Sabtu, 20 Desember 2008
Menulis buku...
Kangen nih, yaa....
Udah lama banget gak bisa posting di sini. Nggak tau kenapa. Kalau ngopi artikel dari yang udah ada pasti ditolak. Jadi males deh urusannya...hehehe...
Hari ini aku pengen nulis sebetulnya...Banyak banget yang pengen ditulis...Tapi lagi sakit mata. Gak bisa lama di depan komputer. Ini juga curi-curi pandang aja nongkrong di kompi...Kangen sama temen-temen di dunia maya, yang kadang sulit banget ditemui di dunia nyata...heh heh...
Barusan ada beberapa yang lagi OL...lumayan deh buat menghibur hati yang terkurung di balik jendela.
Ternyata ini gak enak banget yaaa...mata sakit...kaki pengen jalan...Waaah...gak kompak!
Apalagi hati...udah kelayapan entah ke mana. Mau baca buku juga gak konsen deeeh...Dari tadi udah 4 buku dibolak-balik...dari yang serius dan rada ilmiah sampe yang sekedar chiklit...cerita iseng, yang ternyata ada pembelajaran juga...tentang ABG yang bingung dengan kondisi dirinya. Pokoknya kalo baca buku, ya mesti ada yang diperoleh deeh...
Ada yang bilang, buku itu cuma deretan huruf dan kata-kata. Tapi untuk membuat huruf dan kata-kata jadi bermakna diperlukan olah pikir dan olah jiwa. Ini yang tidak dimiliki oleh semua orang. Jadi berbahagialah orang yang bisa menulis dengan pikiran yang terang dan jiwa yang lapang...
Saya juga lagi mau nulis buku niih...Eeeh, maksudnya membukukan tulisan yang sudah ada menjadi buku yang bisa dibawa kemana-mana. Doain aja deeeh...biar lebih banyak orang yang bisa membaca tulisan saya...Jadi lebih bermanfaat gitu hidup yang pendek ini...
Oke dulu yaaa....ntar nyambung lagi...
Salam sayang,
Ietje
Selasa, 09 September 2008
Kelas Akselerasi...
Temanz,
Pagi ini ( Senin - 26 Juli 2004), saya baca koran Kompas, ada satu artikel menarik berjudul "Kelas Akselerasi, Budaya Instan Pendidikan Kita". Isinya antara lain menceritakan pengalaman seorang anak bernama Tasya, usia 12 tahun, sudah lulus SMP, dan minggu lalu mulai masuk ke SMA. Dikatakan, bahwa Tasya sangat takut menghadapi kelas barunya itu.
Masih berkaitan dengan Hari Anak Nasional yang diperingati tanggal 23 Juli yang lalu, kalau kita melihat kasus Tasya - yang dalam usia masih anak-anak tetapi sudah bisa masuk SMA, barangkali kita bisa melihatnya dari beberapa kacamata. Kacamata orangtua : jujur saja, orang tua mana sih pada jaman serba penuh persaingan dan pameran prestasi ini yang tidak bangga punya anak yang sangat unggul dan bisa diterima di kelas akselerasi yang bergengsi itu ?
Kacamata buku psikologi : lho, kok anak umur 12 tahun sudah masuk ke SMA ? Apa dia sudah menyelesaikan tugas perkembangannya untuk usia 12 tahun ? Kok pada usia itu dia harus memikul beban tugas perkembangan seorang 'remaja' usia 15-16 tahun ? Bagaimana perkembangan emosi dan sosialnya ?
Kacamata anak : Ibuuuuuuuuuuu....aku takut menghadapi kakak-kakak kelasku yang galak-galak itu ! Mampukah aku mengikuti gaya pergaulan mereka ? Mampukah aku berkomunikasi dengan 'bahasa' mereka ? Apakah nanti aku akan diterima dan diperlakukan seperti teman mereka yang sebaya, atau aku akan dikucilkan karena dianggap anak bawang ? Atau aku akan dimusuhi karena dianggap sebagai saingan berat ? (Ibu, ingat nggak kasus kakak kelas yang menculik dan menyiksa adik kelasnya, karena dianggap sebagai saingan ...aku takut aku juga diperlakukan begitu !)
Apa pun, kelas akselerasi sudah berjalan , dan ternyata banyak peminatnya. Terutama para orang tua ( baca : IBU ), akan sangat bangga kalau anaknya diterima dan mengikuti kelas akselerasi. Sebaliknya, akan kecewa kalau ternyata anaknya tidak diterima di kelas akselerasi.
Sekarang kita lihat, apa hasil kelas akselerasi itu ? Apakah anak-anak yang ikut kelas akselerasi dan lulus SMA dalam usia 13 - 14 tahun akan sukses seterusnya ? Oke, mereka bisa masuk perguruan tinggi dan lulus lagi sebagai sarjana pada usia 16-17 tahun ! Lalu apa ? Apakah dengan demikian mereka sudah sukses menjadi orang ? Lalu, apakah mereka lalu dengan mulus dapat melenggang ke dunia kerja atau ke masyarakat yang kompleks dan sangat hiruk pikuk dengan berbagai persoalan ?
Saya ingat, beberapa tahun lalu, ada 2 orang anak ( kebetulan laki-laki) yang lulus SMA dalam usia sangat muda ( kalau tidak salah ya, 14-15 tahun begitu). Itu semua berkat sistem pengajaran yang langsung dibimbing oleh orangtuanya yang ( kebetulan pula) seorang guru. Jadi selama 24 jam sehari mereka belajar dan belajar terus secara sistematis. Hasilnya ? Saya tidak tahu di mana kedua anak itu sekarang berada . Apakah mereka menuai sukses di dalam karier dan hidupnya, atau bagaimana ? ( barangkali ada rekan yang ingat, sekitar tahun 80-an begitu).
Barangkali di sini saya mau sharing sedikit pengalaman saya. Saya punya seorang anak ( tunggal ), perempuan, dan masuk SD pada usia 5 tahun tepat. Ketika itu saya hanya berpikir ringkas saja, dari pada main di TK kelamaan ( dia masuk TK dari usia 3 tahun, karena dekat dengan rumah, dan tujuannya memang untuk main saja), lebih baik dia dicoba masuk ke SD. Itu pun saya membuat perjanjian dengan gurunya, kalau dia tidak mampu mengikuti pelajaran, biarkan dia tinggal kelas dan mengulang. Tapi apa daya, ternyata tahun pertama sampai tahun ketiga dia bisa mengimbangi teman sekelasnya dan masuk rangking 3 besar ( saya tidak terlalu peduli dengan rangking, yang penting dia enjoy dengan sekolahnya). Tiga tahun itu merupakan saat yang menyenangkan untuk dia, karena dia masih bisa sekolah semau-maunya. Kalau dia cape, saya tidak pernah paksakan untuk masuk. Bikin pe-er juga tidak terlalu banyak, jadi sambil santai dia bisa menyelesaikan tugasnya. Kegiatan di rumah juga saya batasi hanya berenang ( ini memang saya wajibkan, agar dia berani dengan air , bukan untuk jadi juara olimpiade) dan bermain dengan teman-temannya di rumah.
Masalah baru mulai muncul ketika dia kelas 4 SD sampai lulus SD. Entah karena badannya yang kecil, atau karena pertumbuhannya terhambat, dia mulai merasa minder dengan teman-teman sekelasnya (perempuan) yang tumbuh besar dan sudah menunjukkan ciri-ciri kewanitaannya. Dia sampai agak stres mengamati dirinya sendiri, yang secara fisik masih saja seperti anak kelas 2 - 3 SD. Pada saat itu saya sendiri tidak berpikir, bahwa hal itu sangat mempengaruhi dirinya. Jadi dengan santai saya menjelaskan bahwa saatnya juga akan tiba dia menjadi gadis remaja .
Masuk SMP, badannya masih saja kecil dan setipis papan setrikaan walaupun tingginya sudah mengikuti teman-temannya. Bukan itu saja, dia pun sulit memahami 'hasrat biologis' teman-teman seangkatannya yang rata-rata berusia 1-2 tahun di atasnya. Dan dengan bloon dia bertanya kepada teman-temannya ( karena teman dianggap dewa yang tahu segalanya). Tentu saja dia ditertawakan dan kembali dianggap sebagai anak kecil. Kondisi ini berlanjut terus sampai dia SMA, karena kebetulan dia sekolah di tempat yang sama - dan temannya sebagian besar masih yang itu-itu juga.
Akhirnya, setelah lulus SMA ( dengan peringkat yang cukup baik) , dia baru bilang bahwa dia sudah melewati masa paling sulit dalam hidupnya, yaitu merasa tidak pernah sesuai dengan perkembangan ( psikologis ) teman-temannya. Pada saat itulah saya baru sadar, bahwa saya pernah salah dalam memberikan lingkungan pendidikan yang sesuai bagi anak saya ( padahal konon saya seorang psikolog). Saya akui, bahwa yang baik menurut saya, belum tentu cocok dengan anak saya. Dan untungnya, dia kuat menahan itu semua, dengan mengimbanginya melalui pergaulan di luar sekolah yang dipilihnya sendiri ( tentu saja dengan berkonsultasi dengan saya dan ayahnya, selaku 'PENGUASA' di rumah...hehehe...).
Pada saat kelulusannya dulu ( 3 tahun yang lalu), saya hanya bisa bilang ," Tugas terberat ibu sebagai orangtua juga hampir selesai. Paling tidak kamu sekarang sudah punya ijazah SMA. Sekarang terserah kamu, mau diapakan itu ijazah. Mau dipakai untuk melanjutkan kuliah, atau mau dipakai untuk bekerja, atau mau dipakai untuk cari jodoh." Dan benar saja, dia memilih kuliah menuruti kata hatinya sendiri. Apa-apa yang terpendam selama 9 tahun masa pendidikannya yang penuh dengan penderitaan ( 3 tahun pertama waktu SD masih merupakan masa manis), diluapkannya selama masa kuliah. Tahun pertama dihabiskannya untuk jadi segala macam panitia kegiatan di kampus, tahun kedua dia belajar serius, tahun ke tiga dia mulai belajar cari duit sendiri. Karena saya sudah berjanji tidak akan mengomentari pilihan hidupnya, jadinya ya, sekarang Tut Wuri Handayani saja. Que sera sera saja. Karena seperti Khalil Gibran bilang, bahwa 'ANAKMU BUKANLAH ANAKMU...DIA SEPERTI ANAK PANAH, YANG DILEPASKAN DARI BUSURNYA..'
Jadi, kembali ke Kelas Akselerasi...apa pun tujuannya, sebaiknya kita meneliti lagi : Apakah pendidikan itu untuk kepentingan anak ? Ataukah untuk kepentingan orangtua ? Ataukah untuk kepentingan sekolah - yang sekarang sudah menjadi industri pendidikan ? Karena seperti kata sesepuh pendidikan Ki Hajar Dewantoro, bahwa pada dasarnya pendidikan anak adalah pendidikan bangsa, kita tidak hanya mendidik akalnya tetapi juga batinnya ( perasaannya). Dan tujuan pendidikan itu bukan sekedar membuat orang pintar, tetapi membuat orang MAMPU MENYELESAIKAN MASALAHNYA. Nah, kalau kelas akselerasi atau kelas dini ( seperti kasus anak saya sendiri) justru menimbulkan masalah bagi si anak ( dan buntutnya juga orangtua ), apakah tidak perlu dikaji ulang dalam pelaksanaannya ?
Gitu ajalah ! I care, but I dont cry, lho...
Salam,
>ietje<
Minggu, 31 Agustus 2008
Art Puisi 2008 - Ketika Rindu
KETIKA RINDU…
Pagi ini…
Waktu seakan terhenti
Ketika rindu membuncah
Dan suaramu datang mendesah…
Hanya suara…
Yang datang dari dunia sebelah
Tapi itu
Adalah tanda hadirmu
Yang kunanti ribuan detik di belakangku…
Pagi ini…
Ketika kudengar lagi suaramu
Aku seperti terlempar ke masa lalu
Ketika semua lagu hanya untukmu
Ketika semua cahaya menyinarimu
Ketika semua rindu
Terhampar untuk memelukmu
Pagi ini…
Semua menjadi nyata
Sekaligus menjadi maya
Dan
Menyeruakkan tanda tanya…
Adakah rindu kita
Masih berpagut dalam asa…
♥
Bintaro, 31 Agustus 2008
Ietje
Notes : Untuk sebuah asa yang tak bertepi...
Ngapain...
Dear Allz....
Hehehe...met soreeeee....Udah santai niiih ? Belum, ya ? Lho...kan udah hari Rabu ? Apa hubungannya ya ? Hmm...enak kok ngobrol yang kadang nggak ada hubungannya satu sama lain. Agar kita bisa mencari jembatan keledainya sendiri. Dan kalau nggak ada keledainya, ya cari jembatannya saja...he he...
Eeeh...saya sudah lama, ya nggak menongolkan diri. Iya niiih...lagi agak malu-malu kucing. Barangkali memang masa inkubasi itu bertahap. Dan hari ini pas cuaca lagi bagus...mood lagi indah...jadi deeeh...saya ingin berbagi dengan teman-teman dan sahabat semua.
Semoga berkenan, yaaaa....
Salam hangaaat sekaliiiiiiii,
Ietje
Art-Living Sos 2008 (A-8.01
Start : 27/08/2008 11:03:01
Finish : 27/08/2008 16:30:13
N.G.A.P.A.I.N ?
Saya sedang asyik di kantor.
Berkutat dengan rutinitas dan timbunan dokumen yang seperti fans artis...antri minta perhatian dan tandatangan. Tiba-tiba ingat, bahwa ponsel saya yang satu lagi perlu diisi ulang. Pulsanya sih masih lumayan, tapi masa berlakunya sudah nyaris tamat. Rupanya ponsel yang ini kurang aktif. Maklum nomor cadangan, jadi jarang dipergunakan untuk tebar-tebar pesona...hehehe..
Jadi, dengan cara yang primitif, saya pun titip membeli vocher isi ulang. Lalu, di tengah kesibukan periksa sana sini, tanda tangan ini itu, tangan saya pun iseng menggosok-gosok kartu isi ulang pulsa. He..eeeh... ternyata seru juga. Biasanya pulsa ini langsung saya isi secara elektrik. Tapi kali ini ya manual sajalah. Karena belum sempat ke luar kantor , belum sempat ke ATM, dan masih agak lupa dengan nomor ponsel sendiri ( biasalah...ini kan sindrom lupa-lupa ingat.)..yang diingat ya, nomor ponsel orang lain...Nomor sendiri biasanya nggak ingat, karena kita kan nggak pernah telepon ke diri sendiri kecuali kalau ponselnya terselip entah dimana.. (ngaku ajalah...ha ha ha...).
Baru saja pulsa terisi, tiba-tiba ponsel itu berkedip riang. Hmm...main mata nih sama aku, pikir saya sambil tersenyum. Kayak ngerti aja kalau umur pakainya sudah berlanjut. Ternyata ada pesan SMS yang masuk. Dari siapa ya ? Kok jadi penasaran. Jadi pelan-pelan saya intip sedikit . Ternyata sahabat saya yang jauh di luar kota. “Lagi ngapain?” Cuma itu. Iiiih...iseng amat siiih. Mau pendek atau agak panjang, kan biayanya sama. Dasar nggak ekonomis !
Tapi hati saya jadi tergelitik. Ngapain ? Pertanyaan singkat yang kadang membawa arti banyak. Hmm...pasti ini arah pertanyaannya adalah ,”Lagi ngapain ? Lagi beraktivitas apa ? Dan kalau mau diperpanjang menjadi pertanyaan yang posesif , menjadi seperti ini, “Di mana ? Sama siapa ? Terus ngapain aja ? Asyik nggak ?” he he he...
Sambil tangan kanan ada di atas dokumen (pegang bolpen buat tandatangan...), tangan kiri asyik pencet-pencet tombol ponsel. Kayak lagi di jalan raya saja...main akrobat dengan tangan kiri kanan. Kanan pegang setir...kiri pegang ponsel...he hehhh....Horeee...bisaaaa !!!
Saya jawab sesuai kondisi yang ada ,” Aku lagi bernapas seperti biasa, sambil gosok-gosok voucher hape mau refill...sama nulis, dengerin lagu, nandatangan, ngoceh-ngoceh...full spirit deh.”
Setelahnya, saya tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan ekspresi sahabat saya, yang pasti berkerut-merut menahan tawa. Pasti dia juga akan membayangkan ekspresi saya di balik timbunan dokumen, dengan gaya cuek kiri kanan, dan memecah konsentrasi untuk beragam kegiatan...(inilah hebatnya para bidadari...bisa one for all...ha ha).
♥
Saat yang lain.
Sahabat saya , member of insom-mania (saudara kembarnya insomnia..) yang sering mengalami sindroma sulit tidur dan cepat bangun, dan punya kebiasaan membagi kegelisahan ke segenap penjuru dunia, mengirim SMS dengan nada yang sama ,”Ngapain ?”
Saya lihat jam weker di atas meja di samping bantal saya. Aduuuh...masih jam 03.00 dinihari. Kenapa sih nggak bisa tenang kalau melihat saya bermimpi (memangnya dia tahu kalau saya sedang bermimpi ?). Setengah mengantuk, saya memencet tombol ponsel di bawah bantal...(he he he...sebetulnya nggak penting, tapi yang satu ini mesti dibalas kalau tidak dia akan terus berkicau riang tanpa rasa dosa).
“Lagi merem !” saya mengetik sebaris kata. Lalu tekan tombol kirim. Selamat. Dia pasti sudah tenang karena sudah dijawab.
Eeeh...tapi dia malah membalas lagi dalam hitungan detik, “Wakakakaka....”
Untunglah saya gampang melek, dan lebih mudah lagi jatuh terlelap. Jadi urusan SMS nggak penting itu pun lenyap di dalam mimpi jilid kedua. Sambil saya terbawa pikiran dan lanjutan pertanyaan ,”Ngapain ?” Ya, ngapain sms malam-malam ? Ngapain mesti tidur cepat ? Ngapain mesti begini dan begitu ? Heeeh...iya,ya ? Ngapain aja sih kita ini sepanjang hari-hari kita? Ngapain aja sih kita sepanjang hidup kita ? Hmmm....
Saya kan jadi terjaga lagi !
Huuuhh....!!!
♥
Ngomong-ngomong soal pertanyaan “NGAPAIN”...sebetulnya ini tidak ada dalam kalimat resmi bahasa Indonesia. Tapi justru dalam kehidupan sehari-hari, perkataan ini sering muncul. Dengan berbagai variasi nada. Dengan berbagai arti dan makna.
Seperti seorang sahabat saya yang lain. Jika diajak pergi ke suatu tempat, pasti jawabannya begini ,”Ngapain sih ? Jauh. Kan panas. Males aaah...”.
Atau kalau diajak beraktivitas yang di luar seleranya, maka dia akan menjawab ketus ,”Heran, ya. Ngapain menyusahkan diri sendiri ? Mending yang aman-aman ajalah !”
Sengaja atau tidak sengaja, perkataan NGAPAIN sering kita ucapkan. Bertanya, mengkonfirmasi, menolak, bisa diekspresikan dengan satu kata pendek itu. Bahkan perkataan itu bisa menjadi jawaban standar atau ciri khas seseorang dalam berinteraksi. Ini pengalaman saya sendiri dengan ayah saya, yang biasanya memang jarang ngomong panjang-panjang.
Saya ingat, jaman saya masih kecil dulu, kalau berkomunikasi dengan ayah saya selalu kepentok dengan kata-kata NGAPAIN ini. Misalnya, kalau saya mengajak ayah saya jalan-jalan, biasanya jawaban pertama yang tercetus dari ayah saya adalah ,”Ngapain ?” dengan nada datar. Atau kalau saya minta dibelikan buku atau sepatu (hehehe...dari kecil sudah ketahuan doyan jalan...), jawabannya tetap sama ,” Ngapain ?” atau paling ditambah dengan satu kata lagi, “Untuk apa ?” Singkat . Pendek. Tapi tetap butuh penjelasan yang boleh jadi terpaksa berpanjang-panjang dan berdalil-dalil...heh heh...
Hmmm....dipikir-pikir...perkataan NGAPAIN itu memang aneh. Dalam bentuk yang singkat ia menuntut sebuah pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan, dimasa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Ibarat sebuah cermin, kata NGAPAIN itu adalah refleksi dari kehidupan kita. Bener nggak siih ?
Aaaah...nggak usah dibahas ! Ngapain juga dipikirin...he he he..
♥♥♥
Jakarta, 27 Agustus 2008
Salam gelitik di sore hari yang hangat dan ceria...
Ietje S. Guntur
Special note : Thanks bangeeeet....buat sahabatku Dove di Somewhere Out There...(SMS-mu lucuuu bangeet...dan very inspiring...). Juga buat sahabat-sahabatku yang termasuk gerombolan insom-mania...Nonce, Tutsye, Irene, Melia ,Unye, Tje-h, Adhi, Aan, Kunang-kunang...Hidup bersama kalian memang unik dan menakjubkan...
Selasa, 06 Mei 2008
HANYA UNTUKMU.....
Dear Allz....
Permisiiiiiiiii.....hehehehe....udah hari Selasa, yaaa ? Hmm...tapi masih semangat khaaan ? Iyalah...SEMANGAT HARI SELASA....he he ...Emang beda sih sama semangat hari Senin...tapi yang penting tetap menyala....dan selalu hangat...
Eeeh...ngomong-ngomong soal yang hangat-hangat niih...Saya punya cerita yang hangat juga...Cerita enteng-enteng aja...yang nggak bikin kening berkerut. Abis, kalau sudah cape...terus kening dikusut-kusutin...kapan kita mau menikmati hidup ini ? Kapan kita bisa bersyukur atas kenikmatan hidup yang penuh kelimpahan ini ?
Nah...supaya semua teman dan sahabatku tetap bisa tersenyum....di sini nih saya kirimkan sesuatu yang ‘hanya untukmu...’...hehehe...Bener...ini memang persembahan khusus untuk teman dan sahabat semua...
Selamat menikmati aja deeeh....
Salam hangat,
Ietje
Art-Living Sos 2008 (A-5.05.01
Start : 05/05/2008 16:42
Edit : 06/05/2008 10:35
HANYA UNTUKMU....
Pagi-pagi. Awal minggu.
Saya baru tiba di kantor, dan seperti biasa heboh dengan segala buntelan dari rumah. Ada buku...(niatnya mau diringkas, tapi beluuuum sempat...hiks). Ada majalah yang sudah seminggu belum sempat dibaca. Ada koran yang Cuma halaman depan doang. Ada gorengan yang tadi beli di gerobag pinggir jalan. Ada air minum yang dipersiapkan untuk di jalan. Ada...hmmm...oleh-oleh untuk teman-teman di kantor. Sekantung plastik keripik dari Bandung. Semua dibongkar dulu...dan dibagikan sesuai dengan tujuannya...
Tidak perlu menunggu lama. Keripik kentang khas Bandung itu sudah beredar kemana-mana. Menjadi milik publik. Dan serunya...semua heboh. Ada yang bilang enak. Ada yang bilang kurang banyak...(biasaaa...komentar komporator...tukang manas-manasin ) ...Ada yang berdoa, semoga lain kali masih ada oleh-oleh yang lebih mantap ( dan lebih banyak). Ada yang cengar-cengir sambil terus mengunyah dan Cuma bilang hmm...hmm...
He..hee..ehh...seneng rasanya kalau ada yang bisa diberikan buat teman-teman. Apalagi kalau sesuatu yang kita berikan itu disambut seperti harta karun yang mahal luar biasa. Rasanya hati ini pun menjadi berbunga-bunga.
♥
Bukan hanya saya yang suka membawakan oleh-oleh kalau pulang dari perjalanan . Teman-teman yang lain pun biasanya dengan penuh kesadaran dan kegembiraan selalu membawakan buah tangan dari tempat-tempat yang dikunjungi atau dari kampung halamannya. Kadang ada yang menjadi milik publik, tapi tak jarang ada bingkisan khusus untuk seseorang yang istimewa.
Seperti seorang sahabat baru saja pulang mudik dari kampungnya. Kali itu dia pun membawakan makanan khas dari kampungnya. Semua teman-teman yang dikenalnya sudah mendapat bagian. Tiba giliran saya, dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari kertas. Lalu berbisik ,” Ini khusus untuk mbak. Dibuat sendiri oleh kakakku.”
Waaah...hati saya langsung berbunga-bunga. Khusus untuk saya ? Setelah mengucapkan terima kasih dengan penuh kegembiraan, saya mulai mengendus-endus bungkusan itu. Hmmm...aromanya enak...(kenapa mesti diendus dulu yaaa ?). Lalu saya pencet-pencet sekeliling bungkusannya...agak lunak. Saya mulai menebak-nebak. Apa isi bungkusan itu ? Hmmm...dari aroma dan bentuknya yang agak lunak...saya mulai meneteskan air liur...membayangkan isinya...dan bakal dimakan dengan apa...Waaah !!! Sungguh sensasi yang luar biasa. Mengendus...meraba...dan membayangkan...wuiiih....
Saya sengaja tidak membuka bungkusan itu, walaupun saya sudah menebak isinya. Itu adalah bumbu pecel kesukaan saya. Saya pikir nanti saja membukanya, ketika sudah lengang...atau ketika sudah di rumah. Rasanya pasti lebih asyik. Ada unsur kejutannya !
♥
Masih ada lagi. Seorang sahabat lain yang mudik ke kampung halamannya. Dia juga membawakan saya oleh-oleh yang khas kampungnya. Sebungkus teh ! Lho, kenapa teh ? Hmm...rupanya dia tahu banget, kalau saya ini Teh-mania juga. Hehehe...iya...saya nih selain tempe-mania dan kopi-mania, juga penggila teh ! Hidup saya belum lengkap tanpa minum teh di pagi hari. Dan bisa-bisa saya sakaw juga kalau 3 hari tidak menghirup aroma teh...hahaha...
Nah, sahabat yang tahu persis kegilaan saya pada teh, sengaja mencari teh tradisional yang hanya ada di kampungnya sana. Saya memang begitu. Udah doyannya banyak, syaratnya juga banyak...hahaha...norak banget deh ! Kalau teh yang sudah biasa ada di pasaran, ngapain juga mesti dibawa dari jauh ya ? Justru sesuatu yang khas...yang unik dan tidak terkenal, menjadi penuh makna ketika seorang sahabat dengan sengaja keliling pasar tradisional hanya demi teh untuk si Ietje...
Kalau bumbu pecel tadi saya endus-endus dulu untuk mencium aromanya, teh bawaan teman saya tidak perlu menunggu waktu untuk diendus. Kotaknya langsung saya buka, dan segera saya siapkan air panas untuk menyeduhnya. Siang itu saya memang belum minum teh. Jadi segelas teh tubruk hangat bisa menggelontor semua lemak makanan yang tadi menemani makan siang saya. Rasanya ? Hmm...segar....dan penuh cita rasa...
♥
Di saat yang lain. Beda situasi. Beda waktu. Di warung makanan langganan saya.
Saya sedang memilih-milih menu makanan untuk jatah makan siang saya. Tiba-tiba si Ibu Warung tersenyum sambil menghampiri saya. ”Ada sayur asem tuh. Ada ikan pindang juga . Tempe juga udah digoreng garing tuh. Saya ambilin ya di belakang . Sambel tomat yang gak pake terasi ada. Nasinya setengah kan ? Oya...saya bikin pergedel jagung juga. Khusus deh buat Mbak !”
Huaaah...tahu juga dia kalo saya doyan pergedel jagung. Jadilah...siang itu saya dapat tambahan pergedel jagung yang digoreng bundar-bundar sebesar tatakan cangkir...bener-bener spesial...ukuran jumbo...hehe. Dimakan dengan sambal tomat tanpa terasi...waaawwwh...nikmat.
Si Ibu Warung belum puas menservis saya. Sambil mengiringi saya ke tempat duduk dia cengar-cengir.” Dibikinin minuman es timun serut mau, ya ? Mumpung timunnya seger niih. Biar gak darah tinggi !”
Hmm...ya...ya...timun serut pakai es dan sedikit gula cair...diminum di siang hari terik begini...Bukan Cuma menurunkan tekanan darah tinggi, tapi juga bikin mata merem melek menahan kenikmatan.
Jadilah...makan siang itu berlangsung nikmat dan sedap. Lebih nikmat lagi karena si Ibu Warung tahu persis makanan kegemaran saya. Minuman kegemaran saya. Bahkan tempat duduk di pojok warung yang menghadap ke jalan di depannya. Tanpa saya menyebutnya, dia dengan cepat melayani saya dan menempatkan semua pesanan saya di sudut itu. Bahkan kadang-kadang dia tega meminta orang lain pindah ke lokasi lain demi saya...hehehe....(ini sih kebangetan...untungnya jarang terjadi).
♥
Pagi ini. Sepotong pisang goreng buatan sendiri sudah terhidang di meja saya. Kiriman dari seorang sahabat. Hmm...yummyyyyy....Pas banget ! Saya memang sudah beberapa hari ini kepengen pisang goreng. Tapi nggak mau yang dibeli...(hahaha...kepengen kok maksa ??). Untunglah ada yang bisa membaca hati saya...hiks...hiks...jadi deh, sarapan saya menjadi komplit...
Diam sendiri sambil menikmati pisang goreng yang dibawakan seorang teman dari rumahnya, membuat saya merenung.
Pemberian...sekecil apa pun, kalau diberikan dengan ketulusan dan hanya untuk seseorang akan sangat besar maknanya. Pemberian yang spesial, menjadi istimewa ketika ada nilai ‘hanya untukmu...’ di dalamnya. Ada ikatan dua hati di dalamnya. Seperti saya dan teman saya. Seperti saya dan sahabat-sahabat saya. Seperti saya dan Ibu Warung yang tahu persis keinginan saya.
Dalam hidup kita ini pun, perhatian dan ketulusan adalah sebuah kunci yang mengikat hati. Layanan, secanggih apa pun, tapi tanpa sentuhan hati, tanpa ketulusan hanya menjadi sekedar layanan prosedur. Layanan yang dilandasi paradigma ‘ hanya untukmu...’ adalah layanan yang istimewa. Yang membuat kita, pelanggan menjadi sahabat bagi orang yang memberikan layanan.
Saya masih mengunyah pisang goreng yang tersisa hangatnya. Menyesapnya pelan sambil membayangkan, ketika subuh tadi sahabat saya harus bangun lebih awal dan mempersiapkan segalanya. Saya tahu, di dalam setiap potongan pisang goreng itu ada cinta. Saya tahu, di dalam setiap potongan pisang goreng itu ada persahabatan ....
Saya mendoakan...semoga semua teman dan sahabat saya juga dapat merasakan sentuhan itu...sentuhan ‘hanya untukmu...’....
♥♥♥
Salam pisang goreng dan bumbu pecel,
Ietje S. Guntur
Special note : Terima kasih untuk sahabat-sahabat yang selalu memberikan hatinya bagiku...dan untuk kehidupan ini...Thanks buat Lina, Lisa, Kuri, Nyot, Joe....dan Ibu Warung Betawi di Pancoran dulu...thanks buat inspirasinya...Thanks juga buat Aan Kecap...yang menghadiahi aku kecap ajaib dari sebuah kota kecil di Timur Pulau Jawa...
Rabu, 19 Maret 2008
Tirai hujan...tirai rindu
Ini adalah sepotong pemandangan di Kebun Raya Bogor.
Ketika saya, dan sahabat sejiwa saya, Nonce jalan-jalan ke sana, pada suatu hari Minggu yang agak-agak mendung. Tanggal 9 Maret 2008.
Tirai hujan ini sudah lama saya rindukan untuk mengabadikannya. Tirai hujan banyak sekali mengandung misteri dan cerita di baliknya.
Tirai hujan di sini, menyibak kerinduan pada padang hijau di belakang sana.
Tirai hujan ini juga menyibak kerinduan pada seseorang di belahan dunia entah di mana.
Salam rindu di balik tirai hujan,
Ietje
Selasa, 19 Februari 2008
Kulihat awan...
Dear Allz…
Pernah melihat awan
Kapan terakhir kali teman dan sahabat memperhatikan perjalanan awan ? Kemarin ? Minggu lalu ? Atau sudah lupa ? Karena terkurung di dalam kungkungan ruang berlapis kaca yang tak kenal pemandangan langit dan awan yang berarak ?
Tidak apa…kali ini saya ingin berbagi cerita tentang awan. Misteri apa yang ada di dalamnya ? Entahlah…nikmati saja …Semoga menjadi petualangan yang menarik…
Salam hangat dari balik awan,
Ietje
♥♥♥ NB : Sesungguhnya hari ini saya harus istirahat dan berbaring di ranjang…karena ada yang ‘salah tempat’ di badan saya. Tapi seorang sahabat mengusik saya dengan pertanyaan ,”Pernah menulis tentang awan ?”. Lalu sambil tertatih, saya bangkit dari ranjang…melihat ke luar…ke langit…melalui jendela yang terpentang lebar…Dan pelan-pelan…imajinasi tentang awan pun mengalir.
Inilah dia….
Art-Living Sos 2008 (A-2.19.2
2/19/2008 12:39 PM
2/19/2008 6:46 PM
KULIHAT AWAN…..
Kulihat awan , Seputih kapas
Andai kudapat ke
Akan kuraih , Kubawa pulang….
♥
Itu adalah potongan lagu tentang “Awan” yang sering saya nyanyikan ketika melihat gumpalan-gumpalan putih itu menghampar di langit biru. Lagu yang kemudian membawa saya melayang…entah kemana….
Kali ini saya sedang dalam perjalanan ke luar
Awan. Yang berkejaran. Mengikuti arah angin. Membuat pola yang tidak pernah berhenti.
Bentuknya pun jadi bermacam-macam.
Saya menatap takjub. Awan di langit luas. Begitu banyak yang bisa kita baca dari perjalanannya. Dari bentuknya. Dari warnanya. Dari pergerakannya. Saya bukan ahli geofisika, bukan pula ahli meramal cuaca. Tapi kalau sekilas melihat awan gelap kelabu yang bergumpal, tentu saya menduga bahwa hujan akan turun sebentar lagi. Apalagi kalau awan gelap itu disertai angin kencang dan percikan kilat membelah langit. Tanpa menjadi ahli geofisika sekalipun setiap orang pasti tahu…bahwa hujan sudah siap-siap mengguyuri bumi..
Itulah bahasa awan. Bahasa rahasia alam semesta.
Saat yang lain.
Sore menjelang senja. Matahari tampak malu-malu menyinari bumi. Sinarnya yang keemasan memantul di puncak-puncak awan yang bergulung seperti gumpanan kapas. Di
Langit tampak cantik. Latar belakang biru dengan hiasan awan putih dan semburat jingga. Sedikit ada kilau keemasan dan merah merona. Potongan-potongan awan membuat koridor dan terawang-terawang seperti renda-renda di baju seorang dara. Sungguh memukau. Membuat mata ini enggan beralih pandang ke tempat lain.
♥
Ngomong-ngomong soal awan. Memang mengandung banyak misteri. Saya jadi ingat masa kecil saya yang penuh kebebasan. Ketika bersama teman-teman berbaring di bawah pohon di pinggir sawah. Menatap awan yang berarak di langit biru. Lalu kami mulai memperhatikan semua bentuknya. Dan berteriak seru kalau ada awan yang berbentuk unik.
“Lihat itu…seperti beruang !”
“Yang itu seperti kereta perang.”
“Itu lebih bagus…seperti bidadari…”
Padahal kami belum pernah melihat bentuk ketiga-tiganya. Beruang. Kereta perang. Bidadari. Tapi tak jadi apa. Kami bisa berkhayal sesuai dengan perubahan bentuk awan.
“Lihat…seperti kelinci…”
“Iyaa…di belakangnya ada anjing…”
“Waaah…lagi kejar-kejaran…”
“Wuushhh…wuuushhhh…ayo lari…lari…heee…kelincinya hilang…”
“Anjingnya jadi raksasa…”
“Ihhh…serem, ya ? Sekarang jadi hantu…hiiiiii….”
“Lihat yang lain saja…”
Awan memang bisa membuat dunia imajinasi berkembang. Apalagi dunia anak-anak yang tanpa batas. Setelah melihat awan kadang kami meneruskan dengan saling bercerita. Tentang apa yang dilihat di langit. Tentang gambar yang bisa diciptakan dari awan. Bahkan kami berkhayal, seandainya bisa hidup di atas awan. Bersama burung. Bersama bidadari. Dan kami menjadi penghuni Negeri Di atas Awan. Menjadi putri-putri dengan sayap yang bisa terbang kian kemari.
Saya sendiri lebih suka melihat langit dan awan seperti pantulan dari kondisi di laut. Langit biru seperti samudra. Dan hamparan awan yang bergaris-garis seperti hamparan sutra. Kadang saya berkhayal itu adalah kumpulan ikan-ikan. Saya malah pernah bilang ke adik saya, kalau awan berbentuk seperti deretan ikan-ikan kecil berarti di laut sedang banyak ikan. Entah dari mana saya mendapatkan ilmu itu. Tapi adik saya percaya saja. Dan setiap kali melihat langit dengan bentuk awan seperti itu, dia akan mengingatkan saya, bahwa di laut sedang musim ikan…hehehe…Semoga saja, ya ?
Sampai hari ini pun, kalau saya melihat langit…kadang saya membayangkan seperti apa berada di antara awan-awan. Mengapung bersama awan. Atau main kejar-kejaran seperti bermain di lautan kapas.
♥
Awan memang cantik dan indah ketika kita memandangnya dari bawah. Juga membuat penasaran dan menimbulkan tanda tanya ketika kita berada di antaranya. Memecah awan dalam balutan pesawat terbang yang membawa saya dari satu
Dari butiran air yang menguap. Dan kemudian menyublim menjadi kumpulan awan. Membentuk gumpalan yang beraneka bentuk. Kadang seperti tiang perak yang penuh dengan pahatan. Kadang seperti hamparan selimut perak kemilauan. Kadang seperti bola-bola salju di atas nampan biru. Tak pernah sama. Tak pernah abadi. Selalu berubah. Selalu bergerak. Selalu menimbulkan tanda tanya.
Keindahan awan bagi saya, barangkali akan berbeda dengan yang dirasakan oleh seorang pilot pesawat terbang. Ketika ia harus menerobos atau menghindar dari tiang-tiang awan di langit tinggi. Kegembiraan saya ketika terlonjak-lonjak dalam pesawat seperti naik kuda
Hmm…tapi ngomong-ngomong…saya pernah juga sih mengalami rasa takut yang luar biasa ketika berada di dalam gumpalan awan. Selain lonjakan pesawat yang di luar kewajaran, saya juga merasa seperti buta karena tidak bisa melihat apa-apa selain warna putih yang membungkus di balik jendela. Perasaan saya sama dengan ketika menyelam di sungai yang keruh dan pandangan tidak dapat menembus apa-apa.
♥
Sepotong awan, memang selalu menjadi misteri. Selalu menjadi tanda tanya. Sepotong awan adalah lautan imajinasi yang tampak di pelupuk mata. Tapi begitu banyak tandatanya dan sekaligus jawaban di dalamnya.
Seperti kehidupan kita. Yang kadang tampak nyata. Tapi juga menimbulkan banyak tanda tanya…tentang kemarin yang milik kita…tentang saat ini yang sedang kita jalani…tentang esok yang tidak pernah kita ketahui apa yang akan terjadi…
Seperti awan…yang tergantung dari uap air, sinar matahari dan arah angin. Seperti itulah kehidupan kita…yang tergantung pada banyak hal, yang kadang jauh dari jangkauan pemikiran dan imajinasi kita sendiri…
♥♫♥
Dalam renungan awan mendung,
Ietje S. Guntur
Special Note : Thanks buat Mr Kecap Cap Sawi…yang menunggu awan di balik hujan…hehehe…thanks buat inspirasinya di pagi mendung tadi…
Senin, 14 Januari 2008
Menyelamatkan ikan....
Dear Allz....
Ini adalah foto ikan Koi saya...yang sudah saya pelihara selama lebih dari 3 tahun. Ketika mulai dipelihara besarnya kurang lebih 15 cm...Duluuuu...dia adalah si bungsu yang jadi bonus ketika saya membeli beberapa ekor ikan Koi besar. Ini adalah jenis Koi kampung yang tidak jelas registrasinya...apalagi nomor stamboomnya...
Biarpun cuma ikan koi kampung seperti itu, tapi saya sangat sayaaaang dengan keluarga ikan ini. Soalnya mereka tahan banting dan gak manja.
Tapi karena suatu sebab...kolam ikan di rumah saya sempat bocor, dan mereka terpaksa diungsikan ke dalam akuarium. Halaaah...kasihan banget deeh...mereka terpaksa berdesak-desakan di dalam kotak kaca itu. Dan karena sempit mereka sering banget ke luar, melompat dari dalam akuarium. Beberapa bisa diselamatkan...tapi ada juga yang nggak keburu, dan akhirnya dimakan kucing...Hikss...hikkss...
Akhirnya...tinggallah si bungsu ini...dia sempat jadi 'anak tunggal' di kolam kami. Lalu kami pun mengadopsi lagi ikan koi berbagai jenis...tapi semuanya bukan ikan yang keren...
Nah, si bungsu ini pun semakin besar...dan akhirnya menjadi 'raja' di situ...tapi dia raja yang baik hati...kerjaannya mengayomi ikan-ikan lainnya. Dan berhubung dia raja...maka manjanya juga minta ampun. Kalau saya datang ke tepi kolam itu, dia akan datang...kadang minta digaruk-garuk punggungnya...seperti anak anjing...dan setelah itu baru dia berenang lagi...Kadang dia juga minta makan dari tangan saya...hiiiiyeeee....geli juga siiih...tapi asyiiiikk...dia bisa mengerti juga kalau diajakin ngomong...hehehehe...Coba aja...
Dia punya kebiasaan aneh juga...Sukanya lompat-lompat dari kolam ini ke kolam penampungan di sebelahnya. Kadang ikan kecil-kecil yang lain ikutan lompat juga. Dia sih gampang bolak balik dari kolam besar ke kolam kecil, tapi ikan yang lain kan cuma bisa one way doang...Dan tahukah apa yang dilakukannya ? Menjemput ikan yang kecil itu...menggendong dipunggungnya secara melintang...lalu si ikan kecil melompat balik ke kolam ini...Amazing....!!!
Kebiasaan melompat-lompat ini kadang bikin tragis juga. Seperti kemaren ini, hari Sabtu...12 Januari 2008...tiba-tiba si Raja ini melompat lagi...tapi salah arah...dan terdamparlah dia di lapangan rumput di dekat kolam itu. Untung sekali...saya sedang berada di ruang cuci tak jauh dari situ...dan sempat melihat dia...yang sudah terkapar lemas...dan nyaris garing...hikkkss...
Saya gendong cepat-cepat ke dalam air...dan perlu waktu sekitar 20 menit sampai dia bisa bernapas normal. Dan selama itu saya menungguinya dari tepi kolam...dengan kecemasan...dengan kepanikan...dan dengan doa...sambil saya terus berbicara dengan dia...dengan airmata berlinang. Saya lihat perjuangannya untuk menarik nafas...untuk menggerakkan siripnya...ekornya...sangat pelahan....semua dalam keadaan miring di atas permukaan air karena dia sudah tidak bisa seimbang lagi...
Lalu pelan-pelan...dia menyusup ke dalam air...dan berhasil membuat dirinya berenang lurus. Mula-mula pelan...dan nyaris tidak bergerak...lalu ia mulai dapat mengembangkan siripnya lagi...
Foto ini diambil kurang lebih 2 jam setelah dia terkapar di rumputan itu...Rasanya bahagia sekali bisa melihatnya berenang lagi bersama teman-temannya....
Ada hal yang bisa saya pelajari dari keadaan ini...
Dia kelewat kreatif...
Dia kelewat berani...
Tapi dia juga punya semangat untuk mempertahankan hidupnya ....
Saya hanya bisa bersyukur....bahwa Allah masih mengijinkan dia menemani saya ...menjadi bagian dari 'keluarga besar' kami...karena sesungguhnya kehadirannya...walaupun hanya seekor ikan, tetapi banyak sekali memberi inspirasi dan semangat untuk kami....
Semoga semangatnya pun dapat menjadi inspirasi untuk semua sahabat di sini...
Salam sayang dari Galeri Cinta Lagi...
Ietje S Guntur
Kamis, 10 Januari 2008
Sejukkkkk...segaaarrr....
Hidup selalu penuh godaan...
Di hari panas seperti hari ini...
Segelas minuman sirup rasa mangga gedong yang segar
dipadu dengan nata de coco dan taburan raisin....
Alamaaakkk....
Dunia seperti berhenti sejenak...
Begitulah perjalanan kita
kadang begitu cepat
kadang begitu lambat
Kadang panas
kadang dingin
kadang penuh semangat
Kadang letih lesu tidak berdaya
Semua itu adalah godaan...
Hanya kita yang dapat mengatasinya
Menggali sesuatu dari dalam diri kita
Itulah cinta
Yang tersimpan dalam hati setiap orang
Yang menunggu sebuah kunci untuk dibukakan
Itulah semangat
Yang dapat kita bagikan
Yang akan kembali lagi kepada kita
Jangan biarkan cinta menjadi sekedar godaan
Jadikan cinta sebagai motor penggerak
Jadikan cinta sebagai sebuah kekuatan...
Salam sayang dari Galeri Cinta Lagi...
Ietje S Guntur
Suatu senja di belantara Jakarta
Tapi sore di belantara gedung sepanjang jalan Jenderal Sudirman ini bukanlah sore yang nyaman.
Setiap sore, kawasan ini identik dengan belantara gedung yang dipenuhi deru dan asap knalpot kendaraan bermotor, terutama sepeda motor dan bis kota yang saling silang berebut ruang di jalan...
Lalu...para pejalan kaki akan terhimpit di pedestrian...
Yang juga sudah diserobot oleh pedagang makanan dan pangkalan ojek...
Bercampurbaur di dalam kekisruhan itu membuat hati mudah meledak...emosi mudah terbakar...kemarahan dan kekesalan gampang tersulut...
Berhentilah sejenak....
Biarkan semua berlalu dalam dinamika dan denyut Jakarta
Nikmatilah satu moment yang begitu berharga
Nikmatilah satu senja di Jakarta
Bersyukurlah...
Karena kita masih menjadi bagian
Dari segala dinamika yang ada...
Salam sayang dari Galeri Cinta Lagi...
Ietje S Guntur
Dunia di balik jendela...
Dipandang dari balik jendela ruang kerja saya, di lantai 12 gedung perkantoran di kawasan segitiga emas Sudirman..
Dari titik tempat saya mengambil foto ini saya bisa memandang separuh Jakarta ke arah Timur...tentu saja kalau cuaca sedang bersahabat seperti hari ini. Jakarta kadang-kadang memang cantik sekali. Kadang-kadang penuh pesona. Seperti gadis cantik yang tidak pernah lupa berdandan. Jakarta memang menggoda...
Tapi seperti semua godaan yang ada...
Kita sendirilah yang harus memilahnya...
Godaan mana yang perlu ditanggapi dan ditimpali
Godaan mana yang hanya menjadi beban di kemudian hari...
Manusia memang perlu digoda
Untuk maju
Untuk berkembang
Untuk memaknai jati dirinya...
Seperti Jakarta
Yang menggoda banyak dari kita
Untuk datang
Dan bermain di dalamnya...
Jakarta, 10 Januari 2008
Salam sayang,
Ietje S Guntur
GALERI CINTA LAGI...
Rasanya terlalu lama larut dalam kesedihan karena Blog saya "Galeri Cintaku" sedang jadi tersangka di suatu tempat. Berhari-hari saya hanya bisa mengintip...kapan Blog cintaku itu bisa terbuka lagi...
Seminggu...bukan waktu yang singkat untuk orang seperti saya. Kalau bisa 24 jam, kenapa harus menunggu 7 hari ?
Berhari-hari saya berpikir...bagaimana caranya bisa memposting segala aktivitas saya yang kadang kelewat overdosis ini...Soalnya...gara-gara warung saya "Galeri Cinta" itu non-aktif, maka nyaris seluruh semangat saya juga tersedot oleh kekecewaan. Seperti orang yang ditolak cintanya...hehehe...
Tapi ngapain juga kita patah hati atau patah semangat, ya ? Sekali cinta...ya, cinta saja lagi. Dan jadilah...Galeri ini bereinkarnasi lagi...dalam tampilan "Galeri Cinta Lagi".
Ibarat cinta serangga kepada bunga...seperti itulah harapan saya dengan galeri ini. Selalu ada cinta...entah bagaimana caranya...Bahasa alam adalah bahasa cinta...Seperti bahasa serangga dan bahasa bunga...
Kita hanya perlu berhenti sejenak...menatap sekitar kita...melihat dengan hati dan mata ketiga...
Dan di sinilah kita berada...
Selamat datang di Galeri Cinta Lagi...
Salam sayang,
Ietje S Guntur