Selasa, 09 September 2008

Kelas Akselerasi...

Temanz,

Pagi ini ( Senin - 26 Juli 2004), saya baca koran Kompas, ada satu artikel menarik berjudul "Kelas Akselerasi, Budaya Instan Pendidikan Kita". Isinya antara lain menceritakan pengalaman seorang anak bernama Tasya, usia 12 tahun, sudah lulus SMP, dan minggu lalu mulai masuk ke SMA. Dikatakan, bahwa Tasya sangat takut menghadapi kelas barunya itu.

Masih berkaitan dengan Hari Anak Nasional yang diperingati tanggal 23 Juli yang lalu, kalau kita melihat kasus Tasya - yang dalam usia masih anak-anak tetapi sudah bisa masuk SMA, barangkali kita bisa melihatnya dari beberapa kacamata. Kacamata orangtua : jujur saja, orang tua mana sih pada jaman serba penuh persaingan dan pameran prestasi ini yang tidak bangga punya anak yang sangat unggul dan bisa diterima di kelas akselerasi yang bergengsi itu ?

Kacamata buku psikologi : lho, kok anak umur 12 tahun sudah masuk ke SMA ? Apa dia sudah menyelesaikan tugas perkembangannya untuk usia 12 tahun ? Kok pada usia itu dia harus memikul beban tugas perkembangan seorang 'remaja' usia 15-16 tahun ? Bagaimana perkembangan emosi dan sosialnya ?

Kacamata anak : Ibuuuuuuuuuuu....aku takut menghadapi kakak-kakak kelasku yang galak-galak itu ! Mampukah aku mengikuti gaya pergaulan mereka ? Mampukah aku berkomunikasi dengan 'bahasa' mereka ? Apakah nanti aku akan diterima dan diperlakukan seperti teman mereka yang sebaya, atau aku akan dikucilkan karena dianggap anak bawang ? Atau aku akan dimusuhi karena dianggap sebagai saingan berat ? (Ibu, ingat nggak kasus kakak kelas yang menculik dan menyiksa adik kelasnya, karena dianggap sebagai saingan ...aku takut aku juga diperlakukan begitu !)

Apa pun, kelas akselerasi sudah berjalan , dan ternyata banyak peminatnya. Terutama para orang tua ( baca : IBU ), akan sangat bangga kalau anaknya diterima dan mengikuti kelas akselerasi. Sebaliknya, akan kecewa kalau ternyata anaknya tidak diterima di kelas akselerasi.

Sekarang kita lihat, apa hasil kelas akselerasi itu ? Apakah anak-anak yang ikut kelas akselerasi dan lulus SMA dalam usia 13 - 14 tahun akan sukses seterusnya ? Oke, mereka bisa masuk perguruan tinggi dan lulus lagi sebagai sarjana pada usia 16-17 tahun ! Lalu apa ? Apakah dengan demikian mereka sudah sukses menjadi orang ? Lalu, apakah mereka lalu dengan mulus dapat melenggang ke dunia kerja atau ke masyarakat yang kompleks dan sangat hiruk pikuk dengan berbagai persoalan ?

Saya ingat, beberapa tahun lalu, ada 2 orang anak ( kebetulan laki-laki) yang lulus SMA dalam usia sangat muda ( kalau tidak salah ya, 14-15 tahun begitu). Itu semua berkat sistem pengajaran yang langsung dibimbing oleh orangtuanya yang ( kebetulan pula) seorang guru. Jadi selama 24 jam sehari mereka belajar dan belajar terus secara sistematis. Hasilnya ? Saya tidak tahu di mana kedua anak itu sekarang berada . Apakah mereka menuai sukses di dalam karier dan hidupnya, atau bagaimana ? ( barangkali ada rekan yang ingat, sekitar tahun 80-an begitu).

Barangkali di sini saya mau sharing sedikit pengalaman saya. Saya punya seorang anak ( tunggal ), perempuan, dan masuk SD pada usia 5 tahun tepat. Ketika itu saya hanya berpikir ringkas saja, dari pada main di TK kelamaan ( dia masuk TK dari usia 3 tahun, karena dekat dengan rumah, dan tujuannya memang untuk main saja), lebih baik dia dicoba masuk ke SD. Itu pun saya membuat perjanjian dengan gurunya, kalau dia tidak mampu mengikuti pelajaran, biarkan dia tinggal kelas dan mengulang. Tapi apa daya, ternyata tahun pertama sampai tahun ketiga dia bisa mengimbangi teman sekelasnya dan masuk rangking 3 besar ( saya tidak terlalu peduli dengan rangking, yang penting dia enjoy dengan sekolahnya). Tiga tahun itu merupakan saat yang menyenangkan untuk dia, karena dia masih bisa sekolah semau-maunya. Kalau dia cape, saya tidak pernah paksakan untuk masuk. Bikin pe-er juga tidak terlalu banyak, jadi sambil santai dia bisa menyelesaikan tugasnya. Kegiatan di rumah juga saya batasi hanya berenang ( ini memang saya wajibkan, agar dia berani dengan air , bukan untuk jadi juara olimpiade) dan bermain dengan teman-temannya di rumah.

Masalah baru mulai muncul ketika dia kelas 4 SD sampai lulus SD. Entah karena badannya yang kecil, atau karena pertumbuhannya terhambat, dia mulai merasa minder dengan teman-teman sekelasnya (perempuan) yang tumbuh besar dan sudah menunjukkan ciri-ciri kewanitaannya. Dia sampai agak stres mengamati dirinya sendiri, yang secara fisik masih saja seperti anak kelas 2 - 3 SD. Pada saat itu saya sendiri tidak berpikir, bahwa hal itu sangat mempengaruhi dirinya. Jadi dengan santai saya menjelaskan bahwa saatnya juga akan tiba dia menjadi gadis remaja .

Masuk SMP, badannya masih saja kecil dan setipis papan setrikaan walaupun tingginya sudah mengikuti teman-temannya. Bukan itu saja, dia pun sulit memahami 'hasrat biologis' teman-teman seangkatannya yang rata-rata berusia 1-2 tahun di atasnya. Dan dengan bloon dia bertanya kepada teman-temannya ( karena teman dianggap dewa yang tahu segalanya). Tentu saja dia ditertawakan dan kembali dianggap sebagai anak kecil. Kondisi ini berlanjut terus sampai dia SMA, karena kebetulan dia sekolah di tempat yang sama - dan temannya sebagian besar masih yang itu-itu juga.

Akhirnya, setelah lulus SMA ( dengan peringkat yang cukup baik) , dia baru bilang bahwa dia sudah melewati masa paling sulit dalam hidupnya, yaitu merasa tidak pernah sesuai dengan perkembangan ( psikologis ) teman-temannya. Pada saat itulah saya baru sadar, bahwa saya pernah salah dalam memberikan lingkungan pendidikan yang sesuai bagi anak saya ( padahal konon saya seorang psikolog). Saya akui, bahwa yang baik menurut saya, belum tentu cocok dengan anak saya. Dan untungnya, dia kuat menahan itu semua, dengan mengimbanginya melalui pergaulan di luar sekolah yang dipilihnya sendiri ( tentu saja dengan berkonsultasi dengan saya dan ayahnya, selaku 'PENGUASA' di rumah...hehehe...).

Pada saat kelulusannya dulu ( 3 tahun yang lalu), saya hanya bisa bilang ," Tugas terberat ibu sebagai orangtua juga hampir selesai. Paling tidak kamu sekarang sudah punya ijazah SMA. Sekarang terserah kamu, mau diapakan itu ijazah. Mau dipakai untuk melanjutkan kuliah, atau mau dipakai untuk bekerja, atau mau dipakai untuk cari jodoh." Dan benar saja, dia memilih kuliah menuruti kata hatinya sendiri. Apa-apa yang terpendam selama 9 tahun masa pendidikannya yang penuh dengan penderitaan ( 3 tahun pertama waktu SD masih merupakan masa manis), diluapkannya selama masa kuliah. Tahun pertama dihabiskannya untuk jadi segala macam panitia kegiatan di kampus, tahun kedua dia belajar serius, tahun ke tiga dia mulai belajar cari duit sendiri. Karena saya sudah berjanji tidak akan mengomentari pilihan hidupnya, jadinya ya, sekarang Tut Wuri Handayani saja. Que sera sera saja. Karena seperti Khalil Gibran bilang, bahwa 'ANAKMU BUKANLAH ANAKMU...DIA SEPERTI ANAK PANAH, YANG DILEPASKAN DARI BUSURNYA..'

Jadi, kembali ke Kelas Akselerasi...apa pun tujuannya, sebaiknya kita meneliti lagi : Apakah pendidikan itu untuk kepentingan anak ? Ataukah untuk kepentingan orangtua ? Ataukah untuk kepentingan sekolah - yang sekarang sudah menjadi industri pendidikan ? Karena seperti kata sesepuh pendidikan Ki Hajar Dewantoro, bahwa pada dasarnya pendidikan anak adalah pendidikan bangsa, kita tidak hanya mendidik akalnya tetapi juga batinnya ( perasaannya). Dan tujuan pendidikan itu bukan sekedar membuat orang pintar, tetapi membuat orang MAMPU MENYELESAIKAN MASALAHNYA. Nah, kalau kelas akselerasi atau kelas dini ( seperti kasus anak saya sendiri) justru menimbulkan masalah bagi si anak ( dan buntutnya juga orangtua ), apakah tidak perlu dikaji ulang dalam pelaksanaannya ?

Gitu ajalah ! I care, but I dont cry, lho...

Salam,

>ietje<

Tidak ada komentar: