Dear Allz...
Suatu hari seorang sahabat saya bilang begini, “Tje, tulislah tentang perkawinan”. Hmm...perkawinan ? Tentang apanya ? Tentang sebuah perkawinan yang ideal ? Wooww...beraaat nih...
Kenapa ? Karena perkawinan itu memang bukan urusan mudah. Yang belum mengalaminya, kepengen buru-buru memasuki gerbangnya. Dan berharap seperti cerita putri-putri jaman dahulu kala, dengan kisah seperti ini ...”maka mereka pun hidup berbahagia selamanya...”.
Di sisi lain, orang yang sudah berada di dalam perkawinan, sering kali merasa bahwa perkawinan itu seperti bubu ikan, atau perangkap tikus...Mouse Trap. Dan mereka sekuat tenaga ingin lari atau melompat dari situ, dengan berbagai cara.
Namun apa pun kondisinya, perkawinan tetaplah sebuah misteri. Tidak ada perkawinan yang ideal, yang cocok untuk semua orang. Ibarat obat, semua harus sesuai dosis dan umur. Perkawinan adalah proses...sebuah perjalanan...dan tidak bisa instan. Tidak ada perkawinan ala kopi 3 in 1, yang cukup diseduh dengan air panas dan dinikmati rasanya. Perkawinan adalah sebuah adonan, yang tiap hari bisa berubah rasanya.
Hmmm...mumpung saat ini saya sedang berdebar-debar dan berbahagia...saya ingin sharing...berbagi pengalaman sedikit tentang perjalanan sebuah perkawinan...
Selamat menikmati...semoga berkenan....
Salam sayang,
Dari pojok Bintaro yang hening....
Ietje S. Guntur
Art-Living Sos 2009 (A-9
Rabu, 30 September 2009
Start : 30/09/2009 8:57:58
Finish : 30/09/2009 12:08:50
PERKAWINAN...
SEKOLAH YANG TAK PERNAH SELESAI
Besok, tanggal 1 Oktober adalah hari ulang tahun perkawinan saya. Dengan suami saya, yang saya sebut dengan panggilan sayang : Pangeran Remote Control. Ulang tahun ke 26. Hmm...Alhamdulillah...
Artinya....selama 26 tahun ini saya sudah hidup bersama dengan seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal. Seseorang yang memiliki begitu banyak perbedaan dengan saya. Namun, karena sebuah komitmen, jadinya kami dapat menjalankan kehidupan ini bersama-sama.
Berbeda ? Ya, iyalah...Coba lihat, betapa banyak perbedaan antara saya dan Pangeran.
Yang pertama, berbeda jenis kelamin...hehehehe...iya, ini penting. Kalau kelamin tidak berbeda, untuk apa saya menikah dan berumahtangga dengan dia ? Perbedaan ini juga yang kelak, di dalam perjalanan hidup bersama, membuat saya dan dia selalu tarik ulur. Selalu berusaha saling memahami, sekaligus bertanya-tanya : Apa sih yang salah dengan dia ? Kok dia tidak bisa memahami saya ? Apakah dia tidak tahu, kalau saya punya siklus hormonal yang mempengaruhi pemikiran saya, perasaan saya, dan nafsu-nafsu saya ? uuuhh....
Untunglah kami berbeda !
Yang lain adalah perbedaan bentuk fisik....Hmmm...Saya suka sama dia, dan dia suka sama saya, karena kami sama-sama berbeda. Saya perempuan, dengan segala lekuk tubuh kewanitaan yang berbeda dengan dia yang serba berotot di mana-mana. Saya lebih pendek beberapa sentimeter dari dia, dan ini menguntungkan saya. Jadi, untuk meraih barang yang ada di lemari, saya tinggal teriak, memanggil dia dan meminta tolong dengan wajah memelas. Saya juga lebih mungil dari dia. Jadi dalam keadaan terpaksa, saya bisa memanjat pagar atau menyelipkan tubuh di antara dahan pohon untuk membuka pintu dan mengambil sesuatu yang tersangkut di sana.
Ada lagi. Soal sifat dan karakter. Saya bawel dan cerewet seperti petasan banting. Sekali ngoceh, tidak bisa berhenti. Terus menerus mengalir seperti banjir. Dia (agak) pendiam. Jadi kalau saya mau mengoceh panjang lebar, dari urusan yang penting seperti urusan kenaikan harga-harga kebutuhan rumahtangga hingga urusan tidak penting tentang ‘siapa yang harus memberi makan burung dan kelinci ?”, maka dia akan menyediakan telinganya untuk mendengarkan. Sambil pura-pura budeg dan terus asyik dengan pencet-pencetan tombol remote control televisi...hehehe...
Masih ada. Soal selera makan. Hmmm...ini nih yang kadang sederhana, tapi bisa ribet urusannya. Pangeran Remote Control, doyan makan apa saja. Dari mulai buah-buahan, sayuran (terutama kuahnya), tempe, tahu hingga daging yang diproses segala macam. Kecuali ikan ! Saya nyaris sebaliknya. Tidak begitu doyan makan, tapi sangat suka ikan. Dari mulai ikan besar sekelas tuna dan cakalang, hingga ikan mini teri-teri sebesar jarum.
Urusan makanan ini akhirnya kami jadi saling bertoleransi. Saya yang semula sangat anti masuk dapur, mau tidak mau belajar untuk memasak dan menyediakan masakan yang disukai oleh Pangeran – dan belakangan ditambah anak semata wayang kami, si Cantik. Saya belajar memasak, dari yang sederhana seperti menggoreng telor mata sapi – yang pinggirnya kering keriting dan tengahnya basah setengah matang, hingga masak yang rumit seperti rendang, gulai otak sapi dan sambel goreng ati yang tidak boleh terlalu kering, dan membutuhkan bumbu dan teknik memasak yang khusus.
Saya yang semula sempat menjadi anti masakan daging apalagi jeroan, mau tidak mau terpaksa ikut mencicipi sekali-sekali. Bahkan paket opor bidadari dan lauk pauk hidangan lebaran yang komplit itupun bisa saya lakukan karena kesabaran Pangeran Remote Control mencicipi masakan saya. Mulai dari yang kurang asin, keasinan, kebanyakan bumbu dan kurang gurih sampai jadi seperti sekarang yang uenaksss dan mantaps...
Banyak lagi perbedaan di antara kami, yang membuat saya jadi menyadari, bahwa ternyata ada orang yang berbeda. Bahwa ada orang seaneh dan seunik dia. Bahwa ada orang yang bisa berpikir sangat berbeda, dan sering tidak masuk di akal saya. Bahwa ada orang yang bisa menyelesaikan masalah rumit dengan sekali jentik jari, tetapi kerepotan untuk membuka tutup kaleng atau mencari tempat yang tepat untuk menyimpan sendok dan garpu.
♥
Saya jadi termenung.
Kalau begitu banyak perbedaan, lalu apa persamaan yang membuat kami dapat bersatu dan hidup bersama selama puluhan tahun ? Yang jelas, kami punya satu persamaan mutlak, yaitu : sama-sama kepala batu !
Hahahaha...iyaaaa...Saya ini memang biangnya ngotot dan keras kepala. Suami saya juga tak kurang-kurangnya kepala batu, alias keras hati !
Tapi anehnya....dan syukurnya juga, bahwa sindrom kepala batu kami jarang kumat bersamaan. Pada saat saya ngotot, dia diam saja. Dan sebaliknya, pada saat dia ngotot, saya cuek saja...huehehehehehe....
Begitu juga, soal ide. Pada saat ide saya membanjir seperti air, dia Cuma diam. Tidak menanggapi, tidak bereaksi apa pun. Sementara kalau dia sedang berpidato panjang-panjang mengenai ide-idenya ( yang sering aneh dan out of topic), saya pun hanya diam dan mencatat. Menyimpannya di dalam hati, mana tahu besok-besok dia lupa dan menanyakannya lagi kepada saya.
Jadiiiii....kalau mau dihitung dan dijumlahkan, antara perbedaan dengan persamaan, kayaknya antara saya dan Pangeran Remote Control, memang lebih banyak perbedaannya. Sangaaat banyak ! Tapi justru itu yang menantang, itu yang mengasyikkan, itu yang tidak membosankan. Karena setiap hari selalu ada pertanyaan : Apakah besok dia masih seperti itu ?
Dan kalau ada pertanyaan : apakah kamu bosan dengan dia ? huuuuu...jelas ! Siapa yang tidak bosan hidup bersama dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, berpuluh tahun. Setiap hari ?
Justru di situ juga tantangan yang menarik ! Bagaimana saya, si Kepala Batu ini, si Manusia tidak sabaran dan petasan banting ini, bisa bertahan, bisa mengelola kebosanan menjadi keasyikan...hihihi...
Kalau dia menyenangkan setiap waktu. Kalau dia selalu menurut dan selalu seperti sebuah pola yang gampang terbaca. Maka dia bukan hanya membosankan, tetapi juga menyebalkan....hehehehe...Tapi untunglah...dia selalu berubah-ubah, sehingga ketika rasa bosan itu datang, maka saya tertantang lagi untuk menaklukkan perubahan dan keanehan yang unik itu. Barangkali, dia pun sama seperti saya. Karena saya tidak punya pola yang menetap, jadi biarpun cape...ya, dia terpaksa menerima si Kepala Batu yang suka ngeyel ini untuk menjadi mitranya...hmmmh...
♥
Perjalanan perkawinan saya pun akhirnya bergulir.
Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Tidak selalu mulus. Karena menyatukan dua orang yang sama saja pun sulit, apalagi menyatukan dua orang – plus dua keluarga besar dengan banyak budaya yang berbeda. Sulitnya lebih-lebih dari menuntut ilmu di bangku sekolah.
Kalau sekolah, kita punya tujuan dan target waktu tertentu. Kita punya prestasi yang diukur dengan nilai-nilai tertentu. Ada buku raport yang menunjukkan pencapaian yang telah kita peroleh selama menempuh pendidikan dan menuntut ilmu.
Sebuah perkawinan dan rumahtangga adalah sebuah hal yang berbeda.
Tidak ada perkawinan yang sama. Tidak ada kurikulum dan nilai yang menentukan, sebuah perkawinan sukses atau gagal. Raport merah di dalam sebuah perkawinan yang satu, barangkali masih raport hijau di perkawinan yang lain. Dan masing-masing harus menerima penilaian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bukan pihak ketiga atau keempat !
Saya menjalani sekolah perkawinan ini bersama Pangeran Remote Control. Membuat kurikulum dan target yang setiap saat berubah. Menentukan visi dan misi yang setiap saat bisa dievaluasi. Yang jelas, kami harus selalu siap menerima perubahan itu.
Itulah...sekolah perkawinan itu masih terus bergulir. Saya tidak tahu, kapan kami naik kelas, atau harus mengulang di kurikulum yang sama. Kami pun tidak tahu, kapan kami disebut sukses atau gagal. Semua adalah proses.
Perkawinan memang aneh dan unik. Itu adalah ibarat sebuah sekolah yang tak pernah selesai....Dan saya beruntung, masih berada di dalamnya bersama dengan Pangeran Remote Control, suami saya yang tercinta....
Jakarta, 30 September 2009
Untuk sebuah kebersamaan yang unik dan penuh tantangan..
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
Special note :
Terima kasih tidak terhingga untuk Guntur, My Pangeran Remote Control yang masih sabar mendampingi dan belajar bersama-sama di Sekolah Perkawinan ini...Perkawinan kita memang tidak sempurna, tapi inilah yang cocok untuk kita....hehehe...Juga buat Dhani, si Cantik kesayangan kami, yang membuat Sekolah Perkawinan kami menjadi lebih semarak dan penuh warna. Juga semua keluarga besar, yang memberi warna-warni, nilai, budaya dan menjadikan kami orang yang semakin kaya dan (mudah-mudahan) tambah bijaksana...hmmm...Oya...untuk kelinci-kelinci kami yang manja dan inspiratif, tokek di pohon yang selalu memberi tanda, dan burung-burung yang menjadi cermin kehidupan kami sehari-hari...I love U allz....
Rabu, 30 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar