Rabu, 17 Februari 2010

Rabbit Diary 2010 (K-2 Buku Harian Grey-One

Dear Allz...

Mungkin agak aneh, ya...kenapa saya menurunkan tulisan ini di dalam laman Note Facebook saya. Tapi tidak apa-apa khan ? Saya menemukan catatan orat-oret ini...khas remaja...dan saya mengintipnya. Lalu, dengan seijin pemiliknya, si Grey, saya menyalinkannya untuk teman dan sahabat semua.

Percayalah...ini semua asli catatannya. Tidak ada rekayasa. Dan tidak ada maksud untuk menjadikannya seperti Rabbit-taintment.

Selamat membaca...semoga ada yang dapat kita pelajari dari catatan kecil si Grey One ini.

Jakarta, 14 Februari 2010

Salam hangat,


Ietje S. Guntur





Art-Book Rabbit Diary 2010 (K-2
Serial : Pet Psychology
Start : 14/02/2010 22:29:16
Finish : 14/02/2010 22:59:16

BUKU HARIAN GREY-ONE...

Namaku Grey One. Aku seekor kelinci. Iya...aku kelinci. Dan aku mau menulis buku harian. Heran ? Kenapa heran ? Memangnya tidak boleh kelinci punya buku harian ?

Oke...kamu tidak percaya kalau aku mau menulis buku harian. Tidak apa-apa. Tapi percayalah, kamu akan suka cerita-cerita tentang pengalamanku.

Oya, sebelum menulis buku harian ini, aku akan memperkenalkan diri dulu. Aku adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Ibuku, kami memanggilnya Emak, karena terasa lebih mesra.

Ayahku, Bronis. Kami tidak mengenalnya. Tidak sempat bertemu dengannya. Tapi Emak yang menceritakannya. Kata Emak, ayahku adalah kelinci keturunan yang bagus sekali. Bulunya berwarna coklat keemasan, seperti kue bronis. Itu sebabnya ia diberi nama Bronis.

Emak, ibu kami yang tersayang adalah kelinci berwarna agak putih dengan beberapa semburat coklat dan keabu-abuan. Sekilas warna bulunya seperti tersiram abu dapur. Kata Emak, nama Abu seharusnya untuk laki-laki, tetapi ia pasrah saja dengan sebutan itu. Yang penting, keluarga tempat kami tinggal sekarang sangat menyayangi Emak.

Bulu emak agak panjang, tapi tidak sampai menutupi matanya. Kupingnya tegak, tanda bahwa beliau selalu siaga. Tetapi kalau ia sedang bersantai, di bawah meja makan, maka kupingnya agak merunduk sedikit. Oya, perlu aku jelaskan, seperti kata Emak, beliau sangat bebas berkeliaran di seluruh rumah tempat tinggal kami. Tidak di dalam kandang seperti biasanya kelinci lain. Tetapi sejak kelahiran kami, beliau harus tinggal di dalam kandang, agar bisa menyusui dan mengawasi pertumbuhan kami. Hanya sekali-sekali beliau dikeluarkan dari kandang, untuk beristirahat dan melemaskan otot-ototnya agar tidak kaku. 

Seperti semua kelinci lain, kami memang ditakdirkan untuk berlari dan melompat. Namun, karena kami sekarang tinggal bersama orang-orang di kota, maka kami hanya bisa diam di dalam kandang. Beruntung Emak, karena perilakunya yang manis dan penurut, maka ia diijinkan untuk berkeliaran di dalam rumah. Ia bisa menjelajah seluruh ruangan, bahkan semasa masih gadis, sebelum mengenal ayah, ia bisa masuk ke kamar tidur Pakdhe dan Budhe. Ia bahkan memiliki sebuah sudut yang luas untuk tidur berselonjor. Sekarang Emak tak pernah lagi masuk ke kamar Pakdhe dan Budhe, ia kuatir meninggalkan kami lama-lama. Itulah...Emak memang sangat mencintai kami.


Sekarang aku mau cerita tentang keluarga kami.

Aku dan tujuh saudaraku yang lain dilahirkan tanggal 25 Desember 2009. Tentu saja kami tidak lahir bersamaan. Kata Emak, beliau mulai melahirkan sejak lepas tengah hari, hingga malam hari. Barangkali begitulah proses kelahiran kelinci. Satu persatu selama beberapa jam. Kelahiran kami berdelapan disambut gembira oleh orang-orang di rumah tempat tinggal kami. Ada Budhe, kami menyebutnya demikian dan Pakdhe. Itu yang sangat repot dengan kelahiran kami.

Mungkin karena pengalaman sebelumnya, seperti kata Emak, kakak-kakak kami mati tak lama setelah dilahirkan. Saat itu Emak sangat takut karena belum berpengalaman. Emak bersembunyi di ruang kerja Pakdhe, dan membiarkan kakak-kakak kami kelaparan dan kedinginan. Emak sendiri juga merasa lapar, tapi ia takut makan. Perutnya sakit. Dan ia hanya bisa merintih pelan.

Tidak mau kejadian yang sama terulang lagi, seluruh keluarga besar kami bergotongroyong menyelamatkan kami. Kami dan Emak diberi tempat di dalam kardus yang besar dan hangat, dan ditempatkan di sebuah ruang khusus. Kata budhe, sampai anak-anak kelinci cukup besar untuk dipindahkan ke dalam kandang. Di dekat kardus itu ada makanan dan air minum untuk Emak, sehingga ia tidak perlu jauh-jauh meninggalkan kami kalau sedang lapar dan ingin makan.

Emak ini kelinci istimewa, ia tidak hanya makan sayuran. Ia penggemar segala makanan, termasuk kue-kue, roti, kerupuk, pelet khusus kelinci, kacang rebus, dan banyak lagi. Mungkin itu sebabnya bulu Emak sangat bagus dan terawat. Tapi...itu sebelum kelahiran kami...hehehehe...

Sesuai dengan urutan kelahiran kami, aku adalah anak pertama. Berturut-turut adik-adikku lahir. Biasanya kelinci lahir sepasang-sepasang. Tetapi kami terdiri dari 3 kelinci jantan, dan 5 kelinci betina. Tidak apa-apa. Kami toh masih bisa bermain bersama-sama.

Setelah kelahiran kami, Emak mendengar kehebohan tentang penyebutan nama. Karena kami semua berwarna sama, agak keabu-abuan, maka diusulkan untuk memberi nama panggilan Grey. Itu adalah usulan Kakak Cantik, anak Budhe dan Pakdhe. Entah kebetulan atau tidak, kelahiran kami tepat sehari sebelum kepulangan Kakak Cantik dari luar negeri. Dia bersekolah di Inggris, sehingga nama kami pun disebut seperti nama Inggris. Grey. Keren juga sih. Tapi kalau delapan ekor kelinci namanya sama, apa hebatnya ? Padahal aku sangat ingin nama yang agak macho. Robi atau Roni. Tapi manalah mungkin. Kalau Budhe dan Pakdhe sudah memanggil kami ‘Grey’...berarti kami semua harus datang.

Kami hanya dibedakan berdasarkan urutan. Aku Grey One, dan adik-adikku Grey Two, Grey Three, Grey Four....hingga si bungsu Grey Eight. Sekilas kami memang mirip, sangat mirip satu sama lain. Bulu berwarna keabu-abuan, telinga panjang seperti Emak. Bedanya hanya di beberapa bagian tubuh. Aku memiliki tapak putih seperti kaus kaki sebelah. Adikku ada yang memiliki buntut dua warna, putih dan abu-abu. Pokoknya kami berbeda jugalah. Kata Emak, yang paling membedakan kami adalah sifat-sifat kami. Iya...betul juga. Kami masing-masing memang punya sifat dan kebiasaan yang berbeda.

Nanti aku ceritakan kebiasaan-kebiasaan kami masing-masing. Dan bagaimana kami tumbuh bersama, hingga tiba saatnya kami harus berpisah. Iyalah...kandang yang tadinya cukup untuk kami berdelapan ditambah Emak, semakin hari semakin sesak rasanya. Kami tidak bisa berlarian dan melompat-lompat lagi di dalamnya.

Tapi tunggu...

Aku akan menulis satu persatu cerita tentang keseharian kami. Kuharap, sejak ini kamu akan tahu cerita tentang keluarga kami. Dan keluarga kelinci lain yang tinggal bersama kami.


Salam sayang,

Grey One ( yang masih ingin dipanggil Robi si Kuping Panjang)

Special note :
Thanks untuk Budhe yang mau menyalinkan buku harian ini, dan menjadi sebuah catatan perjalanan yang menyenangkan.

Tidak ada komentar: