Sabtu, 20 Februari 2010
Rabbit Diary 2010 (K-2 Foto Keluarga
Sebetulnya catatan yang ini tidak akan dipublikasikan. Kenapa ? Ini adalah rahasia kami berdua. Saya dan Grey One...eh, Robi.
Saya sendiri sampai meneteskan airmata ketika membacanya. Robi begitu pandai menyimpan perasaan dan kerinduannya, sehingga saya terhanyut ketika mendengar ceritanya.
Tetapi karena saya sudah berjanji kepada teman dan sahabat semua untuk menuliskan apa pun yang diorat-oret oleh Robi, jadi dengan berat hati catatan ini pun saya masukkan ke dalam laman Note saya.
Saya berpesan satu hal : tolong jaga perasaan Grey One...ah, Robi...dan siapkan tissu atau sapu tangan...Mana tahu akan diperlukan...
Bintaro, 19 Februari 2010
Salam sayang,
Ietje S. Guntur – mewakili Grey One
Art-Book Rabbit Diary 2010 (K-2
Serial : Pet Psychology
Start : 15/02/2010 21:12:07
Finish : 16/02/2010 11:53:50
FOTO KELUARGA
Hari Minggu, 10 Januari 2010.
Aku tahu, hari ini adalah hari Minggu. Tanda-tandanya...rumah Budhe kedengaran ramai dan hiruk-pikuk. Aku mendengar suara Budhe yang ceria memecah keheningan pagi. Dan nyanyiannya yang membahana dari kamar mandi....hmm...alamat hari cerah nih...Budhe sedang bagus mood-nya...hehehe...
Satu lagi tanda-tanda hari Minggu. Ada Pakdhe di rumah. Suaranya bergantian dengan suara televisi...hihi...Kata Emak, Pakdhe nggak bisa lepas dari tivi dan remote control. Pagi-pagi sudah di depan tivi, dan malam hari, pasti Pakdhe nonton tivi dulu, sambil memencet-mencet remote control tanpa henti. Pantesan Pakdhe dipanggil Pangeran Remote Control oleh Budhe...hahahaha...
Emak kan sering ikutan nonton tivi bareng Pakdhe. Sambil berselonjor, Emak menikmati tayangan film yang kadang-kadang agak menyeramkan juga. Itulah hebatnya Emak, walaupun hanya seekor kelinci, tapi pengetahuan Emak banyak sekali. Dari Emak juga kami belajar banyak tentang kehidupan ini.
Kata Emak, Budhe juga hobby memotret. Semua yang ada di sekitar Budhe pasti dipotret. Emak sudah berkali-kali dipotret sama Budhe, dalam berbagai posisi. Eeeh...aku jadi kepengen dipotret juga nih..hihi...buat bikin KTK...Kartu Tanda Kelinci...wakakakaka...
♥
Horeeeeee.....akhirnya kami akan difoto bersama-sama.
Pagi-pagi, kami dikeluarkan dari kandang. Dan seperti saat kami turun tanah, kali ini pun kami dijejerkan bersama-sama di lantai...(uuuh, kenapa di lantai siih...? licin..). Kami berdelapan mengambil posisi...hmm..tepatnya diposisikan agar bisa berbaris rapi. Bang Fer , sahabat keluarga Budhe, memegangi kami, agar kami tidak berlarian ke luar barisan. Ini pasti pekerjaan yang sulit, karena kami selalu bergerak kian kemari.
Emak berdiri di sudut, memperhatikan kami yang merayap-rayap di lantai licin. Aku berdiri di tengah, dan Grey Three di sebelahku. Grey Five dan Grey Six merapatkan tubuhnya di lantai. Masih gugup dengan perubahan situasi. Dari tempat yang hangat dan terlindung, sekarang di ruang terbuka dan dingin. Grey Seven, seperti biasa sudah nyelonong ke sisi yang lain. Dia paling tidak betah diatur siapa pun. Termasuk tangan-tangan manusia yang besar. Sejak kecil dia memang sudah menunjukkan jati diri, bahwa kelinci adalah mahluk bebas yang bisa melarikan diri ke mana pun kami mau....Waaah, kalau ada LSM Kelinci, pasti dia bisa jadi salah satu aktivisnya...hmmm...
“Abu sini...Abu...,” aku dengar suara Budhe memanggil Abu. Tapi Emak diam saja. Cuek. Dia malah bangkit dari selonjorannya, dan masuk ke dalam rumah Budhe. Barangkali Emak tidak suka difoto dalam keadaan lusuh seperti sekarang. Bulu-bulunya yang dulu tampak lebat dan berkilau bersih, sekarang kelihatan lusuh dan agak kotor. Emak pasti tidak suka kalau citranya sebagai kelinci cantik akan luntur gara-gara foto yang tidak tepat waktunya.
“Yeee...si Abu ngambek. Ayo, Abu...foto keluarga dulu.” Sambung yang lain. Emak masih cuek. Dia tidak mau difoto bersama kami. Barangkali dia berpikir, biar anak-anak saja yang difoto. Emak tidak mau lagi berfoto tanpa ada Ayah di sisinya. Itu pernah dikatakan Emak kepadaku, beberapa waktu lalu.
Berdiri berjajar begini, aku jadi ingat Ayah. Betul juga kata Emak, kami tidak lengkap tanpa kehadiran Ayah.
Emak bilang, Ayah harus dikembalikan ke kampung halamannya di Bandung karena di sini selalu mengacaukan situasi. Yaah, naluri kelinci padang rumput di dalam diri Ayah memang sedang bergolak. Dan karena tidak ada padang rumput untuk tempat menggali lobang dan menggigit akar-akar pohon yang dapat dijadikan sarang, maka Ayah pun menggigiti kabel listrik dan membuat lobang di bawah kasur tempat tidur .
Kebiasaan Ayah yang suka memanjat dan menggigit juga dipraktekkannya di ruang keluarga rumah Budhe. Bila tidak ada orang di sana, maka Ayah akan memanjat semua lemari buku, dan naik ke atas pesawat tivi. Apa maksudnya coba ? Itu kan berbahaya. Tapi Ayah tidak kapok, walaupun Budhe sudah berkali-kali memarahinya. Dasar Ayah...
Kalau saja kami tinggal di padang rumput atau di hutan, Ayah pasti menjadi orangtua yang luar biasa. Dengan ketrampilannya itu beliau bisa membuatkan lobang yang besar dan hangat untuk kami, aku dan adik-adik, dan Emak. Apalagi aku lihat, Emak dan Ayah saling mencintai, dan saling mendukung. Sayang...Ayah tinggal di tempat yang kurang tepat, pada saat yang kurang tepat pula...
♥
Aku masih melihat kian kemari.
Sesi foto yang tadi berlangsung kacau semakin ramai karena sekarang adik-adikku mulai menjerit-jerit lirih dan mencakar-cakar. Budhe meletakkan wadah makanan berupa pelet berwarna hijau dan orange di hadapan kami. Kata Emak, itu adalah makanan yang enak dan bergizi. Dibuat dari sari sayuran yang dipres hingga mudah dimakan.
Kami belum pernah makan pelet sebelumnya, walaupun kadang-kadang Budhe meletakkan makanan itu di kandang kami, untuk Emak. Sekarang adalah waktunya kami mencoba. Tapi bagaimana caranya ?
Seperti biasa Grey Seven yang mendahului. Dia memanjat ke atas tempat makanan, dan tiarap di situ. Wajahnya disurukkan ke dalam tumpukan makanan, lalu dia mulai mengunyah. Kami melihatnya, dan ikut-ikutan memasukkan kepala ke dalam makanan itu. Agak sulit juga menggigitnya, karena pelet yang ada di dalam wadah bergerak mengikuti dorongan mulut kami.
Aku mencicipi....hmmhh...rasanya enak. Aku belum pernah makan apa pun, dan ini adalah makananku yang pertama. Kami semua mencoba, mencicipi dengan ujung lidah kami. Grey Four bergidik...rupanya dia masih geli dengan jenis makanan seperti ini. Grey Eight memisahkan diri, dan menjauh dari kami. Diikuti oleh Grey Five yang suka ngambek.
Sekilas aku melihat ada kilauan lampu..., yang kata Emak adalah lampu blitz kamera Budhe. Waaah...aku jadi tahu sekarang, bahwa semua aksi dan gaya kami difoto oleh Budhe. Aku mencoba bergaya, tapi disundul oleh Grey Six yang ingin mencoba makan pelet di wadah. Aku tergeser dan nyaris terguling. Tubuhku menimpa Grey Three yang sedang merayap naik. Kami lalu jatuh bergulingan...saling bertindihan...waaah, senaaaang sekali...Aku jadi lupa, bahwa kami sedang disorot kamera...Aaah...dasar anak kecil...
♥
Selesai sesi foto, kami dibiarkan sejenak bermain di lantai yang licin. Emak datang mendekati kami, lalu ikut naik ke dalam kandang yang baru. Rupanya Emak senang dengan acara pemotretan dan kesempatan kami untuk menjadi model.
Kata Emak, dia pernah melihat Budhe memasukkan foto-fotonya di laman Facebook...halaaaah...bisa terkenal dong kami nanti, ya ? Moga-moga Budhe puas dengan gaya kami yang natural...asli gaya kelinci...dan tak lama lagi kami pun akan dipajang seperti Emak dan Ayah yang sudah terkenal lebih dahulu...
Siang yang menyenangkan itu pun berlalu dengan cepat. Aku dan adik-adikku sudah dikembalikan ke dalam kandang. Kami berebutan masuk ke dalam kardus, mencari posisi yang enak di tubuh Emak. Untuk menyusu.
Setelah lelah dengan acara foto keluarga itu, aku merasa mengantuk. Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat foto-foto kami yang tadi diambil Budhe.
Aku melamun...seandainya Ayah ada di sini, maka foto keluarga kami akan menjadi foto keluarga kelinci yang paling lengkap...tapi ya, sudahlah... semoga masih ada kesempatan untuk berfoto keluarga lagi dengan keluarga besar kelinci di rumah Budhe...hiiiksss....
Tanpa terasa airmataku meleleh...aku memang jadi mellow kalau ingat Ayah...Aku hanya bisa berdoa, semoga Ayah tetap mengingat kami...Dan aku juga berjanji, kalau aku nanti sebesar Ayah , aku tidak akan menggigit-gigit kabel dan memanjat-manjat pesawat televisi....
Semogaaaaaaa......
♥
Jakarta, 16 Februari 2010
Salam sayang,
Grey One
Special note :
Terima kasih ya, Budhe...nanti foto kami dipajang di kandang yaa...hihi..
Rabu, 17 Februari 2010
Rabbit Diary 2010 (K-2 Buka Mata, Buka Telinga
Saya betul-betul nggak sangka, kalau si Grey One itu serius. Betul, dia lagi semangat-semangatnya menulis buku hariannya. Hampir setiap hari dia mencoret-coret, dengan tangannya...eeh, maksudnya kaki depannya, dan hasilnya...sebuah kisah tentang kehidupan yang dilihat dari kacamata kecilnya (walaupun dia nggak pakai kacamata...hehe...).
Saya jadi tidak tega untuk membiarkan tulisannya hanya tersimpan begitu saja. Di sela-sela waktu kerja saya, di sela-sela ngantuk yang mendera, akhirnya saya sempatkan juga untuk menyalin kembali coretan-coretannya.
Inilah dia, secarik kisah perkembangan hidupnya bersama saudara-saudara kembarnya...
Selamat menikmati....
Jakarta, 15 Februari 2010
Salam hangat dari kami berdua,
Ietje dan Grey One
NB : Saya hanya menuliskan idenya lho...semua asli dari Grey One sendiri....(ietje).
Art-Book Rabbit Diary 2010 (K-2
Serial : Pet Psychology
Start : 15/02/2010 11:17:18
Finish : 15/02/2010 12:04:04
BUKA MATA, BUNGA TELINGA...
Sekarang tanggal 1 Januari 2010. Itu menurut catatan Budhe dan Emak. Jadi kami sudah berumur kurang lebih 1 minggu. Kami masih tinggal di dalam kardus, dengan berselimut bulu-bulu Emak. Iya...berbeda dengan hewan lainnya, kami memang masih konvensional. Lahir berselimut bulu dari orangtua, yaitu Emak tercinta.
Kami juga rentan terhadap cahaya. Maklum, sejak lahir kami masih buta dan belum dapat membuka mata. Kami hanya mengandalkan naluri untuk bergerak ke sana ke mari. Bahkan , seperti kata Emak, ketika kami lahir, kami hampir tidak memiliki bulu. Hanya bulu halus yang menutupi tubuh kami, lalu kuping yang kecil mirip cantelan, dan mata yang kelihatan besar tapi tertutup. Kaki-kaki kami juga begitu kecil, tidak berdaya. Dan kuku-kuku jari kaki kami pun sangat kecil. Mirip sebuah titik di ujung jari-jari kami. Lucu dan menggemaskan...hmm...
Iya...kami memang lucu...semua bayi adalah mahluk yang lucu...terutama kelinci...hehehe... narsis ya ? Iya neeh...udah bakat dan naluri turunan barangkali...uuhh....
Liang kelinci, seperti cerita Emak – yang didengarnya secara turun-temurun dari nenek-nenek kami, memiliki lika-liku yang rumit. Selain untuk pertahanan terhadap angin, lika-liku itu juga menghalangi air dan gangguan lain yang akan memasuki tempat tinggal kami. Itu sebabnya, jarang sekali terdengar berita bahwa ada kelinci hanyut karena kehujanan. Kami dibekali naluri yang sangat tajam mengenai cuaca. Kamu tidak akan percaya...bahwa kami bisa meramalkan banjir dan bencana kebakaran hutan. Itu sebabnya hidung kami selalu bergerak-gerak... mendengus dan membaui udara...
Eeeh...sabar dulu...kan tadi aku mau cerita tentang kelahiran kami, ya ?
Kembali ke naluri asal. Bahaya yang mengintai anak-anak kelinci memang sangat banyak. Di alam bebas kami menjadi santapan empuk kucing hutan dan keluarganya, anjing hutan, harimau ( aaah...ini sih pemakan segala jenis hewan), juga ular, burung elang, dan banyak predator lain.
Ketika kami sudah tinggal di desa dan kota, maka predator kami tetap kucing (heran ya...kenapa kucing doyan sama anak kelinci ?) dan juga anjing. Oya, kadang-kadang anak manusia yang masih kecil juga menjadi predator. Mereka menjadikan kami mainan, padahal kami belum cukup kuat untuk diangkat-angkat dan dibanting seperti kelinci karet. Itu sebabnya, perlindungan dari lingkungan sangat diharapkan untuk kelangsungan hidup kami.
Sementara itu Emak masih mondar-mandir dari ruang isolasi dan ke luar. Kata Emak, ia bertemu dengan ayah. Yang masih setia menunggu di luar ruangan. Tepatnya, ia bukan menunggu, tapi dilarang masuk ke ruangan bayi ! Ini karena keyakinan beberapa orang, yang mengatakan bahwa bapak kelinci suka memakan anaknya. Huuh...itu salah besar. Bagaimana kejadiannya di alam bebas sana, kalau setiap bapak kelinci memakan anaknya ? Itu tidak mungkin. Kelangsungan hidup kelinci bisa punah, kalau semua bapak kelinci menyantap anak-anaknya.
Ehh...sekarang aku cerita lagi nih tentang perkembangan diri kami.
Dalam umur seminggu, kami memang masih sangat kecil dan tidak bisa apa-apa. Kami hanya bisa berguling kesana kemari, dan saling mendekatkan tubuh satu sama lain agar selalu hangat. Kami hanyalah sekumpulan anak kelinci, yang lemah dan tidak berdaya. Dan hanya bisa bertahan dengan kebersamaan. Kami belum punya identitas apa pun. Saat itu aku belum tahu, bahwa kelak aku akan diberi nama Grey One. Kami hanya disebut ‘ Anak si Abu – Bronis’. Yaitu nama orangtua kami.
Bukan tidak sopan, tapi memang begitulah cara kami memperoleh makanan. Berebutan untuk bertahan. Itu sebabnya, kelinci yang lemah dan cacat akan mati terinjak oleh saudaranya sendiri. Dan Alhamdulillah...kami semua adalah kelinci yang kuat dan sehat. Sehingga walau tiap saat kami terinjak dan harus berguling-guling, tapi kami tetap bertahan. Kata Emak, itu adalah cara belajar yang alamiah. Emak tidak mengajari kami berguling, tapi kami ternyata bisa melakukannya sendiri...
Ini adahal hari kesepuluh kelahiran kami.
Setelah berguling-guling selama berhari-hari, dan hanya mampu merayap sedikit dari satu ujung kardus ke ujung yang lain. Aku mencoba membuka mataku. Woooww...silau...
Kata Emak, mata kelinci memiliki ketajaman yang luar biasa. Kami bisa melihat jauh ke segala arah , bahkan elang di langit pun bisa kami lihat. Hanya saja, karena elang memiliki kecepatan terbang luar biasa, kadang-kadang kalau kami jauh dari liang di padang rumput, burung elang masih dapat menyambar anak-anak kelinci yang kurang waspada.
Aku berguling lagi...mencoba melihat cahaya yang masuk melalui celah-celah kardus. Dalam hati bertanya : Seperti apakah dunia di luar sana ?
♥
Salam sayang,
Grey One
Special note :
Terima kasih untuk Budhe...Yang sabar, ya Budhe...cerita aku masih banyak niiih...Jangan lupa tulis terus ya, Budhe Sayang...mwaaah...
Rabbit Diary 2010 (K-2 Buku Harian Grey-One
Mungkin agak aneh, ya...kenapa saya menurunkan tulisan ini di dalam laman Note Facebook saya. Tapi tidak apa-apa khan ? Saya menemukan catatan orat-oret ini...khas remaja...dan saya mengintipnya. Lalu, dengan seijin pemiliknya, si Grey, saya menyalinkannya untuk teman dan sahabat semua.
Percayalah...ini semua asli catatannya. Tidak ada rekayasa. Dan tidak ada maksud untuk menjadikannya seperti Rabbit-taintment.
Selamat membaca...semoga ada yang dapat kita pelajari dari catatan kecil si Grey One ini.
Jakarta, 14 Februari 2010
Salam hangat,
Ietje S. Guntur
Art-Book Rabbit Diary 2010 (K-2
Serial : Pet Psychology
Start : 14/02/2010 22:29:16
Finish : 14/02/2010 22:59:16
BUKU HARIAN GREY-ONE...
Namaku Grey One. Aku seekor kelinci. Iya...aku kelinci. Dan aku mau menulis buku harian. Heran ? Kenapa heran ? Memangnya tidak boleh kelinci punya buku harian ?
Oke...kamu tidak percaya kalau aku mau menulis buku harian. Tidak apa-apa. Tapi percayalah, kamu akan suka cerita-cerita tentang pengalamanku.
Oya, sebelum menulis buku harian ini, aku akan memperkenalkan diri dulu. Aku adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Ibuku, kami memanggilnya Emak, karena terasa lebih mesra.
Ayahku, Bronis. Kami tidak mengenalnya. Tidak sempat bertemu dengannya. Tapi Emak yang menceritakannya. Kata Emak, ayahku adalah kelinci keturunan yang bagus sekali. Bulunya berwarna coklat keemasan, seperti kue bronis. Itu sebabnya ia diberi nama Bronis.
Bulu emak agak panjang, tapi tidak sampai menutupi matanya. Kupingnya tegak, tanda bahwa beliau selalu siaga. Tetapi kalau ia sedang bersantai, di bawah meja makan, maka kupingnya agak merunduk sedikit. Oya, perlu aku jelaskan, seperti kata Emak, beliau sangat bebas berkeliaran di seluruh rumah tempat tinggal kami. Tidak di dalam kandang seperti biasanya kelinci lain. Tetapi sejak kelahiran kami, beliau harus tinggal di dalam kandang, agar bisa menyusui dan mengawasi pertumbuhan kami. Hanya sekali-sekali beliau dikeluarkan dari kandang, untuk beristirahat dan melemaskan otot-ototnya agar tidak kaku.
Sekarang aku mau cerita tentang keluarga kami.
Aku dan tujuh saudaraku yang lain dilahirkan tanggal 25 Desember 2009. Tentu saja kami tidak lahir bersamaan. Kata Emak, beliau mulai melahirkan sejak lepas tengah hari, hingga malam hari. Barangkali begitulah proses kelahiran kelinci. Satu persatu selama beberapa jam. Kelahiran kami berdelapan disambut gembira oleh orang-orang di rumah tempat tinggal kami. Ada Budhe, kami menyebutnya demikian dan Pakdhe. Itu yang sangat repot dengan kelahiran kami.
Mungkin karena pengalaman sebelumnya, seperti kata Emak, kakak-kakak kami mati tak lama setelah dilahirkan. Saat itu Emak sangat takut karena belum berpengalaman. Emak bersembunyi di ruang kerja Pakdhe, dan membiarkan kakak-kakak kami kelaparan dan kedinginan. Emak sendiri juga merasa lapar, tapi ia takut makan. Perutnya sakit. Dan ia hanya bisa merintih pelan.
Tidak mau kejadian yang sama terulang lagi, seluruh keluarga besar kami bergotongroyong menyelamatkan kami. Kami dan Emak diberi tempat di dalam kardus yang besar dan hangat, dan ditempatkan di sebuah ruang khusus. Kata budhe, sampai anak-anak kelinci cukup besar untuk dipindahkan ke dalam kandang. Di dekat kardus itu ada makanan dan air minum untuk Emak, sehingga ia tidak perlu jauh-jauh meninggalkan kami kalau sedang lapar dan ingin makan.
Emak ini kelinci istimewa, ia tidak hanya makan sayuran. Ia penggemar segala makanan, termasuk kue-kue, roti, kerupuk, pelet khusus kelinci, kacang rebus, dan banyak lagi. Mungkin itu sebabnya bulu Emak sangat bagus dan terawat. Tapi...itu sebelum kelahiran kami...hehehehe...
Setelah kelahiran kami, Emak mendengar kehebohan tentang penyebutan nama. Karena kami semua berwarna sama, agak keabu-abuan, maka diusulkan untuk memberi nama panggilan Grey. Itu adalah usulan Kakak Cantik, anak Budhe dan Pakdhe. Entah kebetulan atau tidak, kelahiran kami tepat sehari sebelum kepulangan Kakak Cantik dari luar negeri. Dia bersekolah di Inggris, sehingga nama kami pun disebut seperti nama Inggris. Grey. Keren juga sih. Tapi kalau delapan ekor kelinci namanya sama, apa hebatnya ? Padahal aku sangat ingin nama yang agak macho. Robi atau Roni. Tapi manalah mungkin. Kalau Budhe dan Pakdhe sudah memanggil kami ‘Grey’...berarti kami semua harus datang.
Nanti aku ceritakan kebiasaan-kebiasaan kami masing-masing. Dan bagaimana kami tumbuh bersama, hingga tiba saatnya kami harus berpisah. Iyalah...kandang yang tadinya cukup untuk kami berdelapan ditambah Emak, semakin hari semakin sesak rasanya. Kami tidak bisa berlarian dan melompat-lompat lagi di dalamnya.
Aku akan menulis satu persatu cerita tentang keseharian kami. Kuharap, sejak ini kamu akan tahu cerita tentang keluarga kami. Dan keluarga kelinci lain yang tinggal bersama kami.
Salam sayang,
Grey One ( yang masih ingin dipanggil Robi si Kuping Panjang)
Special note :
Thanks untuk Budhe yang mau menyalinkan buku harian ini, dan menjadi sebuah catatan perjalanan yang menyenangkan.