Dear Allz…
Pernah melihat awan
Kapan terakhir kali teman dan sahabat memperhatikan perjalanan awan ? Kemarin ? Minggu lalu ? Atau sudah lupa ? Karena terkurung di dalam kungkungan ruang berlapis kaca yang tak kenal pemandangan langit dan awan yang berarak ?
Tidak apa…kali ini saya ingin berbagi cerita tentang awan. Misteri apa yang ada di dalamnya ? Entahlah…nikmati saja …Semoga menjadi petualangan yang menarik…
Salam hangat dari balik awan,
Ietje
♥♥♥ NB : Sesungguhnya hari ini saya harus istirahat dan berbaring di ranjang…karena ada yang ‘salah tempat’ di badan saya. Tapi seorang sahabat mengusik saya dengan pertanyaan ,”Pernah menulis tentang awan ?”. Lalu sambil tertatih, saya bangkit dari ranjang…melihat ke luar…ke langit…melalui jendela yang terpentang lebar…Dan pelan-pelan…imajinasi tentang awan pun mengalir.
Inilah dia….
Art-Living Sos 2008 (A-2.19.2
2/19/2008 12:39 PM
2/19/2008 6:46 PM
KULIHAT AWAN…..
Kulihat awan , Seputih kapas
Andai kudapat ke
Akan kuraih , Kubawa pulang….
♥
Itu adalah potongan lagu tentang “Awan” yang sering saya nyanyikan ketika melihat gumpalan-gumpalan putih itu menghampar di langit biru. Lagu yang kemudian membawa saya melayang…entah kemana….
Kali ini saya sedang dalam perjalanan ke luar
Awan. Yang berkejaran. Mengikuti arah angin. Membuat pola yang tidak pernah berhenti.
Bentuknya pun jadi bermacam-macam.
Saya menatap takjub. Awan di langit luas. Begitu banyak yang bisa kita baca dari perjalanannya. Dari bentuknya. Dari warnanya. Dari pergerakannya. Saya bukan ahli geofisika, bukan pula ahli meramal cuaca. Tapi kalau sekilas melihat awan gelap kelabu yang bergumpal, tentu saya menduga bahwa hujan akan turun sebentar lagi. Apalagi kalau awan gelap itu disertai angin kencang dan percikan kilat membelah langit. Tanpa menjadi ahli geofisika sekalipun setiap orang pasti tahu…bahwa hujan sudah siap-siap mengguyuri bumi..
Itulah bahasa awan. Bahasa rahasia alam semesta.
Saat yang lain.
Sore menjelang senja. Matahari tampak malu-malu menyinari bumi. Sinarnya yang keemasan memantul di puncak-puncak awan yang bergulung seperti gumpanan kapas. Di
Langit tampak cantik. Latar belakang biru dengan hiasan awan putih dan semburat jingga. Sedikit ada kilau keemasan dan merah merona. Potongan-potongan awan membuat koridor dan terawang-terawang seperti renda-renda di baju seorang dara. Sungguh memukau. Membuat mata ini enggan beralih pandang ke tempat lain.
♥
Ngomong-ngomong soal awan. Memang mengandung banyak misteri. Saya jadi ingat masa kecil saya yang penuh kebebasan. Ketika bersama teman-teman berbaring di bawah pohon di pinggir sawah. Menatap awan yang berarak di langit biru. Lalu kami mulai memperhatikan semua bentuknya. Dan berteriak seru kalau ada awan yang berbentuk unik.
“Lihat itu…seperti beruang !”
“Yang itu seperti kereta perang.”
“Itu lebih bagus…seperti bidadari…”
Padahal kami belum pernah melihat bentuk ketiga-tiganya. Beruang. Kereta perang. Bidadari. Tapi tak jadi apa. Kami bisa berkhayal sesuai dengan perubahan bentuk awan.
“Lihat…seperti kelinci…”
“Iyaa…di belakangnya ada anjing…”
“Waaah…lagi kejar-kejaran…”
“Wuushhh…wuuushhhh…ayo lari…lari…heee…kelincinya hilang…”
“Anjingnya jadi raksasa…”
“Ihhh…serem, ya ? Sekarang jadi hantu…hiiiiii….”
“Lihat yang lain saja…”
Awan memang bisa membuat dunia imajinasi berkembang. Apalagi dunia anak-anak yang tanpa batas. Setelah melihat awan kadang kami meneruskan dengan saling bercerita. Tentang apa yang dilihat di langit. Tentang gambar yang bisa diciptakan dari awan. Bahkan kami berkhayal, seandainya bisa hidup di atas awan. Bersama burung. Bersama bidadari. Dan kami menjadi penghuni Negeri Di atas Awan. Menjadi putri-putri dengan sayap yang bisa terbang kian kemari.
Saya sendiri lebih suka melihat langit dan awan seperti pantulan dari kondisi di laut. Langit biru seperti samudra. Dan hamparan awan yang bergaris-garis seperti hamparan sutra. Kadang saya berkhayal itu adalah kumpulan ikan-ikan. Saya malah pernah bilang ke adik saya, kalau awan berbentuk seperti deretan ikan-ikan kecil berarti di laut sedang banyak ikan. Entah dari mana saya mendapatkan ilmu itu. Tapi adik saya percaya saja. Dan setiap kali melihat langit dengan bentuk awan seperti itu, dia akan mengingatkan saya, bahwa di laut sedang musim ikan…hehehe…Semoga saja, ya ?
Sampai hari ini pun, kalau saya melihat langit…kadang saya membayangkan seperti apa berada di antara awan-awan. Mengapung bersama awan. Atau main kejar-kejaran seperti bermain di lautan kapas.
♥
Awan memang cantik dan indah ketika kita memandangnya dari bawah. Juga membuat penasaran dan menimbulkan tanda tanya ketika kita berada di antaranya. Memecah awan dalam balutan pesawat terbang yang membawa saya dari satu
Dari butiran air yang menguap. Dan kemudian menyublim menjadi kumpulan awan. Membentuk gumpalan yang beraneka bentuk. Kadang seperti tiang perak yang penuh dengan pahatan. Kadang seperti hamparan selimut perak kemilauan. Kadang seperti bola-bola salju di atas nampan biru. Tak pernah sama. Tak pernah abadi. Selalu berubah. Selalu bergerak. Selalu menimbulkan tanda tanya.
Keindahan awan bagi saya, barangkali akan berbeda dengan yang dirasakan oleh seorang pilot pesawat terbang. Ketika ia harus menerobos atau menghindar dari tiang-tiang awan di langit tinggi. Kegembiraan saya ketika terlonjak-lonjak dalam pesawat seperti naik kuda
Hmm…tapi ngomong-ngomong…saya pernah juga sih mengalami rasa takut yang luar biasa ketika berada di dalam gumpalan awan. Selain lonjakan pesawat yang di luar kewajaran, saya juga merasa seperti buta karena tidak bisa melihat apa-apa selain warna putih yang membungkus di balik jendela. Perasaan saya sama dengan ketika menyelam di sungai yang keruh dan pandangan tidak dapat menembus apa-apa.
♥
Sepotong awan, memang selalu menjadi misteri. Selalu menjadi tanda tanya. Sepotong awan adalah lautan imajinasi yang tampak di pelupuk mata. Tapi begitu banyak tandatanya dan sekaligus jawaban di dalamnya.
Seperti kehidupan kita. Yang kadang tampak nyata. Tapi juga menimbulkan banyak tanda tanya…tentang kemarin yang milik kita…tentang saat ini yang sedang kita jalani…tentang esok yang tidak pernah kita ketahui apa yang akan terjadi…
Seperti awan…yang tergantung dari uap air, sinar matahari dan arah angin. Seperti itulah kehidupan kita…yang tergantung pada banyak hal, yang kadang jauh dari jangkauan pemikiran dan imajinasi kita sendiri…
♥♫♥
Dalam renungan awan mendung,
Ietje S. Guntur
Special Note : Thanks buat Mr Kecap Cap Sawi…yang menunggu awan di balik hujan…hehehe…thanks buat inspirasinya di pagi mendung tadi…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar