Rabu, 17 Februari 2010

Rabbit Diary 2010 (K-2 Buka Mata, Buka Telinga

Dear Allz...

Saya betul-betul nggak sangka, kalau si Grey One itu serius. Betul, dia lagi semangat-semangatnya menulis buku hariannya. Hampir setiap hari dia mencoret-coret, dengan tangannya...eeh, maksudnya kaki depannya, dan hasilnya...sebuah kisah tentang kehidupan yang dilihat dari kacamata kecilnya (walaupun dia nggak pakai kacamata...hehe...).

Saya jadi tidak tega untuk membiarkan tulisannya hanya tersimpan begitu saja. Di sela-sela waktu kerja saya, di sela-sela ngantuk yang mendera, akhirnya saya sempatkan juga untuk menyalin kembali coretan-coretannya.

Inilah dia, secarik kisah perkembangan hidupnya bersama saudara-saudara kembarnya...

Selamat menikmati....

Jakarta, 15 Februari 2010

Salam hangat dari kami berdua,


Ietje dan Grey One

NB : Saya hanya menuliskan idenya lho...semua asli dari Grey One sendiri....(ietje).




Art-Book Rabbit Diary 2010 (K-2
Serial : Pet Psychology
Start : 15/02/2010 11:17:18
Finish : 15/02/2010 12:04:04

BUKA MATA, BUNGA TELINGA...

Sekarang tanggal 1 Januari 2010. Itu menurut catatan Budhe dan Emak. Jadi kami sudah berumur kurang lebih 1 minggu. Kami masih tinggal di dalam kardus, dengan berselimut bulu-bulu Emak. Iya...berbeda dengan hewan lainnya, kami memang masih konvensional. Lahir berselimut bulu dari orangtua, yaitu Emak tercinta.

Tidak heran Emak sekarang menjadi kelihatan kurus dan kurang menarik, karena sekarang sebagian besar bulu-bulu tubuhnya sengaja dirontokkan untuk melindungi kami. Aslinya, kelinci memang hewan yang hidup di dalam liang atau lobang di dalam tanah. Sehingga untuk menghangatkan tubuh anak-anaknya, induk kelinci harus menjaganya dengan cara alamiah seperti yang dilakukan Emak kami.

Kami juga rentan terhadap cahaya. Maklum, sejak lahir kami masih buta dan belum dapat membuka mata. Kami hanya mengandalkan naluri untuk bergerak ke sana ke mari. Bahkan , seperti kata Emak, ketika kami lahir, kami hampir tidak memiliki bulu. Hanya bulu halus yang menutupi tubuh kami, lalu kuping yang kecil mirip cantelan, dan mata yang kelihatan besar tapi tertutup. Kaki-kaki kami juga begitu kecil, tidak berdaya. Dan kuku-kuku jari kaki kami pun sangat kecil. Mirip sebuah titik di ujung jari-jari kami. Lucu dan menggemaskan...hmm...

Iya...kami memang lucu...semua bayi adalah mahluk yang lucu...terutama kelinci...hehehe... narsis ya ? Iya neeh...udah bakat dan naluri turunan barangkali...uuhh....

Selain rentan terhadap cahaya, kami juga rentan terhadap perubahan suhu yang dingin mendadak. Di alam bebas, kelinci harus hidup di dalam liang, dan induk kelinci akan menghalangi angin dingin yang masuk dengan tubuhnya. 

Liang kelinci, seperti cerita Emak – yang didengarnya secara turun-temurun dari nenek-nenek kami, memiliki lika-liku yang rumit. Selain untuk pertahanan terhadap angin, lika-liku itu juga menghalangi air dan gangguan lain yang akan memasuki tempat tinggal kami. Itu sebabnya, jarang sekali terdengar berita bahwa ada kelinci hanyut karena kehujanan. Kami dibekali naluri yang sangat tajam mengenai cuaca. Kamu tidak akan percaya...bahwa kami bisa meramalkan banjir dan bencana kebakaran hutan. Itu sebabnya hidung kami selalu bergerak-gerak... mendengus dan membaui udara...


Eeeh...sabar dulu...kan tadi aku mau cerita tentang kelahiran kami, ya ?

Kembali ke naluri asal. Bahaya yang mengintai anak-anak kelinci memang sangat banyak. Di alam bebas kami menjadi santapan empuk kucing hutan dan keluarganya, anjing hutan, harimau ( aaah...ini sih pemakan segala jenis hewan), juga ular, burung elang, dan banyak predator lain.

Ketika kami sudah tinggal di desa dan kota, maka predator kami tetap kucing (heran ya...kenapa kucing doyan sama anak kelinci ?) dan juga anjing. Oya, kadang-kadang anak manusia yang masih kecil juga menjadi predator. Mereka menjadikan kami mainan, padahal kami belum cukup kuat untuk diangkat-angkat dan dibanting seperti kelinci karet. Itu sebabnya, perlindungan dari lingkungan sangat diharapkan untuk kelangsungan hidup kami.

Beruntunglah aku dan ketujuh adik-adikku mendapat orangtua yang sayang kepada kami, dan juga keluarga Budhe yang menjaga kami seperti menjaga bayi manusia. Tiap sebentar kami mendengar mereka masuk ke dalam ruangan isolasi, dan mengendap-endap mengintip kami. Samar-samar aku mendengar suara mereka berbisik-bisik, seakan-akan takut membangunkan kami. Padahal aku sangat ingin mendengar suara mereka lebih jelas, agar aku mengetahui bahwa kami aman di tangan mereka. Itu juga untuk melatih pendengaran kami, agar lebih cepat bisa mendengar suara yang beraneka di luar sana.

Sementara itu Emak masih mondar-mandir dari ruang isolasi dan ke luar. Kata Emak, ia bertemu dengan ayah. Yang masih setia menunggu di luar ruangan. Tepatnya, ia bukan menunggu, tapi dilarang masuk ke ruangan bayi ! Ini karena keyakinan beberapa orang, yang mengatakan bahwa bapak kelinci suka memakan anaknya. Huuh...itu salah besar. Bagaimana kejadiannya di alam bebas sana, kalau setiap bapak kelinci memakan anaknya ? Itu tidak mungkin. Kelangsungan hidup kelinci bisa punah, kalau semua bapak kelinci menyantap anak-anaknya.

Yang benar, seperti kata Emak, naluri pertahanan bangsa kelinci ini sangat besar. Induk kelinci, ibu maupun ayah, akan mengetahui bahwa anak-anak mereka cukup kuat atau lemah menghadapi tantangan. Itulah...seperti halnya suku-suku pejuang jaman dahulu yang tidak membiarkan keturunan yang cacat untuk hidup bersama mereka, maka induk kelinci juga akan membunuh anaknya yang lemah dan cacat. Mereka tidak akan kuat bertahan, dan secara alamiah akan merepotkan para induk kelinci. Jadi, bukan karena benci atau marah kepada anak-anaknya, seorang induk kelinci dan bapak hanya membunuh anaknya untuk keselamatan anaknya kelak di kemudian hari. Sungguh, hanya sebuah naluri dasar para hewan alam bebas.
Ehh...sekarang aku cerita lagi nih tentang perkembangan diri kami.

Dalam umur seminggu, kami memang masih sangat kecil dan tidak bisa apa-apa. Kami hanya bisa berguling kesana kemari, dan saling mendekatkan tubuh satu sama lain agar selalu hangat. Kami hanyalah sekumpulan anak kelinci, yang lemah dan tidak berdaya. Dan hanya bisa bertahan dengan kebersamaan. Kami belum punya identitas apa pun. Saat itu aku belum tahu, bahwa kelak aku akan diberi nama Grey One. Kami hanya disebut ‘ Anak si Abu – Bronis’. Yaitu nama orangtua kami.

Kami juga hanya hidup dari kebaikan dan naluri Emak sebagai induk kelinci. Dalam sehari ia akan datang beberapa kali mengeloni kami, dan memberikan susunya kepada kami secara bergantian. Ohhh...sebenarnya tidak ! Kami berebutan menyusu kepada Emak. Berhimpitan, dan kadang saling menginjak. Aku sendiri beberapa kali terpaksa menginjak kepala adikku, dan kepalaku sendiri sudah sering diinjak-injak oleh adik-adikku. 

Bukan tidak sopan, tapi memang begitulah cara kami memperoleh makanan. Berebutan untuk bertahan. Itu sebabnya, kelinci yang lemah dan cacat akan mati terinjak oleh saudaranya sendiri. Dan Alhamdulillah...kami semua adalah kelinci yang kuat dan sehat. Sehingga walau tiap saat kami terinjak dan harus berguling-guling, tapi kami tetap bertahan. Kata Emak, itu adalah cara belajar yang alamiah. Emak tidak mengajari kami berguling, tapi kami ternyata bisa melakukannya sendiri...



Ini adahal hari kesepuluh kelahiran kami.

Setelah berguling-guling selama berhari-hari, dan hanya mampu merayap sedikit dari satu ujung kardus ke ujung yang lain. Aku mencoba membuka mataku. Woooww...silau...

Emak mencoba menjilati mata kami satu persatu, agar otot-otot mata kami menjadi kuat. Kami secara naluriah juga datang ke pelukan Emak, menyuruk di bawah tubuhnya yang sekarang mulai tumbuh bulu-bulu baru, dan menengadahkan wajah agar bisa disentuh oleh lidah Emak yang agak kasar. Hiiii...rasanya geli. Tapi kami kan harus membuka mata. Dan hanya ini satu-satunya cara agar kami bisa segera melihat dunia.

Kata Emak, mata kelinci memiliki ketajaman yang luar biasa. Kami bisa melihat jauh ke segala arah , bahkan elang di langit pun bisa kami lihat. Hanya saja, karena elang memiliki kecepatan terbang luar biasa, kadang-kadang kalau kami jauh dari liang di padang rumput, burung elang masih dapat menyambar anak-anak kelinci yang kurang waspada.

Aku sih sebenarnya sudah tidak sabar lagi untuk berguling ke luar dari kotak kecil ini. Tapi kata Emak, aku harus bersabar. Ada saatnya tidur, dan ada saatnya bergerak. Kelinci memang hebat. Kami dilahirkan untuk sabar, tetapi kami juga dibekali sepasang kaki yang kuat untuk berlari dan melompat. Semoga saja saat itu segera datang.

Aku berguling lagi...mencoba melihat cahaya yang masuk melalui celah-celah kardus. Dalam hati bertanya : Seperti apakah dunia di luar sana ?

Ini adalah awal tahun yang luar biasa. Aku yakin, kami akan mampu menyambutnya dan berlari bersama waktu yang bergulir cepat...


Jakarta, 15 Februari 2010
Salam sayang,

Grey One

Special note :
Terima kasih untuk Budhe...Yang sabar, ya Budhe...cerita aku masih banyak niiih...Jangan lupa tulis terus ya, Budhe Sayang...mwaaah...

Tidak ada komentar: