


Saya jadi termenung.

Kalau begitu banyak perbedaan, lalu apa persamaan yang membuat kami dapat bersatu dan hidup bersama selama puluhan tahun ? Yang jelas, kami punya satu persamaan mutlak, yaitu : sama-sama kepala batu !

Hahahaha...iyaaaa...Saya ini memang biangnya ngotot dan keras kepala. Suami saya juga tak kurang-kurangnya kepala batu, alias keras hati !

Tapi anehnya....dan syukurnya juga, bahwa sindrom kepala batu kami jarang kumat bersamaan. Pada saat saya ngotot, dia diam saja. Dan sebaliknya, pada saat dia ngotot, saya cuek saja...huehehehehehe....

Begitu juga, soal ide. Pada saat ide saya membanjir seperti air, dia Cuma diam. Tidak menanggapi, tidak bereaksi apa pun. Sementara kalau dia sedang berpidato panjang-panjang mengenai ide-idenya ( yang sering aneh dan out of topic), saya pun hanya diam dan mencatat. Menyimpannya di dalam hati, mana tahu besok-besok dia lupa dan menanyakannya lagi kepada saya.

Jadiiiii....kalau mau dihitung dan dijumlahkan, antara perbedaan dengan persamaan, kayaknya antara saya dan Pangeran Remote Control, memang lebih banyak perbedaannya. Sangaaat banyak ! Tapi justru itu yang menantang, itu yang mengasyikkan, itu yang tidak membosankan. Karena setiap hari selalu ada pertanyaan : Apakah besok dia masih seperti itu ?

Dan kalau ada pertanyaan : apakah kamu bosan dengan dia ? huuuuu...jelas ! Siapa yang tidak bosan hidup bersama dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, berpuluh tahun. Setiap hari ?

Justru di situ juga tantangan yang menarik ! Bagaimana saya, si Kepala Batu ini, si Manusia tidak sabaran dan petasan banting ini, bisa bertahan, bisa mengelola kebosanan menjadi keasyikan...hihihi...

Kalau dia menyenangkan setiap waktu. Kalau dia selalu menurut dan selalu seperti sebuah pola yang gampang terbaca. Maka dia bukan hanya membosankan, tetapi juga menyebalkan....hehehehe...Tapi untunglah...dia selalu berubah-ubah, sehingga ketika rasa bosan itu datang, maka saya tertantang lagi untuk menaklukkan perubahan dan keanehan yang unik itu. Barangkali, dia pun sama seperti saya. Karena saya tidak punya pola yang menetap, jadi biarpun cape...ya, dia terpaksa menerima si Kepala Batu yang suka ngeyel ini untuk menjadi mitranya...hmmmh...



Perjalanan perkawinan saya pun akhirnya bergulir.

Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Tidak selalu mulus. Karena menyatukan dua orang yang sama saja pun sulit, apalagi menyatukan dua orang – plus dua keluarga besar dengan banyak budaya yang berbeda. Sulitnya lebih-lebih dari menuntut ilmu di bangku sekolah.

Kalau sekolah, kita punya tujuan dan target waktu tertentu. Kita punya prestasi yang diukur dengan nilai-nilai tertentu. Ada buku raport yang menunjukkan pencapaian yang telah kita peroleh selama menempuh pendidikan dan menuntut ilmu.

Sebuah perkawinan dan rumahtangga adalah sebuah hal yang berbeda.

Tidak ada perkawinan yang sama. Tidak ada kurikulum dan nilai yang menentukan, sebuah perkawinan sukses atau gagal. Raport merah di dalam sebuah perkawinan yang satu, barangkali masih raport hijau di perkawinan yang lain. Dan masing-masing harus menerima penilaian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bukan pihak ketiga atau keempat !

Saya menjalani sekolah perkawinan ini bersama Pangeran Remote Control. Membuat kurikulum dan target yang setiap saat berubah. Menentukan visi dan misi yang setiap saat bisa dievaluasi. Yang jelas, kami harus selalu siap menerima perubahan itu.

Itulah...sekolah perkawinan itu masih terus bergulir. Saya tidak tahu, kapan kami naik kelas, atau harus mengulang di kurikulum yang sama. Kami pun tidak tahu, kapan kami disebut sukses atau gagal. Semua adalah proses.

Perkawinan memang aneh dan unik. Itu adalah ibarat sebuah sekolah yang tak pernah selesai....Dan saya beruntung, masih berada di dalamnya bersama dengan Pangeran Remote Control, suami saya yang tercinta....


Jakarta, 30 September 2009
Untuk sebuah kebersamaan yang unik dan penuh tantangan..
Salam sayang,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih tidak terhingga untuk Guntur, My Pangeran Remote Control yang masih sabar mendampingi dan belajar bersama-sama di Sekolah Perkawinan ini...Perkawinan kita memang tidak sempurna, tapi inilah yang cocok untuk kita....hehehe...Juga buat Dhani, si Cantik kesayangan kami, yang membuat Sekolah Perkawinan kami menjadi lebih semarak dan penuh warna. Juga semua keluarga besar, yang memberi warna-warni, nilai, budaya dan menjadikan kami orang yang semakin kaya dan (mudah-mudahan) tambah bijaksana...hmmm...Oya...untuk kelinci-kelinci kami yang manja dan inspiratif, tokek di pohon yang selalu memberi tanda, dan burung-burung yang menjadi cermin kehidupan kami sehari-hari...I love U allz....

Perkawinan...

Dear Allz...

Suatu hari seorang sahabat saya bilang begini, “Tje, tulislah tentang perkawinan”. Hmm...perkawinan ? Tentang apanya ? Tentang sebuah perkawinan yang ideal ? Wooww...beraaat nih...

Kenapa ? Karena perkawinan itu memang bukan urusan mudah. Yang belum mengalaminya, kepengen buru-buru memasuki gerbangnya. Dan berharap seperti cerita putri-putri jaman dahulu kala, dengan kisah seperti ini ...”maka mereka pun hidup berbahagia selamanya...”.

Di sisi lain, orang yang sudah berada di dalam perkawinan, sering kali merasa bahwa perkawinan itu seperti bubu ikan, atau perangkap tikus...Mouse Trap. Dan mereka sekuat tenaga ingin lari atau melompat dari situ, dengan berbagai cara.

Namun apa pun kondisinya, perkawinan tetaplah sebuah misteri. Tidak ada perkawinan yang ideal, yang cocok untuk semua orang. Ibarat obat, semua harus sesuai dosis dan umur. Perkawinan adalah proses...sebuah perjalanan...dan tidak bisa instan. Tidak ada perkawinan ala kopi 3 in 1, yang cukup diseduh dengan air panas dan dinikmati rasanya. Perkawinan adalah sebuah adonan, yang tiap hari bisa berubah rasanya.

Hmmm...mumpung saat ini saya sedang berdebar-debar dan berbahagia...saya ingin sharing...berbagi pengalaman sedikit tentang perjalanan sebuah perkawinan...

Selamat menikmati...semoga berkenan....


Salam sayang,
Dari pojok Bintaro yang hening....


Ietje S. Guntur



Art-Living Sos 2009 (A-9
Rabu, 30 September 2009
Start : 30/09/2009 8:57:58
Finish : 30/09/2009 12:08:50



PERKAWINAN...
SEKOLAH YANG TAK PERNAH SELESAI


Besok, tanggal 1 Oktober adalah hari ulang tahun perkawinan saya. Dengan suami saya, yang saya sebut dengan panggilan sayang : Pangeran Remote Control. Ulang tahun ke 26. Hmm...Alhamdulillah...

Artinya....selama 26 tahun ini saya sudah hidup bersama dengan seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal. Seseorang yang memiliki begitu banyak perbedaan dengan saya. Namun, karena sebuah komitmen, jadinya kami dapat menjalankan kehidupan ini bersama-sama.

Berbeda ? Ya, iyalah...Coba lihat, betapa banyak perbedaan antara saya dan Pangeran.

Yang pertama, berbeda jenis kelamin...hehehehe...iya, ini penting. Kalau kelamin tidak berbeda, untuk apa saya menikah dan berumahtangga dengan dia ? Perbedaan ini juga yang kelak, di dalam perjalanan hidup bersama, membuat saya dan dia selalu tarik ulur. Selalu berusaha saling memahami, sekaligus bertanya-tanya : Apa sih yang salah dengan dia ? Kok dia tidak bisa memahami saya ? Apakah dia tidak tahu, kalau saya punya siklus hormonal yang mempengaruhi pemikiran saya, perasaan saya, dan nafsu-nafsu saya ? uuuhh....

Untunglah kami berbeda !

Yang lain adalah perbedaan bentuk fisik....Hmmm...Saya suka sama dia, dan dia suka sama saya, karena kami sama-sama berbeda. Saya perempuan, dengan segala lekuk tubuh kewanitaan yang berbeda dengan dia yang serba berotot di mana-mana. Saya lebih pendek beberapa sentimeter dari dia, dan ini menguntungkan saya. Jadi, untuk meraih barang yang ada di lemari, saya tinggal teriak, memanggil dia dan meminta tolong dengan wajah memelas. Saya juga lebih mungil dari dia. Jadi dalam keadaan terpaksa, saya bisa memanjat pagar atau menyelipkan tubuh di antara dahan pohon untuk membuka pintu dan mengambil sesuatu yang tersangkut di sana.

Ada lagi. Soal sifat dan karakter. Saya bawel dan cerewet seperti petasan banting. Sekali ngoceh, tidak bisa berhenti. Terus menerus mengalir seperti banjir. Dia (agak) pendiam. Jadi kalau saya mau mengoceh panjang lebar, dari urusan yang penting seperti urusan kenaikan harga-harga kebutuhan rumahtangga hingga urusan tidak penting tentang ‘siapa yang harus memberi makan burung dan kelinci ?”, maka dia akan menyediakan telinganya untuk mendengarkan. Sambil pura-pura budeg dan terus asyik dengan pencet-pencetan tombol remote control televisi...hehehe...

Masih ada. Soal selera makan. Hmmm...ini nih yang kadang sederhana, tapi bisa ribet urusannya. Pangeran Remote Control, doyan makan apa saja. Dari mulai buah-buahan, sayuran (terutama kuahnya), tempe, tahu hingga daging yang diproses segala macam. Kecuali ikan ! Saya nyaris sebaliknya. Tidak begitu doyan makan, tapi sangat suka ikan. Dari mulai ikan besar sekelas tuna dan cakalang, hingga ikan mini teri-teri sebesar jarum.

Urusan makanan ini akhirnya kami jadi saling bertoleransi. Saya yang semula sangat anti masuk dapur, mau tidak mau belajar untuk memasak dan menyediakan masakan yang disukai oleh Pangeran – dan belakangan ditambah anak semata wayang kami, si Cantik. Saya belajar memasak, dari yang sederhana seperti menggoreng telor mata sapi – yang pinggirnya kering keriting dan tengahnya basah setengah matang, hingga masak yang rumit seperti rendang, gulai otak sapi dan sambel goreng ati yang tidak boleh terlalu kering, dan membutuhkan bumbu dan teknik memasak yang khusus.

Saya yang semula sempat menjadi anti masakan daging apalagi jeroan, mau tidak mau terpaksa ikut mencicipi sekali-sekali. Bahkan paket opor bidadari dan lauk pauk hidangan lebaran yang komplit itupun bisa saya lakukan karena kesabaran Pangeran Remote Control mencicipi masakan saya. Mulai dari yang kurang asin, keasinan, kebanyakan bumbu dan kurang gurih sampai jadi seperti sekarang yang uenaksss dan mantaps...

Banyak lagi perbedaan di antara kami, yang membuat saya jadi menyadari, bahwa ternyata ada orang yang berbeda. Bahwa ada orang seaneh dan seunik dia. Bahwa ada orang yang bisa berpikir sangat berbeda, dan sering tidak masuk di akal saya. Bahwa ada orang yang bisa menyelesaikan masalah rumit dengan sekali jentik jari, tetapi kerepotan untuk membuka tutup kaleng atau mencari tempat yang tepat untuk menyimpan sendok dan garpu.


Saya jadi termenung.

Kalau begitu banyak perbedaan, lalu apa persamaan yang membuat kami dapat bersatu dan hidup bersama selama puluhan tahun ? Yang jelas, kami punya satu persamaan mutlak, yaitu : sama-sama kepala batu !

Hahahaha...iyaaaa...Saya ini memang biangnya ngotot dan keras kepala. Suami saya juga tak kurang-kurangnya kepala batu, alias keras hati !

Tapi anehnya....dan syukurnya juga, bahwa sindrom kepala batu kami jarang kumat bersamaan. Pada saat saya ngotot, dia diam saja. Dan sebaliknya, pada saat dia ngotot, saya cuek saja...huehehehehehe....

Begitu juga, soal ide. Pada saat ide saya membanjir seperti air, dia Cuma diam. Tidak menanggapi, tidak bereaksi apa pun. Sementara kalau dia sedang berpidato panjang-panjang mengenai ide-idenya ( yang sering aneh dan out of topic), saya pun hanya diam dan mencatat. Menyimpannya di dalam hati, mana tahu besok-besok dia lupa dan menanyakannya lagi kepada saya.

Jadiiiii....kalau mau dihitung dan dijumlahkan, antara perbedaan dengan persamaan, kayaknya antara saya dan Pangeran Remote Control, memang lebih banyak perbedaannya. Sangaaat banyak ! Tapi justru itu yang menantang, itu yang mengasyikkan, itu yang tidak membosankan. Karena setiap hari selalu ada pertanyaan : Apakah besok dia masih seperti itu ?

Dan kalau ada pertanyaan : apakah kamu bosan dengan dia ? huuuuu...jelas ! Siapa yang tidak bosan hidup bersama dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, berpuluh tahun. Setiap hari ?

Justru di situ juga tantangan yang menarik ! Bagaimana saya, si Kepala Batu ini, si Manusia tidak sabaran dan petasan banting ini, bisa bertahan, bisa mengelola kebosanan menjadi keasyikan...hihihi...

Kalau dia menyenangkan setiap waktu. Kalau dia selalu menurut dan selalu seperti sebuah pola yang gampang terbaca. Maka dia bukan hanya membosankan, tetapi juga menyebalkan....hehehehe...Tapi untunglah...dia selalu berubah-ubah, sehingga ketika rasa bosan itu datang, maka saya tertantang lagi untuk menaklukkan perubahan dan keanehan yang unik itu. Barangkali, dia pun sama seperti saya. Karena saya tidak punya pola yang menetap, jadi biarpun cape...ya, dia terpaksa menerima si Kepala Batu yang suka ngeyel ini untuk menjadi mitranya...hmmmh...



Perjalanan perkawinan saya pun akhirnya bergulir.

Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Tidak selalu mulus. Karena menyatukan dua orang yang sama saja pun sulit, apalagi menyatukan dua orang – plus dua keluarga besar dengan banyak budaya yang berbeda. Sulitnya lebih-lebih dari menuntut ilmu di bangku sekolah.

Kalau sekolah, kita punya tujuan dan target waktu tertentu. Kita punya prestasi yang diukur dengan nilai-nilai tertentu. Ada buku raport yang menunjukkan pencapaian yang telah kita peroleh selama menempuh pendidikan dan menuntut ilmu.

Sebuah perkawinan dan rumahtangga adalah sebuah hal yang berbeda.

Tidak ada perkawinan yang sama. Tidak ada kurikulum dan nilai yang menentukan, sebuah perkawinan sukses atau gagal. Raport merah di dalam sebuah perkawinan yang satu, barangkali masih raport hijau di perkawinan yang lain. Dan masing-masing harus menerima penilaian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bukan pihak ketiga atau keempat !

Saya menjalani sekolah perkawinan ini bersama Pangeran Remote Control. Membuat kurikulum dan target yang setiap saat berubah. Menentukan visi dan misi yang setiap saat bisa dievaluasi. Yang jelas, kami harus selalu siap menerima perubahan itu.

Itulah...sekolah perkawinan itu masih terus bergulir. Saya tidak tahu, kapan kami naik kelas, atau harus mengulang di kurikulum yang sama. Kami pun tidak tahu, kapan kami disebut sukses atau gagal. Semua adalah proses.

Perkawinan memang aneh dan unik. Itu adalah ibarat sebuah sekolah yang tak pernah selesai....Dan saya beruntung, masih berada di dalamnya bersama dengan Pangeran Remote Control, suami saya yang tercinta....


Jakarta, 30 September 2009
Untuk sebuah kebersamaan yang unik dan penuh tantangan..
Salam sayang,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih tidak terhingga untuk Guntur, My Pangeran Remote Control yang masih sabar mendampingi dan belajar bersama-sama di Sekolah Perkawinan ini...Perkawinan kita memang tidak sempurna, tapi inilah yang cocok untuk kita....hehehe...Juga buat Dhani, si Cantik kesayangan kami, yang membuat Sekolah Perkawinan kami menjadi lebih semarak dan penuh warna. Juga semua keluarga besar, yang memberi warna-warni, nilai, budaya dan menjadikan kami orang yang semakin kaya dan (mudah-mudahan) tambah bijaksana...hmmm...Oya...untuk kelinci-kelinci kami yang manja dan inspiratif, tokek di pohon yang selalu memberi tanda, dan burung-burung yang menjadi cermin kehidupan kami sehari-hari...I love U allz....

Perkawinan...

Dear Allz...

Suatu hari seorang sahabat saya bilang begini, “Tje, tulislah tentang perkawinan”. Hmm...perkawinan ? Tentang apanya ? Tentang sebuah perkawinan yang ideal ? Wooww...beraaat nih...

Kenapa ? Karena perkawinan itu memang bukan urusan mudah. Yang belum mengalaminya, kepengen buru-buru memasuki gerbangnya. Dan berharap seperti cerita putri-putri jaman dahulu kala, dengan kisah seperti ini ...”maka mereka pun hidup berbahagia selamanya...”.

Di sisi lain, orang yang sudah berada di dalam perkawinan, sering kali merasa bahwa perkawinan itu seperti bubu ikan, atau perangkap tikus...Mouse Trap. Dan mereka sekuat tenaga ingin lari atau melompat dari situ, dengan berbagai cara.

Namun apa pun kondisinya, perkawinan tetaplah sebuah misteri. Tidak ada perkawinan yang ideal, yang cocok untuk semua orang. Ibarat obat, semua harus sesuai dosis dan umur. Perkawinan adalah proses...sebuah perjalanan...dan tidak bisa instan. Tidak ada perkawinan ala kopi 3 in 1, yang cukup diseduh dengan air panas dan dinikmati rasanya. Perkawinan adalah sebuah adonan, yang tiap hari bisa berubah rasanya.

Hmmm...mumpung saat ini saya sedang berdebar-debar dan berbahagia...saya ingin sharing...berbagi pengalaman sedikit tentang perjalanan sebuah perkawinan...

Selamat menikmati...semoga berkenan....


Salam sayang,
Dari pojok Bintaro yang hening....


Ietje S. Guntur



Art-Living Sos 2009 (A-9
Rabu, 30 September 2009
Start : 30/09/2009 8:57:58
Finish : 30/09/2009 12:08:50



PERKAWINAN...
SEKOLAH YANG TAK PERNAH SELESAI


Besok, tanggal 1 Oktober adalah hari ulang tahun perkawinan saya. Dengan suami saya, yang saya sebut dengan panggilan sayang : Pangeran Remote Control. Ulang tahun ke 26. Hmm...Alhamdulillah...

Artinya....selama 26 tahun ini saya sudah hidup bersama dengan seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal. Seseorang yang memiliki begitu banyak perbedaan dengan saya. Namun, karena sebuah komitmen, jadinya kami dapat menjalankan kehidupan ini bersama-sama.

Berbeda ? Ya, iyalah...Coba lihat, betapa banyak perbedaan antara saya dan Pangeran.

Yang pertama, berbeda jenis kelamin...hehehehe...iya, ini penting. Kalau kelamin tidak berbeda, untuk apa saya menikah dan berumahtangga dengan dia ? Perbedaan ini juga yang kelak, di dalam perjalanan hidup bersama, membuat saya dan dia selalu tarik ulur. Selalu berusaha saling memahami, sekaligus bertanya-tanya : Apa sih yang salah dengan dia ? Kok dia tidak bisa memahami saya ? Apakah dia tidak tahu, kalau saya punya siklus hormonal yang mempengaruhi pemikiran saya, perasaan saya, dan nafsu-nafsu saya ? uuuhh....

Untunglah kami berbeda !

Yang lain adalah perbedaan bentuk fisik....Hmmm...Saya suka sama dia, dan dia suka sama saya, karena kami sama-sama berbeda. Saya perempuan, dengan segala lekuk tubuh kewanitaan yang berbeda dengan dia yang serba berotot di mana-mana. Saya lebih pendek beberapa sentimeter dari dia, dan ini menguntungkan saya. Jadi, untuk meraih barang yang ada di lemari, saya tinggal teriak, memanggil dia dan meminta tolong dengan wajah memelas. Saya juga lebih mungil dari dia. Jadi dalam keadaan terpaksa, saya bisa memanjat pagar atau menyelipkan tubuh di antara dahan pohon untuk membuka pintu dan mengambil sesuatu yang tersangkut di sana.

Ada lagi. Soal sifat dan karakter. Saya bawel dan cerewet seperti petasan banting. Sekali ngoceh, tidak bisa berhenti. Terus menerus mengalir seperti banjir. Dia (agak) pendiam. Jadi kalau saya mau mengoceh panjang lebar, dari urusan yang penting seperti urusan kenaikan harga-harga kebutuhan rumahtangga hingga urusan tidak penting tentang ‘siapa yang harus memberi makan burung dan kelinci ?”, maka dia akan menyediakan telinganya untuk mendengarkan. Sambil pura-pura budeg dan terus asyik dengan pencet-pencetan tombol remote control televisi...hehehe...

Masih ada. Soal selera makan. Hmmm...ini nih yang kadang sederhana, tapi bisa ribet urusannya. Pangeran Remote Control, doyan makan apa saja. Dari mulai buah-buahan, sayuran (terutama kuahnya), tempe, tahu hingga daging yang diproses segala macam. Kecuali ikan ! Saya nyaris sebaliknya. Tidak begitu doyan makan, tapi sangat suka ikan. Dari mulai ikan besar sekelas tuna dan cakalang, hingga ikan mini teri-teri sebesar jarum.

Urusan makanan ini akhirnya kami jadi saling bertoleransi. Saya yang semula sangat anti masuk dapur, mau tidak mau belajar untuk memasak dan menyediakan masakan yang disukai oleh Pangeran – dan belakangan ditambah anak semata wayang kami, si Cantik. Saya belajar memasak, dari yang sederhana seperti menggoreng telor mata sapi – yang pinggirnya kering keriting dan tengahnya basah setengah matang, hingga masak yang rumit seperti rendang, gulai otak sapi dan sambel goreng ati yang tidak boleh terlalu kering, dan membutuhkan bumbu dan teknik memasak yang khusus.

Saya yang semula sempat menjadi anti masakan daging apalagi jeroan, mau tidak mau terpaksa ikut mencicipi sekali-sekali. Bahkan paket opor bidadari dan lauk pauk hidangan lebaran yang komplit itupun bisa saya lakukan karena kesabaran Pangeran Remote Control mencicipi masakan saya. Mulai dari yang kurang asin, keasinan, kebanyakan bumbu dan kurang gurih sampai jadi seperti sekarang yang uenaksss dan mantaps...

Banyak lagi perbedaan di antara kami, yang membuat saya jadi menyadari, bahwa ternyata ada orang yang berbeda. Bahwa ada orang seaneh dan seunik dia. Bahwa ada orang yang bisa berpikir sangat berbeda, dan sering tidak masuk di akal saya. Bahwa ada orang yang bisa menyelesaikan masalah rumit dengan sekali jentik jari, tetapi kerepotan untuk membuka tutup kaleng atau mencari tempat yang tepat untuk menyimpan sendok dan garpu.


Saya jadi termenung.

Kalau begitu banyak perbedaan, lalu apa persamaan yang membuat kami dapat bersatu dan hidup bersama selama puluhan tahun ? Yang jelas, kami punya satu persamaan mutlak, yaitu : sama-sama kepala batu !

Hahahaha...iyaaaa...Saya ini memang biangnya ngotot dan keras kepala. Suami saya juga tak kurang-kurangnya kepala batu, alias keras hati !

Tapi anehnya....dan syukurnya juga, bahwa sindrom kepala batu kami jarang kumat bersamaan. Pada saat saya ngotot, dia diam saja. Dan sebaliknya, pada saat dia ngotot, saya cuek saja...huehehehehehe....

Begitu juga, soal ide. Pada saat ide saya membanjir seperti air, dia Cuma diam. Tidak menanggapi, tidak bereaksi apa pun. Sementara kalau dia sedang berpidato panjang-panjang mengenai ide-idenya ( yang sering aneh dan out of topic), saya pun hanya diam dan mencatat. Menyimpannya di dalam hati, mana tahu besok-besok dia lupa dan menanyakannya lagi kepada saya.

Jadiiiii....kalau mau dihitung dan dijumlahkan, antara perbedaan dengan persamaan, kayaknya antara saya dan Pangeran Remote Control, memang lebih banyak perbedaannya. Sangaaat banyak ! Tapi justru itu yang menantang, itu yang mengasyikkan, itu yang tidak membosankan. Karena setiap hari selalu ada pertanyaan : Apakah besok dia masih seperti itu ?

Dan kalau ada pertanyaan : apakah kamu bosan dengan dia ? huuuuu...jelas ! Siapa yang tidak bosan hidup bersama dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, berpuluh tahun. Setiap hari ?

Justru di situ juga tantangan yang menarik ! Bagaimana saya, si Kepala Batu ini, si Manusia tidak sabaran dan petasan banting ini, bisa bertahan, bisa mengelola kebosanan menjadi keasyikan...hihihi...

Kalau dia menyenangkan setiap waktu. Kalau dia selalu menurut dan selalu seperti sebuah pola yang gampang terbaca. Maka dia bukan hanya membosankan, tetapi juga menyebalkan....hehehehe...Tapi untunglah...dia selalu berubah-ubah, sehingga ketika rasa bosan itu datang, maka saya tertantang lagi untuk menaklukkan perubahan dan keanehan yang unik itu. Barangkali, dia pun sama seperti saya. Karena saya tidak punya pola yang menetap, jadi biarpun cape...ya, dia terpaksa menerima si Kepala Batu yang suka ngeyel ini untuk menjadi mitranya...hmmmh...



Perjalanan perkawinan saya pun akhirnya bergulir.

Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Tidak selalu mulus. Karena menyatukan dua orang yang sama saja pun sulit, apalagi menyatukan dua orang – plus dua keluarga besar dengan banyak budaya yang berbeda. Sulitnya lebih-lebih dari menuntut ilmu di bangku sekolah.

Kalau sekolah, kita punya tujuan dan target waktu tertentu. Kita punya prestasi yang diukur dengan nilai-nilai tertentu. Ada buku raport yang menunjukkan pencapaian yang telah kita peroleh selama menempuh pendidikan dan menuntut ilmu.

Sebuah perkawinan dan rumahtangga adalah sebuah hal yang berbeda.

Tidak ada perkawinan yang sama. Tidak ada kurikulum dan nilai yang menentukan, sebuah perkawinan sukses atau gagal. Raport merah di dalam sebuah perkawinan yang satu, barangkali masih raport hijau di perkawinan yang lain. Dan masing-masing harus menerima penilaian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bukan pihak ketiga atau keempat !

Saya menjalani sekolah perkawinan ini bersama Pangeran Remote Control. Membuat kurikulum dan target yang setiap saat berubah. Menentukan visi dan misi yang setiap saat bisa dievaluasi. Yang jelas, kami harus selalu siap menerima perubahan itu.

Itulah...sekolah perkawinan itu masih terus bergulir. Saya tidak tahu, kapan kami naik kelas, atau harus mengulang di kurikulum yang sama. Kami pun tidak tahu, kapan kami disebut sukses atau gagal. Semua adalah proses.

Perkawinan memang aneh dan unik. Itu adalah ibarat sebuah sekolah yang tak pernah selesai....Dan saya beruntung, masih berada di dalamnya bersama dengan Pangeran Remote Control, suami saya yang tercinta....


Jakarta, 30 September 2009
Untuk sebuah kebersamaan yang unik dan penuh tantangan..
Salam sayang,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih tidak terhingga untuk Guntur, My Pangeran Remote Control yang masih sabar mendampingi dan belajar bersama-sama di Sekolah Perkawinan ini...Perkawinan kita memang tidak sempurna, tapi inilah yang cocok untuk kita....hehehe...Juga buat Dhani, si Cantik kesayangan kami, yang membuat Sekolah Perkawinan kami menjadi lebih semarak dan penuh warna. Juga semua keluarga besar, yang memberi warna-warni, nilai, budaya dan menjadikan kami orang yang semakin kaya dan (mudah-mudahan) tambah bijaksana...hmmm...Oya...untuk kelinci-kelinci kami yang manja dan inspiratif, tokek di pohon yang selalu memberi tanda, dan burung-burung yang menjadi cermin kehidupan kami sehari-hari...I love U allz....

Perkawinan...

Dear Allz...

Suatu hari seorang sahabat saya bilang begini, “Tje, tulislah tentang perkawinan”. Hmm...perkawinan ? Tentang apanya ? Tentang sebuah perkawinan yang ideal ? Wooww...beraaat nih...

Kenapa ? Karena perkawinan itu memang bukan urusan mudah. Yang belum mengalaminya, kepengen buru-buru memasuki gerbangnya. Dan berharap seperti cerita putri-putri jaman dahulu kala, dengan kisah seperti ini ...”maka mereka pun hidup berbahagia selamanya...”.

Di sisi lain, orang yang sudah berada di dalam perkawinan, sering kali merasa bahwa perkawinan itu seperti bubu ikan, atau perangkap tikus...Mouse Trap. Dan mereka sekuat tenaga ingin lari atau melompat dari situ, dengan berbagai cara.

Namun apa pun kondisinya, perkawinan tetaplah sebuah misteri. Tidak ada perkawinan yang ideal, yang cocok untuk semua orang. Ibarat obat, semua harus sesuai dosis dan umur. Perkawinan adalah proses...sebuah perjalanan...dan tidak bisa instan. Tidak ada perkawinan ala kopi 3 in 1, yang cukup diseduh dengan air panas dan dinikmati rasanya. Perkawinan adalah sebuah adonan, yang tiap hari bisa berubah rasanya.

Hmmm...mumpung saat ini saya sedang berdebar-debar dan berbahagia...saya ingin sharing...berbagi pengalaman sedikit tentang perjalanan sebuah perkawinan...

Selamat menikmati...semoga berkenan....


Salam sayang,
Dari pojok Bintaro yang hening....


Ietje S. Guntur



Art-Living Sos 2009 (A-9
Rabu, 30 September 2009
Start : 30/09/2009 8:57:58
Finish : 30/09/2009 12:08:50



PERKAWINAN...
SEKOLAH YANG TAK PERNAH SELESAI


Besok, tanggal 1 Oktober adalah hari ulang tahun perkawinan saya. Dengan suami saya, yang saya sebut dengan panggilan sayang : Pangeran Remote Control. Ulang tahun ke 26. Hmm...Alhamdulillah...

Artinya....selama 26 tahun ini saya sudah hidup bersama dengan seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal. Seseorang yang memiliki begitu banyak perbedaan dengan saya. Namun, karena sebuah komitmen, jadinya kami dapat menjalankan kehidupan ini bersama-sama.

Berbeda ? Ya, iyalah...Coba lihat, betapa banyak perbedaan antara saya dan Pangeran.

Yang pertama, berbeda jenis kelamin...hehehehe...iya, ini penting. Kalau kelamin tidak berbeda, untuk apa saya menikah dan berumahtangga dengan dia ? Perbedaan ini juga yang kelak, di dalam perjalanan hidup bersama, membuat saya dan dia selalu tarik ulur. Selalu berusaha saling memahami, sekaligus bertanya-tanya : Apa sih yang salah dengan dia ? Kok dia tidak bisa memahami saya ? Apakah dia tidak tahu, kalau saya punya siklus hormonal yang mempengaruhi pemikiran saya, perasaan saya, dan nafsu-nafsu saya ? uuuhh....

Untunglah kami berbeda !

Yang lain adalah perbedaan bentuk fisik....Hmmm...Saya suka sama dia, dan dia suka sama saya, karena kami sama-sama berbeda. Saya perempuan, dengan segala lekuk tubuh kewanitaan yang berbeda dengan dia yang serba berotot di mana-mana. Saya lebih pendek beberapa sentimeter dari dia, dan ini menguntungkan saya. Jadi, untuk meraih barang yang ada di lemari, saya tinggal teriak, memanggil dia dan meminta tolong dengan wajah memelas. Saya juga lebih mungil dari dia. Jadi dalam keadaan terpaksa, saya bisa memanjat pagar atau menyelipkan tubuh di antara dahan pohon untuk membuka pintu dan mengambil sesuatu yang tersangkut di sana.

Ada lagi. Soal sifat dan karakter. Saya bawel dan cerewet seperti petasan banting. Sekali ngoceh, tidak bisa berhenti. Terus menerus mengalir seperti banjir. Dia (agak) pendiam. Jadi kalau saya mau mengoceh panjang lebar, dari urusan yang penting seperti urusan kenaikan harga-harga kebutuhan rumahtangga hingga urusan tidak penting tentang ‘siapa yang harus memberi makan burung dan kelinci ?”, maka dia akan menyediakan telinganya untuk mendengarkan. Sambil pura-pura budeg dan terus asyik dengan pencet-pencetan tombol remote control televisi...hehehe...

Masih ada. Soal selera makan. Hmmm...ini nih yang kadang sederhana, tapi bisa ribet urusannya. Pangeran Remote Control, doyan makan apa saja. Dari mulai buah-buahan, sayuran (terutama kuahnya), tempe, tahu hingga daging yang diproses segala macam. Kecuali ikan ! Saya nyaris sebaliknya. Tidak begitu doyan makan, tapi sangat suka ikan. Dari mulai ikan besar sekelas tuna dan cakalang, hingga ikan mini teri-teri sebesar jarum.

Urusan makanan ini akhirnya kami jadi saling bertoleransi. Saya yang semula sangat anti masuk dapur, mau tidak mau belajar untuk memasak dan menyediakan masakan yang disukai oleh Pangeran – dan belakangan ditambah anak semata wayang kami, si Cantik. Saya belajar memasak, dari yang sederhana seperti menggoreng telor mata sapi – yang pinggirnya kering keriting dan tengahnya basah setengah matang, hingga masak yang rumit seperti rendang, gulai otak sapi dan sambel goreng ati yang tidak boleh terlalu kering, dan membutuhkan bumbu dan teknik memasak yang khusus.

Saya yang semula sempat menjadi anti masakan daging apalagi jeroan, mau tidak mau terpaksa ikut mencicipi sekali-sekali. Bahkan paket opor bidadari dan lauk pauk hidangan lebaran yang komplit itupun bisa saya lakukan karena kesabaran Pangeran Remote Control mencicipi masakan saya. Mulai dari yang kurang asin, keasinan, kebanyakan bumbu dan kurang gurih sampai jadi seperti sekarang yang uenaksss dan mantaps...

Banyak lagi perbedaan di antara kami, yang membuat saya jadi menyadari, bahwa ternyata ada orang yang berbeda. Bahwa ada orang seaneh dan seunik dia. Bahwa ada orang yang bisa berpikir sangat berbeda, dan sering tidak masuk di akal saya. Bahwa ada orang yang bisa menyelesaikan masalah rumit dengan sekali jentik jari, tetapi kerepotan untuk membuka tutup kaleng atau mencari tempat yang tepat untuk menyimpan sendok dan garpu.


Saya jadi termenung.

Kalau begitu banyak perbedaan, lalu apa persamaan yang membuat kami dapat bersatu dan hidup bersama selama puluhan tahun ? Yang jelas, kami punya satu persamaan mutlak, yaitu : sama-sama kepala batu !

Hahahaha...iyaaaa...Saya ini memang biangnya ngotot dan keras kepala. Suami saya juga tak kurang-kurangnya kepala batu, alias keras hati !

Tapi anehnya....dan syukurnya juga, bahwa sindrom kepala batu kami jarang kumat bersamaan. Pada saat saya ngotot, dia diam saja. Dan sebaliknya, pada saat dia ngotot, saya cuek saja...huehehehehehe....

Begitu juga, soal ide. Pada saat ide saya membanjir seperti air, dia Cuma diam. Tidak menanggapi, tidak bereaksi apa pun. Sementara kalau dia sedang berpidato panjang-panjang mengenai ide-idenya ( yang sering aneh dan out of topic), saya pun hanya diam dan mencatat. Menyimpannya di dalam hati, mana tahu besok-besok dia lupa dan menanyakannya lagi kepada saya.

Jadiiiii....kalau mau dihitung dan dijumlahkan, antara perbedaan dengan persamaan, kayaknya antara saya dan Pangeran Remote Control, memang lebih banyak perbedaannya. Sangaaat banyak ! Tapi justru itu yang menantang, itu yang mengasyikkan, itu yang tidak membosankan. Karena setiap hari selalu ada pertanyaan : Apakah besok dia masih seperti itu ?

Dan kalau ada pertanyaan : apakah kamu bosan dengan dia ? huuuuu...jelas ! Siapa yang tidak bosan hidup bersama dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, berpuluh tahun. Setiap hari ?

Justru di situ juga tantangan yang menarik ! Bagaimana saya, si Kepala Batu ini, si Manusia tidak sabaran dan petasan banting ini, bisa bertahan, bisa mengelola kebosanan menjadi keasyikan...hihihi...

Kalau dia menyenangkan setiap waktu. Kalau dia selalu menurut dan selalu seperti sebuah pola yang gampang terbaca. Maka dia bukan hanya membosankan, tetapi juga menyebalkan....hehehehe...Tapi untunglah...dia selalu berubah-ubah, sehingga ketika rasa bosan itu datang, maka saya tertantang lagi untuk menaklukkan perubahan dan keanehan yang unik itu. Barangkali, dia pun sama seperti saya. Karena saya tidak punya pola yang menetap, jadi biarpun cape...ya, dia terpaksa menerima si Kepala Batu yang suka ngeyel ini untuk menjadi mitranya...hmmmh...



Perjalanan perkawinan saya pun akhirnya bergulir.

Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Tidak selalu mulus. Karena menyatukan dua orang yang sama saja pun sulit, apalagi menyatukan dua orang – plus dua keluarga besar dengan banyak budaya yang berbeda. Sulitnya lebih-lebih dari menuntut ilmu di bangku sekolah.

Kalau sekolah, kita punya tujuan dan target waktu tertentu. Kita punya prestasi yang diukur dengan nilai-nilai tertentu. Ada buku raport yang menunjukkan pencapaian yang telah kita peroleh selama menempuh pendidikan dan menuntut ilmu.

Sebuah perkawinan dan rumahtangga adalah sebuah hal yang berbeda.

Tidak ada perkawinan yang sama. Tidak ada kurikulum dan nilai yang menentukan, sebuah perkawinan sukses atau gagal. Raport merah di dalam sebuah perkawinan yang satu, barangkali masih raport hijau di perkawinan yang lain. Dan masing-masing harus menerima penilaian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bukan pihak ketiga atau keempat !

Saya menjalani sekolah perkawinan ini bersama Pangeran Remote Control. Membuat kurikulum dan target yang setiap saat berubah. Menentukan visi dan misi yang setiap saat bisa dievaluasi. Yang jelas, kami harus selalu siap menerima perubahan itu.

Itulah...sekolah perkawinan itu masih terus bergulir. Saya tidak tahu, kapan kami naik kelas, atau harus mengulang di kurikulum yang sama. Kami pun tidak tahu, kapan kami disebut sukses atau gagal. Semua adalah proses.

Perkawinan memang aneh dan unik. Itu adalah ibarat sebuah sekolah yang tak pernah selesai....Dan saya beruntung, masih berada di dalamnya bersama dengan Pangeran Remote Control, suami saya yang tercinta....


Jakarta, 30 September 2009
Untuk sebuah kebersamaan yang unik dan penuh tantangan..
Salam sayang,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih tidak terhingga untuk Guntur, My Pangeran Remote Control yang masih sabar mendampingi dan belajar bersama-sama di Sekolah Perkawinan ini...Perkawinan kita memang tidak sempurna, tapi inilah yang cocok untuk kita....hehehe...Juga buat Dhani, si Cantik kesayangan kami, yang membuat Sekolah Perkawinan kami menjadi lebih semarak dan penuh warna. Juga semua keluarga besar, yang memberi warna-warni, nilai, budaya dan menjadikan kami orang yang semakin kaya dan (mudah-mudahan) tambah bijaksana...hmmm...Oya...untuk kelinci-kelinci kami yang manja dan inspiratif, tokek di pohon yang selalu memberi tanda, dan burung-burung yang menjadi cermin kehidupan kami sehari-hari...I love U allz....

Perkawinan...

Dear Allz...

Suatu hari seorang sahabat saya bilang begini, “Tje, tulislah tentang perkawinan”. Hmm...perkawinan ? Tentang apanya ? Tentang sebuah perkawinan yang ideal ? Wooww...beraaat nih...

Kenapa ? Karena perkawinan itu memang bukan urusan mudah. Yang belum mengalaminya, kepengen buru-buru memasuki gerbangnya. Dan berharap seperti cerita putri-putri jaman dahulu kala, dengan kisah seperti ini ...”maka mereka pun hidup berbahagia selamanya...”.

Di sisi lain, orang yang sudah berada di dalam perkawinan, sering kali merasa bahwa perkawinan itu seperti bubu ikan, atau perangkap tikus...Mouse Trap. Dan mereka sekuat tenaga ingin lari atau melompat dari situ, dengan berbagai cara.

Namun apa pun kondisinya, perkawinan tetaplah sebuah misteri. Tidak ada perkawinan yang ideal, yang cocok untuk semua orang. Ibarat obat, semua harus sesuai dosis dan umur. Perkawinan adalah proses...sebuah perjalanan...dan tidak bisa instan. Tidak ada perkawinan ala kopi 3 in 1, yang cukup diseduh dengan air panas dan dinikmati rasanya. Perkawinan adalah sebuah adonan, yang tiap hari bisa berubah rasanya.

Hmmm...mumpung saat ini saya sedang berdebar-debar dan berbahagia...saya ingin sharing...berbagi pengalaman sedikit tentang perjalanan sebuah perkawinan...

Selamat menikmati...semoga berkenan....


Salam sayang,
Dari pojok Bintaro yang hening....


Ietje S. Guntur



Art-Living Sos 2009 (A-9
Rabu, 30 September 2009
Start : 30/09/2009 8:57:58
Finish : 30/09/2009 12:08:50



PERKAWINAN...
SEKOLAH YANG TAK PERNAH SELESAI


Besok, tanggal 1 Oktober adalah hari ulang tahun perkawinan saya. Dengan suami saya, yang saya sebut dengan panggilan sayang : Pangeran Remote Control. Ulang tahun ke 26. Hmm...Alhamdulillah...

Artinya....selama 26 tahun ini saya sudah hidup bersama dengan seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal. Seseorang yang memiliki begitu banyak perbedaan dengan saya. Namun, karena sebuah komitmen, jadinya kami dapat menjalankan kehidupan ini bersama-sama.

Berbeda ? Ya, iyalah...Coba lihat, betapa banyak perbedaan antara saya dan Pangeran.

Yang pertama, berbeda jenis kelamin...hehehehe...iya, ini penting. Kalau kelamin tidak berbeda, untuk apa saya menikah dan berumahtangga dengan dia ? Perbedaan ini juga yang kelak, di dalam perjalanan hidup bersama, membuat saya dan dia selalu tarik ulur. Selalu berusaha saling memahami, sekaligus bertanya-tanya : Apa sih yang salah dengan dia ? Kok dia tidak bisa memahami saya ? Apakah dia tidak tahu, kalau saya punya siklus hormonal yang mempengaruhi pemikiran saya, perasaan saya, dan nafsu-nafsu saya ? uuuhh....

Untunglah kami berbeda !

Yang lain adalah perbedaan bentuk fisik....Hmmm...Saya suka sama dia, dan dia suka sama saya, karena kami sama-sama berbeda. Saya perempuan, dengan segala lekuk tubuh kewanitaan yang berbeda dengan dia yang serba berotot di mana-mana. Saya lebih pendek beberapa sentimeter dari dia, dan ini menguntungkan saya. Jadi, untuk meraih barang yang ada di lemari, saya tinggal teriak, memanggil dia dan meminta tolong dengan wajah memelas. Saya juga lebih mungil dari dia. Jadi dalam keadaan terpaksa, saya bisa memanjat pagar atau menyelipkan tubuh di antara dahan pohon untuk membuka pintu dan mengambil sesuatu yang tersangkut di sana.

Ada lagi. Soal sifat dan karakter. Saya bawel dan cerewet seperti petasan banting. Sekali ngoceh, tidak bisa berhenti. Terus menerus mengalir seperti banjir. Dia (agak) pendiam. Jadi kalau saya mau mengoceh panjang lebar, dari urusan yang penting seperti urusan kenaikan harga-harga kebutuhan rumahtangga hingga urusan tidak penting tentang ‘siapa yang harus memberi makan burung dan kelinci ?”, maka dia akan menyediakan telinganya untuk mendengarkan. Sambil pura-pura budeg dan terus asyik dengan pencet-pencetan tombol remote control televisi...hehehe...

Masih ada. Soal selera makan. Hmmm...ini nih yang kadang sederhana, tapi bisa ribet urusannya. Pangeran Remote Control, doyan makan apa saja. Dari mulai buah-buahan, sayuran (terutama kuahnya), tempe, tahu hingga daging yang diproses segala macam. Kecuali ikan ! Saya nyaris sebaliknya. Tidak begitu doyan makan, tapi sangat suka ikan. Dari mulai ikan besar sekelas tuna dan cakalang, hingga ikan mini teri-teri sebesar jarum.

Urusan makanan ini akhirnya kami jadi saling bertoleransi. Saya yang semula sangat anti masuk dapur, mau tidak mau belajar untuk memasak dan menyediakan masakan yang disukai oleh Pangeran – dan belakangan ditambah anak semata wayang kami, si Cantik. Saya belajar memasak, dari yang sederhana seperti menggoreng telor mata sapi – yang pinggirnya kering keriting dan tengahnya basah setengah matang, hingga masak yang rumit seperti rendang, gulai otak sapi dan sambel goreng ati yang tidak boleh terlalu kering, dan membutuhkan bumbu dan teknik memasak yang khusus.

Saya yang semula sempat menjadi anti masakan daging apalagi jeroan, mau tidak mau terpaksa ikut mencicipi sekali-sekali. Bahkan paket opor bidadari dan lauk pauk hidangan lebaran yang komplit itupun bisa saya lakukan karena kesabaran Pangeran Remote Control mencicipi masakan saya. Mulai dari yang kurang asin, keasinan, kebanyakan bumbu dan kurang gurih sampai jadi seperti sekarang yang uenaksss dan mantaps...

Banyak lagi perbedaan di antara kami, yang membuat saya jadi menyadari, bahwa ternyata ada orang yang berbeda. Bahwa ada orang seaneh dan seunik dia. Bahwa ada orang yang bisa berpikir sangat berbeda, dan sering tidak masuk di akal saya. Bahwa ada orang yang bisa menyelesaikan masalah rumit dengan sekali jentik jari, tetapi kerepotan untuk membuka tutup kaleng atau mencari tempat yang tepat untuk menyimpan sendok dan garpu.


Saya jadi termenung.

Kalau begitu banyak perbedaan, lalu apa persamaan yang membuat kami dapat bersatu dan hidup bersama selama puluhan tahun ? Yang jelas, kami punya satu persamaan mutlak, yaitu : sama-sama kepala batu !

Hahahaha...iyaaaa...Saya ini memang biangnya ngotot dan keras kepala. Suami saya juga tak kurang-kurangnya kepala batu, alias keras hati !

Tapi anehnya....dan syukurnya juga, bahwa sindrom kepala batu kami jarang kumat bersamaan. Pada saat saya ngotot, dia diam saja. Dan sebaliknya, pada saat dia ngotot, saya cuek saja...huehehehehehe....

Begitu juga, soal ide. Pada saat ide saya membanjir seperti air, dia Cuma diam. Tidak menanggapi, tidak bereaksi apa pun. Sementara kalau dia sedang berpidato panjang-panjang mengenai ide-idenya ( yang sering aneh dan out of topic), saya pun hanya diam dan mencatat. Menyimpannya di dalam hati, mana tahu besok-besok dia lupa dan menanyakannya lagi kepada saya.

Jadiiiii....kalau mau dihitung dan dijumlahkan, antara perbedaan dengan persamaan, kayaknya antara saya dan Pangeran Remote Control, memang lebih banyak perbedaannya. Sangaaat banyak ! Tapi justru itu yang menantang, itu yang mengasyikkan, itu yang tidak membosankan. Karena setiap hari selalu ada pertanyaan : Apakah besok dia masih seperti itu ?

Dan kalau ada pertanyaan : apakah kamu bosan dengan dia ? huuuuu...jelas ! Siapa yang tidak bosan hidup bersama dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, berpuluh tahun. Setiap hari ?

Justru di situ juga tantangan yang menarik ! Bagaimana saya, si Kepala Batu ini, si Manusia tidak sabaran dan petasan banting ini, bisa bertahan, bisa mengelola kebosanan menjadi keasyikan...hihihi...

Kalau dia menyenangkan setiap waktu. Kalau dia selalu menurut dan selalu seperti sebuah pola yang gampang terbaca. Maka dia bukan hanya membosankan, tetapi juga menyebalkan....hehehehe...Tapi untunglah...dia selalu berubah-ubah, sehingga ketika rasa bosan itu datang, maka saya tertantang lagi untuk menaklukkan perubahan dan keanehan yang unik itu. Barangkali, dia pun sama seperti saya. Karena saya tidak punya pola yang menetap, jadi biarpun cape...ya, dia terpaksa menerima si Kepala Batu yang suka ngeyel ini untuk menjadi mitranya...hmmmh...



Perjalanan perkawinan saya pun akhirnya bergulir.

Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Tidak selalu mulus. Karena menyatukan dua orang yang sama saja pun sulit, apalagi menyatukan dua orang – plus dua keluarga besar dengan banyak budaya yang berbeda. Sulitnya lebih-lebih dari menuntut ilmu di bangku sekolah.

Kalau sekolah, kita punya tujuan dan target waktu tertentu. Kita punya prestasi yang diukur dengan nilai-nilai tertentu. Ada buku raport yang menunjukkan pencapaian yang telah kita peroleh selama menempuh pendidikan dan menuntut ilmu.

Sebuah perkawinan dan rumahtangga adalah sebuah hal yang berbeda.

Tidak ada perkawinan yang sama. Tidak ada kurikulum dan nilai yang menentukan, sebuah perkawinan sukses atau gagal. Raport merah di dalam sebuah perkawinan yang satu, barangkali masih raport hijau di perkawinan yang lain. Dan masing-masing harus menerima penilaian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bukan pihak ketiga atau keempat !

Saya menjalani sekolah perkawinan ini bersama Pangeran Remote Control. Membuat kurikulum dan target yang setiap saat berubah. Menentukan visi dan misi yang setiap saat bisa dievaluasi. Yang jelas, kami harus selalu siap menerima perubahan itu.

Itulah...sekolah perkawinan itu masih terus bergulir. Saya tidak tahu, kapan kami naik kelas, atau harus mengulang di kurikulum yang sama. Kami pun tidak tahu, kapan kami disebut sukses atau gagal. Semua adalah proses.

Perkawinan memang aneh dan unik. Itu adalah ibarat sebuah sekolah yang tak pernah selesai....Dan saya beruntung, masih berada di dalamnya bersama dengan Pangeran Remote Control, suami saya yang tercinta....


Jakarta, 30 September 2009
Untuk sebuah kebersamaan yang unik dan penuh tantangan..
Salam sayang,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih tidak terhingga untuk Guntur, My Pangeran Remote Control yang masih sabar mendampingi dan belajar bersama-sama di Sekolah Perkawinan ini...Perkawinan kita memang tidak sempurna, tapi inilah yang cocok untuk kita....hehehe...Juga buat Dhani, si Cantik kesayangan kami, yang membuat Sekolah Perkawinan kami menjadi lebih semarak dan penuh warna. Juga semua keluarga besar, yang memberi warna-warni, nilai, budaya dan menjadikan kami orang yang semakin kaya dan (mudah-mudahan) tambah bijaksana...hmmm...Oya...untuk kelinci-kelinci kami yang manja dan inspiratif, tokek di pohon yang selalu memberi tanda, dan burung-burung yang menjadi cermin kehidupan kami sehari-hari...I love U allz....

Perkawinan...

Dear Allz...

Suatu hari seorang sahabat saya bilang begini, “Tje, tulislah tentang perkawinan”. Hmm...perkawinan ? Tentang apanya ? Tentang sebuah perkawinan yang ideal ? Wooww...beraaat nih...

Kenapa ? Karena perkawinan itu memang bukan urusan mudah. Yang belum mengalaminya, kepengen buru-buru memasuki gerbangnya. Dan berharap seperti cerita putri-putri jaman dahulu kala, dengan kisah seperti ini ...”maka mereka pun hidup berbahagia selamanya...”.

Di sisi lain, orang yang sudah berada di dalam perkawinan, sering kali merasa bahwa perkawinan itu seperti bubu ikan, atau perangkap tikus...Mouse Trap. Dan mereka sekuat tenaga ingin lari atau melompat dari situ, dengan berbagai cara.

Namun apa pun kondisinya, perkawinan tetaplah sebuah misteri. Tidak ada perkawinan yang ideal, yang cocok untuk semua orang. Ibarat obat, semua harus sesuai dosis dan umur. Perkawinan adalah proses...sebuah perjalanan...dan tidak bisa instan. Tidak ada perkawinan ala kopi 3 in 1, yang cukup diseduh dengan air panas dan dinikmati rasanya. Perkawinan adalah sebuah adonan, yang tiap hari bisa berubah rasanya.

Hmmm...mumpung saat ini saya sedang berdebar-debar dan berbahagia...saya ingin sharing...berbagi pengalaman sedikit tentang perjalanan sebuah perkawinan...

Selamat menikmati...semoga berkenan....


Salam sayang,
Dari pojok Bintaro yang hening....


Ietje S. Guntur



Art-Living Sos 2009 (A-9
Rabu, 30 September 2009
Start : 30/09/2009 8:57:58
Finish : 30/09/2009 12:08:50



PERKAWINAN...
SEKOLAH YANG TAK PERNAH SELESAI


Besok, tanggal 1 Oktober adalah hari ulang tahun perkawinan saya. Dengan suami saya, yang saya sebut dengan panggilan sayang : Pangeran Remote Control. Ulang tahun ke 26. Hmm...Alhamdulillah...

Artinya....selama 26 tahun ini saya sudah hidup bersama dengan seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal. Seseorang yang memiliki begitu banyak perbedaan dengan saya. Namun, karena sebuah komitmen, jadinya kami dapat menjalankan kehidupan ini bersama-sama.

Berbeda ? Ya, iyalah...Coba lihat, betapa banyak perbedaan antara saya dan Pangeran.

Yang pertama, berbeda jenis kelamin...hehehehe...iya, ini penting. Kalau kelamin tidak berbeda, untuk apa saya menikah dan berumahtangga dengan dia ? Perbedaan ini juga yang kelak, di dalam perjalanan hidup bersama, membuat saya dan dia selalu tarik ulur. Selalu berusaha saling memahami, sekaligus bertanya-tanya : Apa sih yang salah dengan dia ? Kok dia tidak bisa memahami saya ? Apakah dia tidak tahu, kalau saya punya siklus hormonal yang mempengaruhi pemikiran saya, perasaan saya, dan nafsu-nafsu saya ? uuuhh....

Untunglah kami berbeda !

Yang lain adalah perbedaan bentuk fisik....Hmmm...Saya suka sama dia, dan dia suka sama saya, karena kami sama-sama berbeda. Saya perempuan, dengan segala lekuk tubuh kewanitaan yang berbeda dengan dia yang serba berotot di mana-mana. Saya lebih pendek beberapa sentimeter dari dia, dan ini menguntungkan saya. Jadi, untuk meraih barang yang ada di lemari, saya tinggal teriak, memanggil dia dan meminta tolong dengan wajah memelas. Saya juga lebih mungil dari dia. Jadi dalam keadaan terpaksa, saya bisa memanjat pagar atau menyelipkan tubuh di antara dahan pohon untuk membuka pintu dan mengambil sesuatu yang tersangkut di sana.

Ada lagi. Soal sifat dan karakter. Saya bawel dan cerewet seperti petasan banting. Sekali ngoceh, tidak bisa berhenti. Terus menerus mengalir seperti banjir. Dia (agak) pendiam. Jadi kalau saya mau mengoceh panjang lebar, dari urusan yang penting seperti urusan kenaikan harga-harga kebutuhan rumahtangga hingga urusan tidak penting tentang ‘siapa yang harus memberi makan burung dan kelinci ?”, maka dia akan menyediakan telinganya untuk mendengarkan. Sambil pura-pura budeg dan terus asyik dengan pencet-pencetan tombol remote control televisi...hehehe...

Masih ada. Soal selera makan. Hmmm...ini nih yang kadang sederhana, tapi bisa ribet urusannya. Pangeran Remote Control, doyan makan apa saja. Dari mulai buah-buahan, sayuran (terutama kuahnya), tempe, tahu hingga daging yang diproses segala macam. Kecuali ikan ! Saya nyaris sebaliknya. Tidak begitu doyan makan, tapi sangat suka ikan. Dari mulai ikan besar sekelas tuna dan cakalang, hingga ikan mini teri-teri sebesar jarum.

Urusan makanan ini akhirnya kami jadi saling bertoleransi. Saya yang semula sangat anti masuk dapur, mau tidak mau belajar untuk memasak dan menyediakan masakan yang disukai oleh Pangeran – dan belakangan ditambah anak semata wayang kami, si Cantik. Saya belajar memasak, dari yang sederhana seperti menggoreng telor mata sapi – yang pinggirnya kering keriting dan tengahnya basah setengah matang, hingga masak yang rumit seperti rendang, gulai otak sapi dan sambel goreng ati yang tidak boleh terlalu kering, dan membutuhkan bumbu dan teknik memasak yang khusus.

Saya yang semula sempat menjadi anti masakan daging apalagi jeroan, mau tidak mau terpaksa ikut mencicipi sekali-sekali. Bahkan paket opor bidadari dan lauk pauk hidangan lebaran yang komplit itupun bisa saya lakukan karena kesabaran Pangeran Remote Control mencicipi masakan saya. Mulai dari yang kurang asin, keasinan, kebanyakan bumbu dan kurang gurih sampai jadi seperti sekarang yang uenaksss dan mantaps...

Banyak lagi perbedaan di antara kami, yang membuat saya jadi menyadari, bahwa ternyata ada orang yang berbeda. Bahwa ada orang seaneh dan seunik dia. Bahwa ada orang yang bisa berpikir sangat berbeda, dan sering tidak masuk di akal saya. Bahwa ada orang yang bisa menyelesaikan masalah rumit dengan sekali jentik jari, tetapi kerepotan untuk membuka tutup kaleng atau mencari tempat yang tepat untuk menyimpan sendok dan garpu.


Saya jadi termenung.

Kalau begitu banyak perbedaan, lalu apa persamaan yang membuat kami dapat bersatu dan hidup bersama selama puluhan tahun ? Yang jelas, kami punya satu persamaan mutlak, yaitu : sama-sama kepala batu !

Hahahaha...iyaaaa...Saya ini memang biangnya ngotot dan keras kepala. Suami saya juga tak kurang-kurangnya kepala batu, alias keras hati !

Tapi anehnya....dan syukurnya juga, bahwa sindrom kepala batu kami jarang kumat bersamaan. Pada saat saya ngotot, dia diam saja. Dan sebaliknya, pada saat dia ngotot, saya cuek saja...huehehehehehe....

Begitu juga, soal ide. Pada saat ide saya membanjir seperti air, dia Cuma diam. Tidak menanggapi, tidak bereaksi apa pun. Sementara kalau dia sedang berpidato panjang-panjang mengenai ide-idenya ( yang sering aneh dan out of topic), saya pun hanya diam dan mencatat. Menyimpannya di dalam hati, mana tahu besok-besok dia lupa dan menanyakannya lagi kepada saya.

Jadiiiii....kalau mau dihitung dan dijumlahkan, antara perbedaan dengan persamaan, kayaknya antara saya dan Pangeran Remote Control, memang lebih banyak perbedaannya. Sangaaat banyak ! Tapi justru itu yang menantang, itu yang mengasyikkan, itu yang tidak membosankan. Karena setiap hari selalu ada pertanyaan : Apakah besok dia masih seperti itu ?

Dan kalau ada pertanyaan : apakah kamu bosan dengan dia ? huuuuu...jelas ! Siapa yang tidak bosan hidup bersama dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, berpuluh tahun. Setiap hari ?

Justru di situ juga tantangan yang menarik ! Bagaimana saya, si Kepala Batu ini, si Manusia tidak sabaran dan petasan banting ini, bisa bertahan, bisa mengelola kebosanan menjadi keasyikan...hihihi...

Kalau dia menyenangkan setiap waktu. Kalau dia selalu menurut dan selalu seperti sebuah pola yang gampang terbaca. Maka dia bukan hanya membosankan, tetapi juga menyebalkan....hehehehe...Tapi untunglah...dia selalu berubah-ubah, sehingga ketika rasa bosan itu datang, maka saya tertantang lagi untuk menaklukkan perubahan dan keanehan yang unik itu. Barangkali, dia pun sama seperti saya. Karena saya tidak punya pola yang menetap, jadi biarpun cape...ya, dia terpaksa menerima si Kepala Batu yang suka ngeyel ini untuk menjadi mitranya...hmmmh...



Perjalanan perkawinan saya pun akhirnya bergulir.

Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Tidak selalu mulus. Karena menyatukan dua orang yang sama saja pun sulit, apalagi menyatukan dua orang – plus dua keluarga besar dengan banyak budaya yang berbeda. Sulitnya lebih-lebih dari menuntut ilmu di bangku sekolah.

Kalau sekolah, kita punya tujuan dan target waktu tertentu. Kita punya prestasi yang diukur dengan nilai-nilai tertentu. Ada buku raport yang menunjukkan pencapaian yang telah kita peroleh selama menempuh pendidikan dan menuntut ilmu.

Sebuah perkawinan dan rumahtangga adalah sebuah hal yang berbeda.

Tidak ada perkawinan yang sama. Tidak ada kurikulum dan nilai yang menentukan, sebuah perkawinan sukses atau gagal. Raport merah di dalam sebuah perkawinan yang satu, barangkali masih raport hijau di perkawinan yang lain. Dan masing-masing harus menerima penilaian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bukan pihak ketiga atau keempat !

Saya menjalani sekolah perkawinan ini bersama Pangeran Remote Control. Membuat kurikulum dan target yang setiap saat berubah. Menentukan visi dan misi yang setiap saat bisa dievaluasi. Yang jelas, kami harus selalu siap menerima perubahan itu.

Itulah...sekolah perkawinan itu masih terus bergulir. Saya tidak tahu, kapan kami naik kelas, atau harus mengulang di kurikulum yang sama. Kami pun tidak tahu, kapan kami disebut sukses atau gagal. Semua adalah proses.

Perkawinan memang aneh dan unik. Itu adalah ibarat sebuah sekolah yang tak pernah selesai....Dan saya beruntung, masih berada di dalamnya bersama dengan Pangeran Remote Control, suami saya yang tercinta....


Jakarta, 30 September 2009
Untuk sebuah kebersamaan yang unik dan penuh tantangan..
Salam sayang,


Ietje S. Guntur


Special note :
Terima kasih tidak terhingga untuk Guntur, My Pangeran Remote Control yang masih sabar mendampingi dan belajar bersama-sama di Sekolah Perkawinan ini...Perkawinan kita memang tidak sempurna, tapi inilah yang cocok untuk kita....hehehe...Juga buat Dhani, si Cantik kesayangan kami, yang membuat Sekolah Perkawinan kami menjadi lebih semarak dan penuh warna. Juga semua keluarga besar, yang memberi warna-warni, nilai, budaya dan menjadikan kami orang yang semakin kaya dan (mudah-mudahan) tambah bijaksana...hmmm...Oya...untuk kelinci-kelinci kami yang manja dan inspiratif, tokek di pohon yang selalu memberi tanda, dan burung-burung yang menjadi cermin kehidupan kami sehari-hari...I love U allz....

Minggu, 23 Agustus 2009

SAPU LIDI

Dear Allz...

Pakabaaarrr teman dan sahabatku semua....???? Semoga sehat-sehat dan ceria selalu yaaa....Ya, mesti begitu dong...kan kita baru saja merayakan pesta ulang tahun, jadi suasana hati mesti tetap gembira...Iya, kan ? Ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 64...yang sudah kita semarakkan dengan berbagai acara. Dari mulai acara serius yang seremonial, hingga pesta rakyat yang heboh dan meriah....

Barangkali kita masih ingat beberapa hari lalu kita ramai bersorak-sorak ketika mengikuti perlombaan makan kerupuk, lomba balap karung, lomba menangkap belut, lomba masak nasi goreng kemerdekaan, lomba sepeda hias, lomba panjat pinang dan banyak lagi lomba-lomba khas masing-masing daerah....Rasanya kita menjadi akrab dan saling mendukung satu sama lain untuk meraih kemenangan....

Seandainya saja....semangat kebersamaan itu tetap menyala di dalam hati kita, di dalam setiap tekad dan cita-cita kita. Barangkali banyak hal yang bisa kita lakukan, dengan hasil yang lebih optimal . Mirip dengan filosofi sapu lidi...yang selalu bersatu teguh...

Hehehehe....saya jadi ingin berbagi sedikit. Berbagi cerita tentang sapu lidi. Yang barangkali sudah agak terpinggirkan dari rumah kita...Tapi nggak apa-apa...kita ambil semangatnya saja...dan barangkali suri tauladan yang bisa kita petik darinya...

Mau yaaaa....???? Mau...mau....mauuuuuuuuuuuu.....

Salam hangat,



Ietje S. Guntur




Art-Living Sos 2009 (A-8
Kamis, 20 Agustus 2009
20/08/2009 14:43:00
20/08/2009 17:18:27

SAPU LIDI....


Hari libur. Saya mulai mencari-cari rencana kegiatan yang bisa mengisi hari luang ini...Apa yaaa ???

Saya celingak-celinguk di seputar halaman. Kayaknya sih saya sudah lama tidak memperhatikan halaman rumah, yang sekarang nyaris kering kerontang tanpa rumput hijau yang menebar seperti permadani. Iya...musim kemarau yang sudah dimulai beberapa waktu lalu telah menunjukkan dampaknya. Rumput di halaman rumah saya, dan rumah tetangga (hmm...kenapa mesti lihat rumput tetangga, ya? ) sudah mulai mengering dan botak di sana sini. Hanya ada daun-daun yang luruh ditiup angin, memenuhi sebagian halaman.

Prihatin juga melihat halaman yang sebelumnya indah, sekarang seperti belantara tidak terpelihara...hiikkkss...hiiikkss.....Saya tertegun dan membatin, ” Aduuuuh... tanamanku, mohon maaf yaaa , aku sudah lama tidak memperhatikan kalian..”

Harus ada tindakan nyata nih...tidak bisa sekedar rencana dan wacana. Yang harus dilakukan pertama kali adalah membersihkan halaman. Menyapu daun-daun pohon yang berserakan ditiup angin.

Okeeee....langkah pertama : Cari sapu ! 

Hmm...iya, sapu lidi. Sapu yang dibuat dari kumpulan potongan lidi daun kelapa, lalu diikat kuat dan diberi tangkai di ujungnya. Ada juga sapu lidi Jawa, yang tanpa tangkai, hanya ikatan kuat saja. Sehingga ketika mempergunakannya kita harus terbungkuk-bungkuk mengikuti gerakan sapu. Saya lebih suka mempergunakan sapu lidi Sumatra , yang tangkai sapunya panjang dan batang lidinya lebih keras tapi luwes.

Begitulah....setelah mendapat peralatan kerja, sepanjang pagi itu saya pun asyik berdansa dengan sapu lidi yang kukuh . Sapu sana , sapu sini....ssrttt...ssrttt..Kumpulan lidi itu dengan lincah mengangkat daun-daun dan sampah yang berserakan. Daun besar, daun kecil, bahkan sisa-sisa rumput kering terangkat dalam satu tumpukan. Dalam sekejap tumpukan sampah sudah menggunung di sana sini...dan dengan cepat pula dapat saya kumpulkan dan dimasukkan ke dalam kantong sampah yang tersedia.



Ngomong-ngomong soal sapu lidi, tak hanya di rumah saya si Sapu Lidi bisa beraksi dengan lincah dan leluasa. Di jalan-jalan raya di seluruh kota, di lapangan atau di taman kota, bahkan di stasiun atau terminal bus dan kereta api yang belum memiliki fasilitas pembersihan otomatis peran sapu lidi sangat luar biasa.

Ada cerita menarik tentang sapu lidi ini. Yang mengingatkan saya kepada ayah saya . Ayah saya dulu sukaaaaaa banget menyapu halaman dengan sapu lidi. Setiap pagi dan sore, beliau suka menyapu sendiri halaman rumah kami yang cukup luas...hehehe...Bagi beliau, menyapu tak sekedar membersihkan halaman rumah, tetapi juga sekalian olahraga dan mengontrol lingkungan sekitar. Kadang, di pagi hari beliau juga menyuruh saya menyapu dari sisi satu lagi, sementara beliau di sisi halaman yang lain. Lalu sampah yang sudah disapu bisa dikumpulkan di tengah halaman. Dan kemudian sampah tersebut dimasukkan ke dalam lobang tempat sampah, dan dibakar.

Prosesi sapu menyapu dengan sapu lidi ini menjadi kegiatan yang rutin dan menyenangkan. Walaupun di pagi subuh itu kadang saya masih setengah mengantuk, tetapi berkat bantuan sapu lidi yang teguh dan terikat ketat, saya dapat menyelesaikan tugas dengan cepat dan rapi. Ada juga sih rasa bangga dan lega, setiap kali selesai menyapu. Sampah, daun dan rumput kering tidak tersisa lagi di halaman. Membuat halaman rumah jadi bersih dan kinclong...hehe...

Oya...saking doyannya menyapu, ayah saya pun pernah memberi hadiah sumbangan sapu lidi kepada kantor-kantor pemerintah di kota tempat tinggal kami dulu. Maksudnya tentu agar kantor instansi tersebut mencerminkan citra diri yang bersih dan rapi. Juga stasiun kereta api di kota Tanjung Balai pernah mendapat hadiah sapu lidi satu mobil penuh, yang dibeli ayah saya dari seorang pedagang keliling di kompleks perumahan kami di Medan . Memang, dengan sapu lidi, wajah sebuah instansi dan stasiun bisa lebih bersih dan lebih berwibawa...



Tak hanya ayah saya. Eyang putri saya, yang saya panggil dengan sebutan Eyang Goceng, dan tinggal di Jogya juga sukaaaaaa banget menyapu. Bedanya, ayah saya menggunakan sapu lidi yang bertangkai panjang, sedangkan eyang putri saya lebih suka menggunakan sapu lidi tanpa tangkai. Itu sebabnya kami menyebut sapu lidi yang dipergunakan oleh eyang kami sebagai sapu lidi Jawa...he he...

Kalau saya sedang berlibur ke Jogya, saya biasanya mendapat tugas menyapu halaman. Tapi belakangan, tanpa diminta pun saya juga suka menyapu halaman rumah eyang yang sangat luas. Tak cukup setengah hari untuk menyapu seluruh halaman. Disapu bagian depan, halaman belakang sudah kotor. Disapu yang belakang, halaman samping sudah penuh luruhan daun kering...hiks hiks...tapi saya tetap suka, karena biasanya disambi dengan melihat buah-buahan yang sedang berbuah di pohonnya...hmmm...

Menyimak kebiasaan sapu menyapu di keluarga saya...hmmm...Jangan-jangan...keluarga saya memang pencinta sapu lidi alias fans of Sapu Lidi dan menyapu halaman menjadi hobby juga...hahaha...



Melihat sapu lidi, saya jadi merenung.

Dipikir-pikir, hebat juga kekuatan sebuah sapu lidi. Dengan jalinan batang-batang lidi yang diraut bersih dari daun kelapa yang melekat, maka jadilah sapu lidi yang kokoh dan serba guna.

Kalau satu batang lidi hanya bisa untuk membuat tusukan sate, atau kadang anyaman untuk keranjang buah, kumpulan batang lidi itu secara bersama-sama bisa merubah sebuah tempat yang kotor menjadi bersih. Bayangkan saja, wajah sebuah kota tanpa bantuan sapu lidi sebagai alat pembersih jalanan dan halaman perkantoran. Apa jadinya ? Apa tidak seperti gadis cantik yang tidak mandi dan berpenampilan lusuh ? hiii...

Sebuah kota tidak mungkin dapat memperoleh penghargaan Adipura untuk keindahan dan kebersihan tanpa bantuan pasukan sapu lidi. Program-program pemerintah dan gagasan cemerlang seorang kepala daerah hanya tergeletak tanpa daya di atas kertas, tanpa bantuan pasukan kebersihan yang bersenjata sapu lidi.

Barangkali kita bisa belajar dari kumpulan sapu lidi ini. Dalam sendiri dia hanya berfungsi untuk hal-hal yang kecil. Tetapi dalam sebuah kumpulan, dia dapat mendukung sebuah karya besar. Kita bisa belajar dari persatuan para lidi, bahwa dalam kebersamaan lidi-lidi tersebut dapat mewujudkan sebuah prestasi yang gemilang.





Hidup kita ini bisa diibaratkan sebuah lidi. Di dalam keluarga, di dalam kampung, di dalam kota, bahkan di dalam negara, kita adalah lidi-lidi yang bersatu dan bersama-sama. Tanpa kebersamaan, kita hanya sebatang lidi yang mudah goyah dan patah. Tetapi dengan kekuatan bersama banyak hal besar yang bisa kita lakukan. Tak hanya sekedar menyapu, kita pun bisa mengenyahkan hal-hal kontra produktif yang mengancam kehidupan sosial kita.

Sekarang pilih...mau jadi tusuk sate saja sendirian, dan habis terbakar dimakan api, atau menjadi sebuah kekuatan bersama yang lain ? Seperti sapu lidi, yang harus bersama-sama untuk mewujudkan sebuah kekuatan, kita pun harus bersama-sama untuk melaksanakan sebuah karya yang besar. Ada sebuah semangat kebersamaan, yang menyatukan hati dan pikiran kita. Ada sebuah semangat, untuk mewujudkan cita-cita pribadi menjadi prestasi kita semua.

Saya jadi ingat sebuah kata bijak, yang barangkali cocok menjadi motto untuk sapu lidi ini, yaitu :
“Satu untuk semua, dan semua untuk satu...”

♥♥♥


Jakarta, 20 Agustus 2009

Salam sehangat semangat sapu lidi,


Ietje S. Guntur


Special note :
Thanks untuk sahabatku Farida Butet Manurung, yang menginspirasi tulisan tentang kebersamaan. Juga thanks untuk Pa dan Eyang Goceng, yang terus memberi semangat dengan sapu lidi yang inspiratif....



Ide :
1. Tentang kebersamaan. 
2. Republik Indonesia ini terdiri dari satu demi satu sapu lidi. Kita baru kuat dan tegar setelah bersama-sama. Banyak sejarah menunjukkan bahwa kebersamaan itu harus dijaga dan dipelihara.
3. Sebuah negara adalah sebuah korporasi seperti seikat sapu lidi.
4. Motto sapulidi adalah satu untuk semua, dan semua untuk satu.
5. Dalam ranah merdeka, sapu lidi adalah simbol persatuan dan kesatuan.

Senin, 20 Juli 2009

SETELAH BERADA DI PUNCAK...

FB-Note 2009

SETELAH  BERADA DI PUNCAK....

Ide itu tiba-tiba melintas di kepala saya. Setelah berada di puncak, kita terus mau kemana ? Iya...ya...mau kemana ?

Duluuuu....ketika saya masih remaja, ketika saya sedang gila-gilanya naik gunung , seorang kerabat pernah bertanya : “Ngapain kamu naik-naik gunung begitu ? Kalau sudah di atas, terus mau ngapain? Turun lagi ? Laaah...ngapain naik-naik ke puncak gunung, kalau nanti toh akan turun lagi.”

Saya pikir, ada juga benarnya pendapat kerabat saya itu. Tapi kenapa, setiap kali melihat ada bukit atau gunung di depan mata, rasanya kaki ini kepengen aja naik ke sana. Merayap-rayap, merambat-rambat, dan kadang harus bergelantungan, untuk mencapai puncaknya. Dan di puncak, kadang tidak menetap lama...Setelah lihat kiri dan lihat kanan...setelah istirahat sejenak...setelah mengucapkan syukur ke HadiratNya, bahwa masih diberi kesempatan dan kekuatan untuk mencapai puncak, ya sudah...turun lagi...

Begitu berulang kali...

Saya juga pernah bertanya kepada teman-teman yang nggak boleh melihat gunung menganggur di depan mata...hehe...Jawabannya Cuma satu ,”Ya, enak aja ke atas gunung. Ada perasaaan yang gimana...gitu...Perasaan puas sudah bisa mencapai sebuah target...”

Nah, itulah dia...

Perasaaan gimana...gitu !!! (sulit untuk diterjemahkan...gimana gitu-nya...hehehe...soalnya ini bahasa rasa...bahasa ekspresi..). Perasaan takut, was-was, kesal, panik yang larut menjadi perasaan puas, perasaan meluap, perasaan bahagia yang tidak bisa dibuat skala ukurannya....ketika kita sudah mencapai sebuah titik puncak, dan berada di sebuah ketinggian yang kita targetkan sejak awal.

Proses mencapai puncak, adalah proses perjuangan yang kadang tidak terpikirkan oleh kita. Walaupun sudah berkali-kali menjalani proses yang sama, tetapi setiap kali selalu ada perbedaan dalam prosesnya. Hari ini proses itu agak mudah dan tidak banyak halangan. Besok proses itu lebih sulit dan banyak kendala. Lusa proses itu lebih sulit lagi, dan nyaris tidak terlampaui. Kadang malah terbalik, hari ini sulit tetapi semakin lama semakin mudah dan tidak ada halangan.

Proses mencapai puncak, adalah proses mengolah kemampuan...proses menentukan target...proses belajar dan mengukur kemampuan diri...proses mengolah pengalaman masa lalu, untuk mendapatkan pengalaman baru yang memperkaya hidup ini...

Itulah yang saya dapatkan dalam setiap proses mencapai puncak. Kita yang harus bergerak ke titik tinggi yang kita tentukan. Kita yang harus berusaha untuk mencapai tujuan. Tidak bisa dibalik...titik tujuan itu yang datang menghampiri kita...

Seorang pendaki gunung, adalah seseorang yang tangguh. Tidak manja. Dia mandiri, sekaligus dapat bekerjasama di dalam sebuah tim. Ada kalanya dia harus berjuang sendiri, merayap-rayap atau bergelantung. Tapi ada saatnya, berpegangan tangan, saling mengulurkan tali pertolongan adalah satu-satunya cara untuk selamat dan tiba di puncak. Di dalam proses ini, semua ego harus dilebur.

Kemandirian tak berarti kesendirian. Kerjasama kelompok, saling dukung dan saling bantu, adalah proses perjuangan yang butuh kerendahan hati. Satu untuk semua, dan semua untuk satu, adalah salah satu filosofi para pendaki gunung. Keberhasilan satu orang, tanpa dukungan kelompoknya, tidak kan terjadi. Begitu pula, keberhasilan kelompok, adalah juga keberhasilan kita juga. Satu perjuangan. Satu rasa.....yang “gimana gitu” tadi...

Barangkali, proses menguji kemampuan diri, proses melebur ego, proses menyatu dengan lingkungan itulah yang membuat saya, dan banyak penggila gunung lain yang tidak pernah puas belajar dari alam. Setiap kali setelah berada di puncak, setiap kali setelah melihat ke kiri kanan...tak hanya pemandangan alam yang dinikmati. Tapi lebih dalam lagi...beyond the journey...kita mendapatkan kepuasan batin yang luar biasa...dan terungkap dalam satu kata ‘ternyata aku bisa’...’ternyata kami bisa’....

Seyogyanya perjalanan ke puncak gunung itu tidak semata-mata perjalanan fisik, membawa langkah kaki dan memanggul perlengkapan untuk bertahan hidup. Perjalanan ke puncak gunung adalah sebuah perjalanan batin. Perjalanan ujian. Yang membuat hidup ini semakin kaya, dan selalu bersyukur... karena masih memperoleh kesempatan untuk belajar dan meng-alam-i... Karena masih memperoleh kesempatan untuk menguji diri...menjadi lebih kuat dan mandiri...

Kembali ke bumi...eeeh...kembali ke dunia nyata yang berada di dunia ‘datar’...saya melihat banyak puncak-puncak gunung di sekitar saya. Puncak gunung karier...puncak gunung jabatan...puncak gunung kekayaan...puncak gunung keilmuan...puncak gunung berkeluarga....dan banyak lagi...

Yang menjadi pertanyaan : Setelah berada di puncak, kita mau ke mana ? Kita mau ngapain ?

Apakah kita bisa, seperti saat mendaki gunung yang sebenarnya...Kita turun lagi...pelan-pelan...dan mencari gunung lainnya untuk didaki...dengan membawa pengalaman batin yang bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya...

Semoga saja...


Jakarta, 20 Juli 2009
Salam hangat,

Ietje S. Guntur

Special note : thanks untuk semua sahabat gunung...di mana pun berada...Kenapa gw tiba-tiba jadi ingat Othniel, Bima, Haar, Herry, Kancil, Anton, Iskandar, Ade, Chairal, teman-teman di Pramuka Bhayangkara (Medan)...woooww...campur aduk semua deeh... thanks buat spiritnya yaaachhh...Masih kuat mendaki gunung lagi gak ??? hehe...

Start : 20/07/2009 8:58:06

Finish : 20/07/2009 9:21:41