Dear Allz...
Pakabaaarrr teman dan sahabatku semua....???? Semoga sehat-sehat dan ceria selalu yaaa....Ya, mesti begitu dong...kan kita baru saja merayakan pesta ulang tahun, jadi suasana hati mesti tetap gembira...Iya, kan ? Ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 64...yang sudah kita semarakkan dengan berbagai acara. Dari mulai acara serius yang seremonial, hingga pesta rakyat yang heboh dan meriah....
Barangkali kita masih ingat beberapa hari lalu kita ramai bersorak-sorak ketika mengikuti perlombaan makan kerupuk, lomba balap karung, lomba menangkap belut, lomba masak nasi goreng kemerdekaan, lomba sepeda hias, lomba panjat pinang dan banyak lagi lomba-lomba khas masing-masing daerah....Rasanya kita menjadi akrab dan saling mendukung satu sama lain untuk meraih kemenangan....
Seandainya saja....semangat kebersamaan itu tetap menyala di dalam hati kita, di dalam setiap tekad dan cita-cita kita. Barangkali banyak hal yang bisa kita lakukan, dengan hasil yang lebih optimal . Mirip dengan filosofi sapu lidi...yang selalu bersatu teguh...
Hehehehe....saya jadi ingin berbagi sedikit. Berbagi cerita tentang sapu lidi. Yang barangkali sudah agak terpinggirkan dari rumah kita...Tapi nggak apa-apa...kita ambil semangatnya saja...dan barangkali suri tauladan yang bisa kita petik darinya...
Mau yaaaa....???? Mau...mau....mauuuuuuuuuuuu.....
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Art-Living Sos 2009 (A-8
Kamis, 20 Agustus 2009
20/08/2009 14:43:00
20/08/2009 17:18:27
SAPU LIDI....
Hari libur. Saya mulai mencari-cari rencana kegiatan yang bisa mengisi hari luang ini...Apa yaaa ???
Saya celingak-celinguk di seputar halaman. Kayaknya sih saya sudah lama tidak memperhatikan halaman rumah, yang sekarang nyaris kering kerontang tanpa rumput hijau yang menebar seperti permadani. Iya...musim kemarau yang sudah dimulai beberapa waktu lalu telah menunjukkan dampaknya. Rumput di halaman rumah saya, dan rumah tetangga (hmm...kenapa mesti lihat rumput tetangga, ya? ) sudah mulai mengering dan botak di sana sini. Hanya ada daun-daun yang luruh ditiup angin, memenuhi sebagian halaman.
Prihatin juga melihat halaman yang sebelumnya indah, sekarang seperti belantara tidak terpelihara...hiikkkss...hiiikkss.....Saya tertegun dan membatin, ” Aduuuuh... tanamanku, mohon maaf yaaa , aku sudah lama tidak memperhatikan kalian..”
Harus ada tindakan nyata nih...tidak bisa sekedar rencana dan wacana. Yang harus dilakukan pertama kali adalah membersihkan halaman. Menyapu daun-daun pohon yang berserakan ditiup angin.
Okeeee....langkah pertama : Cari sapu !
Hmm...iya, sapu lidi. Sapu yang dibuat dari kumpulan potongan lidi daun kelapa, lalu diikat kuat dan diberi tangkai di ujungnya. Ada juga sapu lidi Jawa, yang tanpa tangkai, hanya ikatan kuat saja. Sehingga ketika mempergunakannya kita harus terbungkuk-bungkuk mengikuti gerakan sapu. Saya lebih suka mempergunakan sapu lidi Sumatra , yang tangkai sapunya panjang dan batang lidinya lebih keras tapi luwes.
Begitulah....setelah mendapat peralatan kerja, sepanjang pagi itu saya pun asyik berdansa dengan sapu lidi yang kukuh . Sapu sana , sapu sini....ssrttt...ssrttt..Kumpulan lidi itu dengan lincah mengangkat daun-daun dan sampah yang berserakan. Daun besar, daun kecil, bahkan sisa-sisa rumput kering terangkat dalam satu tumpukan. Dalam sekejap tumpukan sampah sudah menggunung di sana sini...dan dengan cepat pula dapat saya kumpulkan dan dimasukkan ke dalam kantong sampah yang tersedia.
♥
Ngomong-ngomong soal sapu lidi, tak hanya di rumah saya si Sapu Lidi bisa beraksi dengan lincah dan leluasa. Di jalan-jalan raya di seluruh kota, di lapangan atau di taman kota, bahkan di stasiun atau terminal bus dan kereta api yang belum memiliki fasilitas pembersihan otomatis peran sapu lidi sangat luar biasa.
Ada cerita menarik tentang sapu lidi ini. Yang mengingatkan saya kepada ayah saya . Ayah saya dulu sukaaaaaa banget menyapu halaman dengan sapu lidi. Setiap pagi dan sore, beliau suka menyapu sendiri halaman rumah kami yang cukup luas...hehehe...Bagi beliau, menyapu tak sekedar membersihkan halaman rumah, tetapi juga sekalian olahraga dan mengontrol lingkungan sekitar. Kadang, di pagi hari beliau juga menyuruh saya menyapu dari sisi satu lagi, sementara beliau di sisi halaman yang lain. Lalu sampah yang sudah disapu bisa dikumpulkan di tengah halaman. Dan kemudian sampah tersebut dimasukkan ke dalam lobang tempat sampah, dan dibakar.
Prosesi sapu menyapu dengan sapu lidi ini menjadi kegiatan yang rutin dan menyenangkan. Walaupun di pagi subuh itu kadang saya masih setengah mengantuk, tetapi berkat bantuan sapu lidi yang teguh dan terikat ketat, saya dapat menyelesaikan tugas dengan cepat dan rapi. Ada juga sih rasa bangga dan lega, setiap kali selesai menyapu. Sampah, daun dan rumput kering tidak tersisa lagi di halaman. Membuat halaman rumah jadi bersih dan kinclong...hehe...
Oya...saking doyannya menyapu, ayah saya pun pernah memberi hadiah sumbangan sapu lidi kepada kantor-kantor pemerintah di kota tempat tinggal kami dulu. Maksudnya tentu agar kantor instansi tersebut mencerminkan citra diri yang bersih dan rapi. Juga stasiun kereta api di kota Tanjung Balai pernah mendapat hadiah sapu lidi satu mobil penuh, yang dibeli ayah saya dari seorang pedagang keliling di kompleks perumahan kami di Medan . Memang, dengan sapu lidi, wajah sebuah instansi dan stasiun bisa lebih bersih dan lebih berwibawa...
♥
Tak hanya ayah saya. Eyang putri saya, yang saya panggil dengan sebutan Eyang Goceng, dan tinggal di Jogya juga sukaaaaaa banget menyapu. Bedanya, ayah saya menggunakan sapu lidi yang bertangkai panjang, sedangkan eyang putri saya lebih suka menggunakan sapu lidi tanpa tangkai. Itu sebabnya kami menyebut sapu lidi yang dipergunakan oleh eyang kami sebagai sapu lidi Jawa...he he...
Kalau saya sedang berlibur ke Jogya, saya biasanya mendapat tugas menyapu halaman. Tapi belakangan, tanpa diminta pun saya juga suka menyapu halaman rumah eyang yang sangat luas. Tak cukup setengah hari untuk menyapu seluruh halaman. Disapu bagian depan, halaman belakang sudah kotor. Disapu yang belakang, halaman samping sudah penuh luruhan daun kering...hiks hiks...tapi saya tetap suka, karena biasanya disambi dengan melihat buah-buahan yang sedang berbuah di pohonnya...hmmm...
Menyimak kebiasaan sapu menyapu di keluarga saya...hmmm...Jangan-jangan...keluarga saya memang pencinta sapu lidi alias fans of Sapu Lidi dan menyapu halaman menjadi hobby juga...hahaha...
♥
Melihat sapu lidi, saya jadi merenung.
Dipikir-pikir, hebat juga kekuatan sebuah sapu lidi. Dengan jalinan batang-batang lidi yang diraut bersih dari daun kelapa yang melekat, maka jadilah sapu lidi yang kokoh dan serba guna.
Kalau satu batang lidi hanya bisa untuk membuat tusukan sate, atau kadang anyaman untuk keranjang buah, kumpulan batang lidi itu secara bersama-sama bisa merubah sebuah tempat yang kotor menjadi bersih. Bayangkan saja, wajah sebuah kota tanpa bantuan sapu lidi sebagai alat pembersih jalanan dan halaman perkantoran. Apa jadinya ? Apa tidak seperti gadis cantik yang tidak mandi dan berpenampilan lusuh ? hiii...
Sebuah kota tidak mungkin dapat memperoleh penghargaan Adipura untuk keindahan dan kebersihan tanpa bantuan pasukan sapu lidi. Program-program pemerintah dan gagasan cemerlang seorang kepala daerah hanya tergeletak tanpa daya di atas kertas, tanpa bantuan pasukan kebersihan yang bersenjata sapu lidi.
Barangkali kita bisa belajar dari kumpulan sapu lidi ini. Dalam sendiri dia hanya berfungsi untuk hal-hal yang kecil. Tetapi dalam sebuah kumpulan, dia dapat mendukung sebuah karya besar. Kita bisa belajar dari persatuan para lidi, bahwa dalam kebersamaan lidi-lidi tersebut dapat mewujudkan sebuah prestasi yang gemilang.
♥
Hidup kita ini bisa diibaratkan sebuah lidi. Di dalam keluarga, di dalam kampung, di dalam kota, bahkan di dalam negara, kita adalah lidi-lidi yang bersatu dan bersama-sama. Tanpa kebersamaan, kita hanya sebatang lidi yang mudah goyah dan patah. Tetapi dengan kekuatan bersama banyak hal besar yang bisa kita lakukan. Tak hanya sekedar menyapu, kita pun bisa mengenyahkan hal-hal kontra produktif yang mengancam kehidupan sosial kita.
Sekarang pilih...mau jadi tusuk sate saja sendirian, dan habis terbakar dimakan api, atau menjadi sebuah kekuatan bersama yang lain ? Seperti sapu lidi, yang harus bersama-sama untuk mewujudkan sebuah kekuatan, kita pun harus bersama-sama untuk melaksanakan sebuah karya yang besar. Ada sebuah semangat kebersamaan, yang menyatukan hati dan pikiran kita. Ada sebuah semangat, untuk mewujudkan cita-cita pribadi menjadi prestasi kita semua.
Saya jadi ingat sebuah kata bijak, yang barangkali cocok menjadi motto untuk sapu lidi ini, yaitu :
“Satu untuk semua, dan semua untuk satu...”
♥♥♥
Jakarta, 20 Agustus 2009
Salam sehangat semangat sapu lidi,
Ietje S. Guntur
Special note :
Thanks untuk sahabatku Farida Butet Manurung, yang menginspirasi tulisan tentang kebersamaan. Juga thanks untuk Pa dan Eyang Goceng, yang terus memberi semangat dengan sapu lidi yang inspiratif....
Ide :
1. Tentang kebersamaan.
2. Republik Indonesia ini terdiri dari satu demi satu sapu lidi. Kita baru kuat dan tegar setelah bersama-sama. Banyak sejarah menunjukkan bahwa kebersamaan itu harus dijaga dan dipelihara.
3. Sebuah negara adalah sebuah korporasi seperti seikat sapu lidi.
4. Motto sapulidi adalah satu untuk semua, dan semua untuk satu.
5. Dalam ranah merdeka, sapu lidi adalah simbol persatuan dan kesatuan.
Minggu, 23 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)