Dear Allz...
Sebetulnya catatan yang ini tidak akan dipublikasikan. Kenapa ? Ini adalah rahasia kami berdua. Saya dan Grey One...eh, Robi.
Saya sendiri sampai meneteskan airmata ketika membacanya. Robi begitu pandai menyimpan perasaan dan kerinduannya, sehingga saya terhanyut ketika mendengar ceritanya.
Tetapi karena saya sudah berjanji kepada teman dan sahabat semua untuk menuliskan apa pun yang diorat-oret oleh Robi, jadi dengan berat hati catatan ini pun saya masukkan ke dalam laman Note saya.
Saya berpesan satu hal : tolong jaga perasaan Grey One...ah, Robi...dan siapkan tissu atau sapu tangan...Mana tahu akan diperlukan...
Bintaro, 19 Februari 2010
Salam sayang,
Ietje S. Guntur – mewakili Grey One
Art-Book Rabbit Diary 2010 (K-2
Serial : Pet Psychology
Start : 15/02/2010 21:12:07
Finish : 16/02/2010 11:53:50
FOTO KELUARGA
Hari Minggu, 10 Januari 2010.
Aku tahu, hari ini adalah hari Minggu. Tanda-tandanya...rumah Budhe kedengaran ramai dan hiruk-pikuk. Aku mendengar suara Budhe yang ceria memecah keheningan pagi. Dan nyanyiannya yang membahana dari kamar mandi....hmm...alamat hari cerah nih...Budhe sedang bagus mood-nya...hehehe...
Satu lagi tanda-tanda hari Minggu. Ada Pakdhe di rumah. Suaranya bergantian dengan suara televisi...hihi...Kata Emak, Pakdhe nggak bisa lepas dari tivi dan remote control. Pagi-pagi sudah di depan tivi, dan malam hari, pasti Pakdhe nonton tivi dulu, sambil memencet-mencet remote control tanpa henti. Pantesan Pakdhe dipanggil Pangeran Remote Control oleh Budhe...hahahaha...
Emak kan sering ikutan nonton tivi bareng Pakdhe. Sambil berselonjor, Emak menikmati tayangan film yang kadang-kadang agak menyeramkan juga. Itulah hebatnya Emak, walaupun hanya seekor kelinci, tapi pengetahuan Emak banyak sekali. Dari Emak juga kami belajar banyak tentang kehidupan ini.
Kata Emak, Budhe juga hobby memotret. Semua yang ada di sekitar Budhe pasti dipotret. Emak sudah berkali-kali dipotret sama Budhe, dalam berbagai posisi. Eeeh...aku jadi kepengen dipotret juga nih..hihi...buat bikin KTK...Kartu Tanda Kelinci...wakakakaka...
♥
Horeeeeee.....akhirnya kami akan difoto bersama-sama.
Pagi-pagi, kami dikeluarkan dari kandang. Dan seperti saat kami turun tanah, kali ini pun kami dijejerkan bersama-sama di lantai...(uuuh, kenapa di lantai siih...? licin..). Kami berdelapan mengambil posisi...hmm..tepatnya diposisikan agar bisa berbaris rapi. Bang Fer , sahabat keluarga Budhe, memegangi kami, agar kami tidak berlarian ke luar barisan. Ini pasti pekerjaan yang sulit, karena kami selalu bergerak kian kemari.
Emak berdiri di sudut, memperhatikan kami yang merayap-rayap di lantai licin. Aku berdiri di tengah, dan Grey Three di sebelahku. Grey Five dan Grey Six merapatkan tubuhnya di lantai. Masih gugup dengan perubahan situasi. Dari tempat yang hangat dan terlindung, sekarang di ruang terbuka dan dingin. Grey Seven, seperti biasa sudah nyelonong ke sisi yang lain. Dia paling tidak betah diatur siapa pun. Termasuk tangan-tangan manusia yang besar. Sejak kecil dia memang sudah menunjukkan jati diri, bahwa kelinci adalah mahluk bebas yang bisa melarikan diri ke mana pun kami mau....Waaah, kalau ada LSM Kelinci, pasti dia bisa jadi salah satu aktivisnya...hmmm...
“Abu sini...Abu...,” aku dengar suara Budhe memanggil Abu. Tapi Emak diam saja. Cuek. Dia malah bangkit dari selonjorannya, dan masuk ke dalam rumah Budhe. Barangkali Emak tidak suka difoto dalam keadaan lusuh seperti sekarang. Bulu-bulunya yang dulu tampak lebat dan berkilau bersih, sekarang kelihatan lusuh dan agak kotor. Emak pasti tidak suka kalau citranya sebagai kelinci cantik akan luntur gara-gara foto yang tidak tepat waktunya.
“Yeee...si Abu ngambek. Ayo, Abu...foto keluarga dulu.” Sambung yang lain. Emak masih cuek. Dia tidak mau difoto bersama kami. Barangkali dia berpikir, biar anak-anak saja yang difoto. Emak tidak mau lagi berfoto tanpa ada Ayah di sisinya. Itu pernah dikatakan Emak kepadaku, beberapa waktu lalu.
Berdiri berjajar begini, aku jadi ingat Ayah. Betul juga kata Emak, kami tidak lengkap tanpa kehadiran Ayah.
Emak bilang, Ayah harus dikembalikan ke kampung halamannya di Bandung karena di sini selalu mengacaukan situasi. Yaah, naluri kelinci padang rumput di dalam diri Ayah memang sedang bergolak. Dan karena tidak ada padang rumput untuk tempat menggali lobang dan menggigit akar-akar pohon yang dapat dijadikan sarang, maka Ayah pun menggigiti kabel listrik dan membuat lobang di bawah kasur tempat tidur .
Kebiasaan Ayah yang suka memanjat dan menggigit juga dipraktekkannya di ruang keluarga rumah Budhe. Bila tidak ada orang di sana, maka Ayah akan memanjat semua lemari buku, dan naik ke atas pesawat tivi. Apa maksudnya coba ? Itu kan berbahaya. Tapi Ayah tidak kapok, walaupun Budhe sudah berkali-kali memarahinya. Dasar Ayah...
Kalau saja kami tinggal di padang rumput atau di hutan, Ayah pasti menjadi orangtua yang luar biasa. Dengan ketrampilannya itu beliau bisa membuatkan lobang yang besar dan hangat untuk kami, aku dan adik-adik, dan Emak. Apalagi aku lihat, Emak dan Ayah saling mencintai, dan saling mendukung. Sayang...Ayah tinggal di tempat yang kurang tepat, pada saat yang kurang tepat pula...
♥
Aku masih melihat kian kemari.
Sesi foto yang tadi berlangsung kacau semakin ramai karena sekarang adik-adikku mulai menjerit-jerit lirih dan mencakar-cakar. Budhe meletakkan wadah makanan berupa pelet berwarna hijau dan orange di hadapan kami. Kata Emak, itu adalah makanan yang enak dan bergizi. Dibuat dari sari sayuran yang dipres hingga mudah dimakan.
Kami belum pernah makan pelet sebelumnya, walaupun kadang-kadang Budhe meletakkan makanan itu di kandang kami, untuk Emak. Sekarang adalah waktunya kami mencoba. Tapi bagaimana caranya ?
Seperti biasa Grey Seven yang mendahului. Dia memanjat ke atas tempat makanan, dan tiarap di situ. Wajahnya disurukkan ke dalam tumpukan makanan, lalu dia mulai mengunyah. Kami melihatnya, dan ikut-ikutan memasukkan kepala ke dalam makanan itu. Agak sulit juga menggigitnya, karena pelet yang ada di dalam wadah bergerak mengikuti dorongan mulut kami.
Aku mencicipi....hmmhh...rasanya enak. Aku belum pernah makan apa pun, dan ini adalah makananku yang pertama. Kami semua mencoba, mencicipi dengan ujung lidah kami. Grey Four bergidik...rupanya dia masih geli dengan jenis makanan seperti ini. Grey Eight memisahkan diri, dan menjauh dari kami. Diikuti oleh Grey Five yang suka ngambek.
Sekilas aku melihat ada kilauan lampu..., yang kata Emak adalah lampu blitz kamera Budhe. Waaah...aku jadi tahu sekarang, bahwa semua aksi dan gaya kami difoto oleh Budhe. Aku mencoba bergaya, tapi disundul oleh Grey Six yang ingin mencoba makan pelet di wadah. Aku tergeser dan nyaris terguling. Tubuhku menimpa Grey Three yang sedang merayap naik. Kami lalu jatuh bergulingan...saling bertindihan...waaah, senaaaang sekali...Aku jadi lupa, bahwa kami sedang disorot kamera...Aaah...dasar anak kecil...
♥
Selesai sesi foto, kami dibiarkan sejenak bermain di lantai yang licin. Emak datang mendekati kami, lalu ikut naik ke dalam kandang yang baru. Rupanya Emak senang dengan acara pemotretan dan kesempatan kami untuk menjadi model.
Kata Emak, dia pernah melihat Budhe memasukkan foto-fotonya di laman Facebook...halaaaah...bisa terkenal dong kami nanti, ya ? Moga-moga Budhe puas dengan gaya kami yang natural...asli gaya kelinci...dan tak lama lagi kami pun akan dipajang seperti Emak dan Ayah yang sudah terkenal lebih dahulu...
Siang yang menyenangkan itu pun berlalu dengan cepat. Aku dan adik-adikku sudah dikembalikan ke dalam kandang. Kami berebutan masuk ke dalam kardus, mencari posisi yang enak di tubuh Emak. Untuk menyusu.
Setelah lelah dengan acara foto keluarga itu, aku merasa mengantuk. Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat foto-foto kami yang tadi diambil Budhe.
Aku melamun...seandainya Ayah ada di sini, maka foto keluarga kami akan menjadi foto keluarga kelinci yang paling lengkap...tapi ya, sudahlah... semoga masih ada kesempatan untuk berfoto keluarga lagi dengan keluarga besar kelinci di rumah Budhe...hiiiksss....
Tanpa terasa airmataku meleleh...aku memang jadi mellow kalau ingat Ayah...Aku hanya bisa berdoa, semoga Ayah tetap mengingat kami...Dan aku juga berjanji, kalau aku nanti sebesar Ayah , aku tidak akan menggigit-gigit kabel dan memanjat-manjat pesawat televisi....
Semogaaaaaaa......
♥
Jakarta, 16 Februari 2010
Salam sayang,
Grey One
Special note :
Terima kasih ya, Budhe...nanti foto kami dipajang di kandang yaa...hihi..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar